Joeragan artikel

Surat Wasiat Dubes Korea - Playing Golf at Sunset (TourMandarin/Pixabay.com)

Surat Wasiat Dubes Korea

Oleh Nita Yunsa

Indira mengambil buku dengan sampul warna biru berjudul What Every Body Is Saying karya seorang mantan agen FBI, kemudian mahasiswi Fakultas Psikologi semester tiga itu melangkah menuju meja Ervino. Dia seketika mengerutkan kening mendapati mahasiswi keturunan Korea Selatan sudah duduk di kursinya dan tampak serius berbincang dengan Ervino.

“Oh, Indira! Aku Park Na Eun teman satu fakultas hukum dengan Ervino,” ucap Na Eun saat melihat kemunculan Indira. “Aku ke sini sengaja menemui kalian berdua untuk meminta bantuan.”

Indira dan Ervino terkenal sebagai pasangan detektif sejak SMA. Terhitung sudah dua belas kasus yang berhasil mereka ungkap selama tiga tahun terakhir.

Na Eun berkata bahwa ayahnya yang merupakan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, menghilang sejak kemarin. Nomor ponselnya tidak dapat dihubungi. Dia sudah meminta bantuan polisi untuk mencari keberadaan ayahnya, tetapi Na Eun ingin pasangan detektif itu ikut membantu penyelidikan. Mereka bertiga akhirnya berangkat dari Depok menuju Jakarta untuk menyelidiki kediaman sang duta besar.

Di dalam mobil, Na Eun menjelaskan kronologis terakhir. Sang ayah selalu pergi bermain golf di hari Minggu. Terkadang dia bermain dengan para pejabat negara atau staf kedutaan. Namun kemarin, ayahnya tampak gelisah sebelum berangkat ke lapangan golf. Sejak kepergiannya itu, dia tidak kunjung pulang. Polisi terus mencari keberadaan pria itu di lapangan golf dan menyelidiki rekaman kamera CCTV, tetapi belum juga ada kabar baik.

“Kalian harus melihat surat wasiat yang ditemukan di ruang kerja Appa,” ucap Na Eun.

Sesampainya di kediaman sang duta besar, Na Eun menunjukkan surat wasiat berbahasa Korea yang membuat pasangan detektif tidak paham. Na Eun menerjemahkan bahwa isi surat itu adalah penyesalan dan permintaan maaf atas perbuatan tidak pantas yang dilakukannya hingga menjadi skandal.

“Apakah ini berhubungan dengan staf kedutaan yang mengajukan laporan pelecehan seksual terhadap Pak Dubes?” tanya Ervino mengamati surat wasiat tersebut.

“Iya … tetapi Appa bukan orang yang seperti itu! Dia sangat setia dan romantis pada Eomma,” bela Na Eun, sementara Ervino yang seorang lelaki paham bahwa pria memang pandai bersandiwara dan menutupi perselingkuhannya.

“Menurutku surat ini aneh. Kenapa Pak Dubes menulis surat wasiat menggunakan ketikan, bukan tulisan tangan?” ujar Indira.

“Kenapa aneh? Lah, orang deket sama komputer dan printer ini.” Ervino menunjuk benda yang berada di atas meja dekat rak buku.

Saat sibuk menyelidiki ruang kerja sang duta besar, ponsel Na Eun berdering. Suara dari seberang mengatakan bahwa tubuh ayahnya ditemukan mengambang di danau lapangan golf. Mereka bergegas menuju tempat tersebut, tetapi semua terlambat karena polisi mengatakan bahwa Pak Dubes sudah meninggal sejak kemarin sore dengan luka tusuk di dada.

“Apakah pisau dengan ukiran huruf P ini milik Pak Dubes?” tanya seorang polisi, lalu dijawab dengan anggukan lemah oleh Na Eun dan ibunya.

Kasus kematian Dubes Korea akhirnya ditutup karena tidak ditemukan luka kekerasan di tubuh korban. Sebaliknya, pasangan detektif itu masih merasa janggal dengan kematian tersebut.

Sementara itu, staf wanita yang pernah melaporkan pelecehan seksual tengah duduk sambil memegang berkas rahasia di kursi taman kota. Lalu, dia menukar berkas tersebut dengan sebuah koper yang dibawa seorang pria berkacamata dan mengenakan mantel hitam.

 

Indramayu, 27 Juli 2021
Penulis : Nita Yunsa

 

#ajangfikminJoeraganArtikel2021
#Day14
#TemaSangDutaBesar

Editor : Rizky Amallia Eshi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami