Sahabat Sejati [Wien Purwandini, Canva]

Sahabat Sejati

Nuna mengempaskan tubuhnya di tempat tidur. Dari wajahnya aku bisa menebak, pasti dia sedang kesal. Apalagi saat dia melemparkan tas yang dibawanya ke lantai begitu saja. Sepertinya level kekesalannya sudah cukup tinggi.

Gawainya berbunyi. Memperdengarkan lagu melankolis Ariana Grande yang berjudul POV. Sebuah nada dering yang tidak menimbulkan semangat, menurutku.

“Sudah kubilang aku nggak mau ngomongin itu lagi!” ia berkata kesal lalu mengakhiri percakapan di gawainya.

Tiba-tiba ia menatapku dan berkata, “Ini semua gara-gara kamu. Sudah kubilang aku tak bisa tanpamu. Paham gak sih!”

Huh, ingin rasanya aku mengomel panjang lebar pada gadis manja dan kolokan itu. Seenaknya saja ia menyalahkanku.

Sejak semalam Nuna memang sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan cermat. Pakaian yang akan ia kenakan, sepatu, aksesoris, juga portofolio yang sudah ia siapkan sejak lebih dari sebulan lalu. Portofolio berisi karya-karya fotografinya.

Wawancara hari ini sangat penting bagi Nuna karena ia ingin sekali magang di agen fotografi milik seorang fotografer terkenal.

Aku tahu Nuna tak bisa tanpa diriku. Akulah yang selama ini selalu mendampingi, menemani serta menjadi salah satu sahabat yang sangat ia butuhkan. Ia selalu gugup bila tak ada aku.

Nuna termangu sambil menatap keluar jendela. Kulihat bahunya terguncang pelan.

“Aku tersiksa. Aku kesakitan. Aku tak bisa berkonsentrasi saat wawancara tadi,” bisiknya sambil terisak.

Aku tahu Nuna pasti kesakitan jika tak ada aku. Apalagi di cuaca panas seperti ini.

“Kapan aku bisa normal seperti orang lain? Mengapa aku harus selalu tergantung padamu?” ia berkata tanpa mau memandangku.

Aku membiarkannya melepaskan semua kekesalan dan rasa putus asanya. Ada perasaan kasihan namun aku tak dapat berbuat apapun. Sebagai teman yang harua selalu ada didekatnya, aku bisa memahami apa yang ia rasakan.

“Ah, aku tak boleh putus asa,” gumamnya sambil bangkit, dari tidurnya lalu memandangku.

Sungguh aku sedih melihatnya saat itu. Ingin rasanya aku memeluknya agar dapat meringankan rasa sakitnya.

“Ayo kita jalan-jalan saja ke taman,” ujarnya sambil memandangku.

Di bangku taman, aku menemaninya menikmati sore. Melihat beberapa anak yang bermain dengan gembira. Ada segaris senyum di bibir Nuna yang … Ah, bibirnya. Ya,bibirnya yang membuatnya kesakitan.  Bibirnya yang membuatnya tak dapat berkonsentrasi dengan baik.  Kadang-kadang ia tak tahan dengan rasa perih yang menyiksa. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah, membuatnya sering tak percaya diri.

“Biarkan aku membantumu, Nuna,” ujarku dalam hati.

“Hei, aku selalu menyesali keadaanku. Harusnya tidak begitu. Tak apa jika aku harus bergantung padamu, ya!” Nuna berkata padaku sambil membuka penutupku, memutarku lalu memoleskanku di bibirnya.

Dan aku merasa sangat bahagia karena sebagai pelembab bibir, aku bisa membantunya mengatasi kelainan pada bibirnya yang selalu kering dan terkelupas.

Nuna tersenyum. Aku juga tersenyum. Kami berdua adalah sahabat yang saling melindungi dan menyayangi.

#eventfikminJoeraganArtikel2021
#day16
#youngadult
#akusebagaibenda

Editor : Ruvianty

About Wien Purwandini

Wien Purwandini
Ibu rumah tangga, penulis dan penyuka olahraga panahan.

Check Also

Kado Terakhir [Haryati Hs./Canva]

Kado Terakhir

 “Happy anniversary, Lena!” ucap Amar kepada Lena, sahabatku. Tangannya mengulurkan sebuah kado kepada sang pujaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *