Tokoh Pendidik Bahasa Inggris Berawal dari Menonton Film Kartun

Film kartun biasanya dianggap hanya sebagai hal yang sia-sia tidak berguna, tetapi berbeda bagi sosok pendidik ini. Sebut saja namanya Lailin Ni’amah tokoh pendidik bahasa Inggris yang berawal dari menonton film kartun anak.

Semasa kecil, wanita kelahiran Jepara, 20 Agustus 1979, beliau sangat tertarik untuk menonton film kartun tampilan tahun 80-an. Pada zaman itu, film kartun banyak ditayangkan dengan bahasa asing alias bahasa Inggris tanpa dubbing atau terjemah.

Kesukaan beliau untuk menonton kartun tersebut mendorongnya untuk bisa memahami bahasa Inggris. Simpelnya beliau hanya ingin bisa menonton dan paham alur cerita tanpa bantuan terjemahan. Namun, sayangnya saat di sekolah dasar, beliau tidak mendapat mata pelajaran bahasa Inggris.

Beliau mulai mempelajari bahasa Inggris di tingkat SMP dan dilanjutkan di SMA. Beliau makin semangat dan ingin menguasai bahasa tersebut, tetapi keinginannya terhalang dengan biaya yang belum mencukupi untuk melanjutkan studi.

Alhamdulillah, beliau bisa kembali melanjutkan studi dengan diterima di UNNES, Universitas Negeri Semarang, lewat jalur PMDK. Memasuki perguruan tinggi dengan nilai rapor tanpa tes. Saat itu UNNES masih disebut dengan IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) Negeri Semarang pada tahun 1997.

Wanita itu mengaku belum memiliki kemampuan lebih dalam berbahasa Inggris ketika memulai kuliah, bahkan saat masih di awal kuliah tepatnya semester satu, beliau harus menerima banyak nilai C atau D. Seperti bayi yang baru mulai merangkak, beliau tidak putus asa dan terus bertahap dalam mempelajari bahasa asing itu.
Di antara proses belajar yang beliau lakukan adalah dengan banyak membaca buku, kebetulan membaca termasuk dari hal yang beliau sukai. Selain dari membaca buku, beliau juga belajar dari film, lagu, dan siaran radio.

Saat itu, bahasa Inggris masih belum banyak tersebar layaknya zaman kita sekarang sehingga untuk bisa mempelajari bahasa asing dibutuhkan keseriusan dari dalam diri dan melakukan berbagai cara untuk terus mendalaminya. Lailin Ni’amah juga tidak jarang mengambil banyak kosakata dari tulisan-tulisan yang tertulis pada kemasan makanan, sabun, dan barang-barang lainnya.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu dan segenap usaha yang dilakukan, Lailin Ni’amah berhasil mendapat kesempatan emas. Pada semester 3, 4, dan 5 beliau meraih beasiswa yang sangat membuatnya termotivasi untuk terus belajar dan berusaha keras.

Hingga akhirnya beliau lulus pada tahun 2002, kemudian lanjut bekerja di lembaga Britania, tahun 2002—2004. Tidak berhenti sampai di situ, beliau juga diterima sebagai guru bantu dan saat ini bekerja sebagai PNS sejak tahun 2009.

Beliau telah menikah dan dikaruniai dua anak, satu putra dan satu putri. Kini, beliau menjadi sosok ibu rumah tangga sembari bekerja dan menambah kegiatan baru berupa kegiatan literasi. Project kali ini adalah menulis buku Puisi Rindu dalam Hujan. Masyaallah tabarokallah.

About Ira Wendah

Ira Wendah

Check Also

Marzy Krisbiyanto, Guru Inspiratif (Foto: Koleksi pribadi Marzy K)

Marzy Krisbiyanto, Guru yang Menambah Cuan Menjadi Editor

Hai, Smart Ladies! Punya guru idola saat sekolah? Bisa, lo, dijadikan kisah yang mengesankan. Terlebih …

One comment

  1. Rachmi Rosanti

    Wooow, kereeen, Mbak Lailin.
    Keren jugak mbak penulis.
    Sukses selalu untuk mbak berdua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *