Lifestyle

Urban Farming Solusi Bercocok Tanam Kekinian

Halo, Smart Ladies!

Suka dengan tanam menanam, tetapi terhalang dengan lahan yang sempit? Yuk, coba urban farming, Ladies!

Dikutip dari Google, urban farming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda di sini ada pada pelaku dan media tanamnya.

Namun, beberapa tahun belakangan urban farming tidak lagi hanya sekadar mewujudkan konsep berkebun di lahan yang terbatas, tetapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat urban di perkotaan besar.

Rumah yang berhimpit dan lahan yang sempit, kini bukan lagi menjadi penghalang untuk Ladies yang hobi bercocok tanam untuk menghijaukan lingkungan atau bahkan untuk memiliki kebun sendiri di rumah.

Lalu, apa saja yang harus Ladies siapkan untuk memulai menjadi bagian dari masyarakat urban farming ini?

Hal pertama yang harus ditentukan antara lain adalah sistem menanam apa yang akan dipakai dan yang cocok dengan kesibukan Smart Ladies.

Berikut ini akan menjabarkan sedikit tentang dua sistem urban farming yang Smart Ladies bisa coba di rumah.

  1. Sistem Tanam Konvensional

Pada sistem tanam ini Ladies menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Perlengkapan pendukung lainnya yang diperlukan selain benih tanaman adalah pot atau bisa juga barang bekas sebagai wadahnya. Misal, kaleng bekas biskuit atau bahkan menggunakan plastik bekas minyak goreng kemasan.

Untuk tanahnya, Ladies bisa membeli media tanam kemasan yang sudah lengkap komposisi nutrisinya dan bisa langsung dipakai untuk menunjang pertumbuhan tanaman Ladies.

Lalu, tanaman apa yang cocok untuk urban farming dengan sistem ini?

Pilihlah tanaman perennial, yaitu tanaman yang hijau sepanjang tahun, bisa dipanen kapan saja tanpa perlu menanam bibit dari biji lagi. Contohnya, tanaman- tanaman hias atau tanaman sayur seperti alternanthera sissoo atau bayam brazil. Tanaman ini selain cantik, bisa juga untuk dikonsumsi. Dan untuk perawatan tidaklah sulit, cukup disiram sehari dua kali dan memberikan pupuk kemasan (misal: NPK mutiara) tiga minggu sekali. Setelah panen pun, batangnya bisa kembali ditanam dengan cara memotong batang dan menyisakan dua tunas paling ujung dan kembali menananya lagi.

  1. Sistem Tanam Hidroponik

Sesuai dengan namanya, dalam sistem tanam ini Ladies menggunakan media air yang dicampur dengan nutrisi untuk tanamannya. perlengkapan yang dibutuhkan antara lain baskom atau styrofoam untuk tempat penampungan air nutrisi tanaman, beberapa netpot, rockwool untuk tempat penyemaian benih, dan beberapa kelengkapan lainnya.

Ada beberapa teknik menanam dalam sistem tanam hidroponik. Namun, teknik yang paling sederhana dalam sistem hidroponik adalah teknik sumbu (wick). Dalam teknik ini, Ladies menggunakan bantuan sumbu atau kain flanel untuk menyalurkan air nutrisi ke akar tanaman.

Pertama- tama, kita harus menyemai benih di media rockwool terlebih dahulu sampai benih tumbuh dan muncul kira- kira dua lembar daun. Lalu, bibit tanaman tersebut dipindahkan ke netpot- netpot yang sudah disusun sedemikian rupa di atas wadah air nutrisi. Ingat, akar tidak boleh menyentuh air nutrisi. Gunakan sumbu yang sudah disampirkan di dasar netpot untuk membantu air nutrisi mengalir ke akar tanaman.

Lalu, tanaman apa yang cocok untuk urban farming dengan sistem ini? Pilihlah tanaman annual atau tanaman semusim. Contohnya selada dan pakcoy.

Jadi Smart Ladies, apabila berminat dengan kegiatan urban farming, sebelum mencoba ada baiknya kita mulai dengan sistem yang paling mudah dan perlengkapan yang simple terlebih dahulu.

Jangan sampai semangat di awal membeli banyak perlengkapan dan kelengkapannya hanya berakhir dengan terbengkalai begitu saja, ya.

Selamat bercocok tanam!

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close