Surat untuk Mayasari

Hai! Ingat aku? Kita sudah lama sekali nggak ketemu. Apa kabar?

Flora

Ada email masuk dari seseorang yang bernama Flora. Flora? Aku mengernyitkan dahi sambil berpikir keras mengingat nama itu. Siapa dia? Rasanya aku mengenal nama itu, tapi di mana? Susah payah aku mengorek memori yang sudah usang di otak, barangkali masih memuat informasi tentang dia.

Flora mengirim email lagi. Kali ini dia membahas tentang tulisanku. Itu artinya, dia memang mengenalku dengan baik dan tentu saja memata-mataiku. Coba saja dipikir, bagaimana mungkin dia bisa membahas tentang tulisanku jika tidak melakukannya? Impossible kalau hanya mendengar dari cerita orang.

Kamu ternyata istikamah, ya. Salut, deh. Aku udah baca lo tulisan-tulisan kamu di blog. Bagus. Semangat berkarya, ya!

Salam, Flora.

Aku memandangi laptop yang menyala di depanku. Pikiranku melayang mencari-cari kenangan yang bertumpuk. Menyapu huruf-huruf dan angka yang bertebaran di keyboard. Membuka kembali file lama yang masih tersisa. Nihil.

Notifikasi ponselku menandakan ada pesan masuk. Kuperiksa sebentar barangkali ada berita penting. Maklum baru menunggu konfirmasi jadwal bedah buku di sebuah mal.

Ada kiriman email dari Flora.

Sudah ingat aku, May? Atau kamu betul-betul telah melupakan aku? Coba ingat baik-baik semua teman yang pernah dekat denganmu walau sebentar? Teman apa saja.

Flora

Ah, Flora. Siapakah dia? Mengapa tidak disebutkan saja identitas dirinya? Apakah dia sengaja? Aku merasa penasaran dibuatnya.

*

Hari ini, setelah berhari-hari dilanda penasaran akhirnya aku berhasil mengingatnya. Flora. Gadis bermata bulat dengan rambut lurus sebahu yang mirip artis Dian Sastro. Aku mengenalnya saat KKN dulu di Kampung Hijau.

Hai, Flo?
Kamu sekarang di mana? Ada nomor WhatsApp nggak? Punya fesbuk?

Maya

Aku jawab emailnya. Namun, aku tunggu-tunggu tidak ada jawaban.

*

Terakhir pertemuanku dengannya adalah saat ia mengirimi surat undangan pernikahan. Sayangnya aku tidak bisa datang ke acara resepsi pernikahannya karena sedang dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.

Hehe … aku senang kamu sudah mengingatku, May. Syukurlah.
Apakah kamu bisa datang ke alamatku? Ada hal penting yang harus bicarakan padamu.
Tolong, ya. Aku menunggumu dengan sangat di Jalan Asmara Blok 3C No. 7.
Terima kasih.

Flora

Baiklah. Besok sore aku berniat untuk menemui Flora di alamat yang telah ia tulis. Aku mau tahu hal penting apa yang akan dibicarakannya.

*

Di taman itu telah menunggu seorang perempuan yang duduk di bangku panjang. Di sebelahnya ada ayunan yang bargoyang-goyang seperti habis digunakan. Tiba-tiba dadaku berdesir tak karuan. Terlintas bayangan seseorang. Ah, tidak mungkin!

Perlahan kulangkahkan kaki mendekati bangku itu.

“Assalamualaikum,” sapaku pelan agak ragu. Pelan-pelan perempuan itu menoleh ke arahku. Sementara aku masih berdiri termangu menunggu hingga seluruh wajahnya menghadapku

“Waalaikumsalam,” jawabnya seraya menyunggingkan senyum yang simpatik, “Sini, duduklah di sebelahku. Terima kasih sudah datang. Maafkan aku jika membuatmu bingung, ya, May. Aku hanya menyampaikan kewajiban saja. Sebuah amanat yang harus tersampaikan padamu,” kata gadis bernama Flora itu kemudian seraya memelukku hangat.

Aku bergeming, bingung, dan tidak mengerti. Amanat apa dan dari siapa?

“Maksudnya bagaimana, Flo? Amanat apa dan dari siapa?” tanyaku mulai dikejar rasa penasaran. Flora menatapku sejenak lalu menunduk. Aku menanti penjelasannya dengan harap-harap cemas.

Tiba-tiba ia berdiri.

“Ikutlah denganku,” ajaknya seraya melangkah menuju sebuah paviliun kecil di samping taman. Aku kian penasaran.

Langkah Flora terhenti di sebuah ruangan bercat warna mauve, berukuran lima kali tujuh meter. Kesan elegan, romantis, dan tenang begitu terasa di ruang itu. Ruang yang lebih mirip galeri karena di dalamnya terdapat banyak lukisan indah dan eksotis, menurutku. Lukisan itu tertata dengan rapi dan apik. Aku takjub memandangi lukisan itu satu demi satu.

Deg! Ada sebuah lukisan yang berbeda terpajang di sana. Menurutku itu adalah lukisan yang paling unik dan menarik. Kutatap lekat-lekat detail lukisan yang menghipnotis mata dan hatiku itu. Sepertinya aku mengenal kalimat demi kalimat yang tersisip di sana. Puisi itu sangat kukenal dan tak akan pernah kulupa. Puisi yang ditulis oleh seseorang yang sekarang entah di mana.

“Maaf, jika aku tidak pernah bercerita tentang Jeff. Aku sudah terlanjur berjanji tidak akan memberitahukannya kepadamu. Oya, jangan salah paham, dia itu kakak sepupuku. Dia menitipkan ini untukmu,” ucap Flora menyodorkan sebuah amplop gambar bunga berwarna biru. Ada tulisan kecil berliuk indah, To: Mayasari. Tanganku gemetar saat menerima surat itu dan membukanya perlahan.

May, saat kaubaca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh di alam yang berbeda. Jangan bersedih tetaplah tersenyum. Aku ingin melunasi janji yang pernah terucap padamu. Masih ingat ‘kan? Kau pasti tahu betapa aku selalu merindukanmu. Apakah kau juga merindukanku? Sebenarnya, banyak cerita yang hendak kubagi bersamamu. Namun, apalah daya sepertinya Tuhan belum berkenan kita bersatu. Terima kasih atas cintamu, doaku semoga hidupmu bahagia selalu.   

Terimalah paviliun ini seperti kau menerima cintaku, saat itu. Kutitipkan hatiku di sini untukmu. Maafkan aku.

Love,
Jeffry

Aku tidak tahan lagi membaca tulisan itu. Entah perasaan apa saja yang berkecamuk di dada. Ada sakit yang menusuk-nusuk jantung dan sesak yang sangat. Jeffry, sahabat terbaik sekaligus kekasihku, yang menghilang entah ke mana. Ternyata dia menghindar dariku karena divonis leukemia. Dia tidak ingin aku menderita karenanya.

“Jeff …,” gumamku lirih hampir tak terdengar, padahal hatiku meneriakkan namanya dengan lantang.

Bandung, 16 September 2019

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment