Stres Menghadapi “Sibling Rivalry”? Ini Dia 4 Strateginya

Stres Menghadapi “Sibling Rivalry”? Ini Dia 4 Strateginya
Melihat anak-anak selalu bertengkar dengan saudaranya pasti bikin pusing, ya, Ladies. Walaupun begitu, Ladies tetap bisa menghadapinya dengan tenang, kok.
Sibling rivalry ini sebenarnya perkara yang bisa menjadi ruang belajar yang luas baik untuk anak maupun orang tua. Sayangnya, orang tua sering terlanjur stres dalam menghadapinya sehingga apa saja dilakukan agar mereka cepat berhenti bertengkar. Selain itu, termasuk menyuruh kakaknya mengalah, padahal bisa jadi sang kakak tersakiti hatinya karena hal ini.
Lalu, bagaimana strategi agar tidak stres dan lebih tenang dalam menghadapi sibling rivalry? Yuk, simak pemaparan berikut!

1. Ubah Cara Pandang Terhadap Konflik

Adakah manusia yang sama sekali tidak pernah berkonflik dengan orang lain? Sepertinya tidak mungkin ada, ya, Ladies. Orang dewasa pun pasti mengalami konflik dengan sesama orang dewasa. Terlebih anak-anak yang fase egosentrisnya belum hilang dan kontrol dirinya belum berkembang sempurna.
Menurut Hurlock (1993), anak yang egosentrik lebih banyak berpikir dan berbicara tentang diri sendiri daripada tentang orang lain. Selain itu, tindakannya terutama bertujuan menguntungkan dirinya. Jadi, sangat wajar jika konflik terjadi terutama terhadap anak-anak dengan jarak usia yang berdekatan.
Justru dari konflik inilah tercipta ruang belajar untuk orang tua bagaimana mengajarkan anak menghadapi konflik dengan orang lain sebagai bekal kehidupan di masa depannya. Dengan mengubah mindset terhadap konflik, menghadapi anak bertengkar menjadi lebih mudah dan tidak akan sepusing sebelumnya.

2. Buat Kesepakatan

Anak masih perlu dibantu untuk tahu batasan mana yang boleh atau tidak boleh dilakukan saat berkonflik dengan saudaranya. Untuk itu,  orang tua bisa buat kesepakatan di awal. Misalnya, boleh marah tetapi tidak boleh menyakiti fisik, seperti memukul, menendang, mencubit. Boleh marah, tetapi tidak teriak dan tidak boleh berkata kasar. Lalu, anak harus bagaimana? Anak bisa dipersilakan pergi menjauh dari saudaranya ketika marah.
Hal-hal seperti ini perlu diberitahukan ke anak supaya anak tahu bahwa yang salah itu bukan konflik, berantem, atau emosi negatifnya.  Namun, ketika amarah tidak bisa dikendalikan akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Bagaimana jika sudah diberi batasan, tetapi masih melanggar atau main fisik? Sepakati konsekuensi di awal. Misalnya, kesepakatannya kalau bertengkar sampai di luar batasan mereka akan kehilangan hak camilan di sore hari. Jika sudah terkait berantem fisik, memang harus dibantu untuk diingatkan dan dipisahkan. Anak bisa dipersilakan main sendiri dan menurunkan tensi masing-masing di ruangan yang berbeda sampai mereka mau cari solusi bagaimana caranya untuk main bersama lagi.

3. Bimbing Anak untuk Menyatakan Perasaan dan Pendapatnya

Biasanya, anak yang lebih tua sering menjadi pihak yang disalahkan dalam sibling rivalry. Akibatnya, merekalah yang wajib mengalah demi adiknya, padahal belum tentu sang kakak yang salah, sedangkan mereka juga butuh untuk dihargai perasaannya.

4. Apresiasi Saat Mereka Rukun

Dalam waktu 24 jam, tidak mungkin anak-anak selalu bertengkar, kan, Ladies? Saat mereka sedang bermain bersama dalam keadaan rukun, jangan lupa untuk mengapresiasi mereka. Begitu pula ketika mereka berbaikan kembali setelah berkonflik. Hal ini akan membuat mereka merasa senang dan diperhatikan sehingga memungkinkan meminimalisasi terjadinya sibling rivalry.
Dalam menghadapi sibling rivalry, orang tua sebaiknya melihat konflik bukan dari sudut pandang dirinya. Kondisi ini biasanya, asal menyalahkan salah satu pihak tanpa bertanya terlebih dahulu. Anak juga berhak untuk dihargai perasaan dan pendapatnya. Tugas orang tua adalah membimbing mereka dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan bagaimana pendapatnya terhadap konflik tersebut. Bantu mereka mencarikan solusi sehingga semua anak merasa puas dan tidak ada yang tersakiti.
Menghadapi sibling rivalry memang tidak mudah, tetapi Ladies bisa meminimalisasi stres dan tetap tenang saat itu terjadi. Sudah siap menjalankan strategi di atas, Ladies?
Lusia Liliyani
contributor
Seorang ibu rumah tangga dengan dua (akan tiga) balita yang ingin menebar manfaat lewat tulisan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

47 − 43 =