Rekaman Dariku [snapchat_pixabay.com]

Rekaman Dariku

 

Hari itu di sebuah taman bermain, aku merekam sebuah kejadian.

 

“Adek, lagi ngapain?” tanya seorang pria asing kepada seorang gadis kecil.

 

“Lagi main pasir-pasiran, Pak.”

 

“Mama kamu di mana?” tanya pria itu lagi.

 

“Mama lagi beli ice cream,” jawab anak itu.

 

“Ayo ikut sama bapak, kita samperin mama kamu?” ajak pria itu.

 

Kulihat anak kecil itu mengangguk dan tanpa menaruh curiga mengikuti pria paruh baya itu. Dan belum sempat mereka melewati ibu anak itu, lensaku melihat pria asing langsung menarik paksa tangan sang anak dan memasukkannya ke dalam mobil.

 

Kulihat sang ibu menengok ke belakang dan ke samping, seperti sedang mencari sesuatu. Namun tak lama ibu itu terlihat kaget dan menangis karena sepertinya mulai menyadari kalo anaknya sudah tak ada di tempat semula bersamaan dengan sebuah mobil yang melintas di hadapannya.

 

Ingin aku membantu, tetapi apa daya aku tak memiliki kemampuan untuk bergerak dan mengejar layaknya manusia. Aku hanya mampu melihat dan menyimpan apa yang kulihat dengan rapi dan baik.

 

Kejadian seperti ini sebenarnya sering kali kulihat dan kusimpan dalam memori khusus. Sebelumnya sudah enam anak yang hilang, dan anak yang tadi adalah korban ketujuh. Sepertinya sampai sekarang aku belum mendengar keberhasilan Polisi menangkap pelaku, dan mungkin karena ingatanku lah, Polisi menduga pelaku orang yang sama.

 

Masih teringat jelas dalam memoriku, ciri-ciri pelaku berusia antara tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun. Dengan bantuan ingatanku, Polisi membuat sketsa pelaku dan menyebarkannya.

 

Namun, kini yang kudengar ada seorang warga yang mencurigai tetangganya karena memiliki kemiripan ciri-ciri dengan tersangka, dan petugas langsung menggerebek.

 

Brak, didobraklah pintu rumah itu karena terkunci dari dalam. Petugas polisi sangat terkejut karena di dinding rumah itu terpampang foto anak-anak yang menjadi korban penculikannya. Satu demi satu kamar diperiksa tapi tidak ada  satu anak pun yang terlihat.

 

Tiba-tiba terdengar suara minta tolong di bawah kasur tersangka. Ternyata di bawah kasur itu terdapat ruang bawah tanah yang sengaja dibuat tersangka untuk menyekap anak-anak. Satu persatu anak-anak itu dikeluarkan dari  ruang bawah.

 

Tapi batang hidung tersangka tidak terlihat di mana pun. Dia berhasil melarikan diri karena mendengar suara sirene mobil.Walaupun anak- anak  ditemukan selamat tapi kasus ini belum selesai karena tersangka belum tertangkap.

 

Berkat rekaman dari diriku aku berhasil membantu para pertugas untuk menemukan keberadaan korban penculikan dan mengungkap identitas tersangka.

 

Editor: Fitri Junita

#ajangfikminjoeraganartikel2021

 

 

 

 

 

 

About Dinar Embun Sari

Dinar Embun Sari

Check Also

Lilin Istimewa [Masbebet Christianto from Pixabay]

Lilin Istimewa

Kelas 11 IPA-4 masih sepi ketika Riri melangkah masuk. Dia membuka lagi materi tentang Einstein. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *