Suara Hati

Suara Hati

Surat panggilan interview itu masih kupegang dan kubaca berulang kali karena tak percaya. Akal sehatku tidak bisa menerima informasi itu dan terus bertanya-tanya. Sungguh, hal yang berada di luar nalar dan menurutku impossible. Bagaimana bisa?

Dua hari lagi sekitar jam sembilan pagi, aku diminta datang ke kantor majalah Cantik. Aku akan diwawancarai untuk menjadi salah satu modelnya. Apakah tidak salah? Kapan aku mengajukan lamaran ke sana? Seingatku, aku tidak pernah menawarkan diri atau pun mendapatkan tawaran dari majalah tersebut terkait model. Jadi, ini betul-betul aneh.

“Kamu tuh unik. Beda, deh, dari yang lain. Coba lihat ini, gambarnya bagus-bagus, ‘kan?” Re mendukung pendapat Jose yang telah mempromosikanku ke majalah Cantik.

Aku masih diam tak beringsut dari kursi. Kutahan segumpal rasa menyiksa yang mendadak menyesakkan dada dan membuat perutku mual seketika. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat tanpa permisi.

“Kamu kenapa, sih? Diam saja dari tadi. Sakit? Lagi bad mood?” cecar Fanya seraya menyenggolkan badannya ke bahuku. Hampir saja aku terjatuh jika tidak berpegangan pada meja di depanku.

Namaku Pingkan Larasati, baru berumur tujuh belas tahun. Aku sekarang duduk di kelas XII SMA.

Tak sengaja aku hampir tercebur di dunia modelling karena ulah Jose, sahabatku. Aku mengenal dunia foto dari Jose. Dia yang sengaja menjadikan aku sebagai objek bidikannya saat mendalami ilmu fotografi. Dialah yang telah mengirimkan portofolio hasil jepretannya ke majalah itu.

Sebelumnya aku tidak pernah mengenal sekolah model atau kursus semacamnya. Aku memang senang melakukannya karena asyik saja difoto-foto. Untuk hasil yang maksimal, biasanya aku buka-buka dulu majalah untuk mencari pose yang menurutku bagus dan pas untukku. Lalu, di depan cermin aku praktikkan semua itu hingga merasa nyaman.

Begitulah, akhirnya Jose benar-benar menjadi fotografer profesional di tanah air.

“Ping! Aku diterima jadi fotografer di majalah Cantik!” teriak Jose di Minggu pagi yang berkabut. Ia berdiri di luar pagar yang terkunci melambai ke arahku yang sedang duduk di teras.

*

Aku masih ingat saat Mama menitipkan aku di rumah Nenek setiap kali ada jadwal pemotretan atau pertunjukkan. Waktu itu, aku berusia sekitar lima tahun karena selang setahun aku masuk TK kelas nol kecil. Aku selalu menangis ingin ikut Mama, tetapi tidak pernah diajaknya.

Nenek sering menasihati Mama agar meluangkan waktu untukku, tetapi Mama tidak mengindahkannya.

“Ingat, Jeng. Kamu itu seorang ibu. Coba lihat, anakmu. Apakah kamu tidak kasihan sama dia? Atur ulang jadwalmu, Nak. Kalau perlu sekali-kali bawalah Pingkan. Biar dia tahu dunia mamanya. Jangan egois, Jeng. Apalagi sampai Pingkan kamu korbankan demi ambisi,” saran dan nasihat Nenek kepada Mama. Aku menyimak percakapan mereka dengan pura-pura tidur.

“Aduh, Ibu, nggak perlu bicara begitu sama Ajeng. Ajeng ngerti, kok. Sekarang pertanyaannya, Ibu mau nggak menolong Ajeng mengasuh Pingkan? Aku sengaja pulang ke Surabaya itu tujuanku memang mau menitipkan Pingkan sama Ibu. Jangan khawatir, Bu. Ajeng yang akan menanggung biaya kehidupan Ibu dan Pingkan,” ucap Mamaku menjawab nasihat Nenek.

“Oya, Bu. Ini jadwalku sudah mulai padat. Aku tidak mungkin membawa Pingkan ke lokasi kerja. Bagaimana dengan reputasiku sebagai model yang profesional? Bisa-bisa karirku hancur gara-gara kecerobohanku membawa Pingkan. Lagi pula agency dan lainnya tidak ada yang tahu kalau aku sudah punya anak. Jadi, tolong pengertian, Ibu.” Perempuan perfeksionis yang kupanggil Mama itu memegang kedua tangan Nenek mengiba.

Aku tidak tahu bagaimana warna hatiku saat itu. Yang pasti, aku menangis sepanjang malam mengadu kepada Tuhan tentang nasibku yang tidak beruntung. Memiliki Mama yang seolah tidak mau menerima keberadaanku di dunia. Terakhir yang tidak bisa kulupakan adalah ketika Mama menengok dan mengajariku untuk memanggilnya dengan sebutan Tante. Ya, Mama memintaku untuk memanggilnya Tante Ajeng, bukan lagi Mama.

Seminggu setelah hari itu, Tante Ajeng, mamaku, tidak pernah lagi datang menjenguk. Seakan keberadaannya hilang ditelan bumi hingga sekarang. Belakangan aku baru mendapat kabar, jika ia sudah menetap di negeri Paman Sam dan menikah di sana.

Jujur, aku sangat merindukan perempuan yang melahirkanku itu. Namun, di sisi lain aku juga membencinya karena telah meninggalkanku hanya demi popularitas semata. Aku tidak berani mengatakannya kepada Nenek tentang perasaanku. Kasihan dia, di usianya yang sudah renta tidak mendapatkan kasih sayang anak gadis semata wayangnya. Sering kali aku memergoki Nenek sedang menangis menatap gambar Mama yang ada di majalah, atau pun ketika membuka lembaran album yang dikirim Mama.

*

Sudahlah. Demi Nenek yang selama ini selalu ada untukku, sepertinya aku memang tidak siap untuk menjadi seorang model beneran. Aku tidak mau menyakiti hati Nenek seperti Mama yang melupakan keluarga, ibu, dan anaknya. Mama yang mengganti kasih sayang hanya dengan nilai uang. Mama yang menghapus sejarah asal-usulnya demi ketenaran.

Maafkan aku, Jose. Aku sudah mengecewakanmu. Namun, itulah suara hatiku yang sebenarnya. Setidaknya untuk saat ini, entah nanti.

Bandung, 05 Oktober 2019

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment