R e u n i

 

[Din, besok datang enggak? Geng kita pada kumpul, nih. Tinggal dirimu saja yang belum jelas.]

Kubaca dan kubiarkan pesan itu begitu saja. Tak ada hasrat untuk membalasnya.

[Ayolah. Datang, ya! Kita sudah lama enggak ketemu. Enggak kangen sama aku? Fika sama Eno juga mau ketemu.]

Pesan whatsapp dari orang yang sama itu, datang lagi. Membuat selera makan siangku mendadak hilang.

[Din, jawab dong. Tega banget cuma di-read doang. Aku salah apa?]

[Din. Ini bener kamu, kan? Bukan kloningan atau fotokopian? Kenapa chat-ku enggak pernah dibalas? Kamu marah? Sakit? Atau kenapa?

Hatiku mulai bimbang menerima dan membaca pesan-pesan yang masuk. Keraguan mengusikku.

Haruskah kujawab atau dibiarkan saja.

[Diiin …!]

Uh, resek sekali! Hampir setiap hari dia mengirim pesan via whatsapp, meski sekadar mengucapkan selamat pagi, siang, sore, malam, dan aktivitas lainnya.

***

Pagi yang berkabut menebarkan hawa dingin di halaman rumah. Aku sengaja duduk di teras depan, sambil menikmati kudapan dan secangkir kopi yang terasa pahit di tenggorokan. Sepahit cerita hidup yang kuhadapi saat ini.

Ponsel yang terselip di saku jaket jeans-ku, tiba-tiba bergetar. Ada pesan baru lagi dari orang itu.

[Tadi sudah bertemu dengan semua anak klub. Mereka nanyain kamu. Ya, aku bilang saja kamu sekarang lagi tiarap di kolong langit yang tidak terdeteksi oleh negara. Kamu menghilang begitu saja tanpa berita. Kirim pesan kek atau apa. Kamu jadi misterius gitu, sih.]

Deg! Dadaku seperti ditonjok oleh kalimat-kalimatnya. Apakah orang-orang sekitarku juga berpikir begitu? Bagaimana kalau mereka menjadi curiga dan datang ke sini? Keringat dingin mengucur membasahi baju yang kukenakan. Batinku resah.

[Din. Terserah kamu, deh. Mau dijawab atau tidak bodo amat. Aku hanya ingin berbagi cerita saja. Seperti dulu saat kita remaja, bersama membagi suka dan duka. Cuma kamu satu-satunya sahabat yang mengerti betul tentang aku. Eh, ya, ngomong-ngomong aku ini sahabat yang seperti apa sih buatmu?]

Mukaku jengah membaca kalimat demi kalimat di pesan ini. Sahabat? Apakah seorang sahabat bisa berguna dalam situasi seperti sekarang?

Mungkin ketika semua baik-baik saja dan tidak ada cela cerita, sahabat akan ikut berbahagia. Namun, saat salah satu sahabat membuat kesalahan, apakah ia masih bisa menerima persahabatan itu apa adanya?

Rasanya tidak mungkin. Biasanya, orang susah menerima dan memaafkan kesalahan itu, meskipun seorang sahabat. Bahkan cenderung menjustifikasi dan mengabadikannya sebagai sejarah hitam tanpa mau peduli apalagi mengerti.

Aku akhirnya hanya mampu menghela napas dalam dan menghempaskannya perlahan. Mencoba meredam gejolak hati yang kian suntuk.

***

[Aku kangen kamu, Din. Kamu kangen enggak sih, sama aku?]

Aku heran. Kira-kira terbuat dari apa ya, hati orang ini? Padahal sudah banyak pesannya tidak kujawab, tetapi masih saja berkirim. Rajin sekali ia menyapa, walau tidak bersambut.

Atau mungkin orang tuanya seorang petugas POS? Aku tersenyum, saat pikiran jahil ini berkelebat di angan.

[Pagi, Dinda mata bola jenaka Indonesia Raya merdeka! Sedang apa, nih? Hari Minggu begini kamu pasti jalan-jalan dengan keluarga lalu masak dan makan bareng. Benar, kan? Kamu ‘kan istri yang berbakti dan cinta suami. Ingat enggak, waktu kamu cerita kalau menikah mau jadi istri salihah?]

Meskipun kalut, aku terpaksa menyunggingkan senyum, saat membaca pesan ini. Terbayang betapa jenaka dan energiknya dia. Satu lagi yang membuatku salut padanya, ia cermin seorang sahabat yang baik.

Ada perasaan bersalah yang muncul di dasar hati. Namun, untuk apa disesali? Toh, dia tidak ada lagi di sini.

[Cerita dong tentang suami dan anak-anak kamu. Bagaimana mereka? Aku yakin, suamimu pasti seorang laki-laki saleh. Katamu kalau saleh itu ‘kan paket lengkap. Berilmu dan pasti bertanggung jawab. Benar, kan? Kamu memang selalu beruntung sejak dulu, Din. Aku iri, lo. Tunggu, ya! Hari Minggu depan, kita mau rame-rame ke rumahmu.]

Kepalaku semakin berdenyut, pusing. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Dinda, istriku. Dia sangat marah dan tersinggung saat menyadari kebohonganku, menduakannya. Puncaknya terjadi di hari Jumat sore, minggu lalu. Ketika Sonya istri siriku datang ke kantor menagih nafkah yang belum sempat kubayar. Pada saat yang sama Dinda menjemput untuk menghadiri acara reuni dengan teman SMP.

Maka terjadilah sejarah buruk dalam hidupku, saat itu. Dinda mengamuk dan menjadi kalap. Untung saja ada satpam yang membantuku.

Dinda meninggalkan rumah dan tidak kembali hingga hari ini. Tidak ada yang dibawanya kecuali sekoper dokumen dan beberapa lembar pakaian. Semua barang yang kuberi, dia kembalikan utuh. Termasuk ponsel pintar yang saat ini ada di genggamanku.

Bandung, 12 September 2019

 

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment