Perempuan Aneh

Perempuan Aneh

“Mana yang namanya Doni?!” teriak perempuan berbaju merah, dengan rok hitam panjang dan kerudung hitam berhiaskan bros kembang berwarna kuning. Pandangannya menyapu seisi kelas menyimpan kemarahan.

Kedatangannya yang tiba-tiba sangat mengejutkanku dan seisi kelas 3C yang sedang belajar. Hampir tidak berkedip, semua mata tertuju kepada perempuan itu, terdiam keheranan. Tanpa babibu perempuan itu berkeliling kelas sambil terus mengumpat.

Aku bergegas menghampiri karena perilakunya sangat mengganggu. Masuk kelas tanpa permisi, marah-marah enggak jelas, dan mengacau. Tidak bisakah bersikap santun?

“Maaf, Ibu ini siapa? Kenalkan, saya wali kelas ini,” ucapku mengulurkan tangan kanan dan menyambutnya dengan senyum. Perempuan yang berdiri berkacak pinggang itu menoleh ke arahku dan mengangguk memberiku seulas senyum angkuh. Tidak ada mimik rikuh di mukanya.

“Barangkali ada yang bisa saya bantu, Bu? Mari, silakan duduk,” ajakku menyilakannya duduk di kursi tamu tepat di depan meja guru. Aku mencoba menahan diri sekuat tenaga menyaksikan tingkahnya yang arogan dengan bersikap seramah mungkin.

“Mana, Doni?!” teriaknya, membuat anak-anak ketakutan. Aku berharap para siswa tidak terpengaruh oleh perilaku perempuan itu yang kasar.

“Ini, Bu. Di sebelah saya!” celetuk seorang anak perempuan yang ada di pojok kanan menunjuk Doni. Rupanya, Nia, yang telah menjawabnya. Perempuan aneh itu segera menghampiri Doni yang terbengong-bengong tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tampak jelas di wajahnya, ia tidak merasa melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya.

“Kamu jangan merasa sok jagoan, ya! Kamu ‘kan yang suka nakal, sama Ivan? Awas kamu! Ivan itu anak baik. Enggak mungkin berbuat macam-macam. Pasti kamu yang memulainya. Apakah karena badanmu lebih besar lalu merasa lebih hebat? Ayo, jawab!” Aku terpana dengan apa yang baru saja kulihat. Perempuan aneh itu menceracau dan menuduh Doni tanpa bukti.

Siapa, sih, perempuan itu? Mengapa dia memaki murid-muridku? Dia anggap apa keberadaanku di kelas? Pajangan atau benda mati? Siapa yang telah mengizinkan dia masuk kelas dan marah-marah? Sungguh, sikapnya tidak sopan dan tak bisa ditoleransi lagi.

Tanpa berpikir panjang, aku bergegas menghampirinya lagi. Jari telunjuknya yang menuding ke muka Doni pelan-pelan kuturunkan. Dengan tersenyum ramah, aku mencoba kembali menyapanya meskipun dalam hati aku tersinggung luar biasa.

Perempuan itu bersikeras. Ia tidak mau sedikit pun menurunkan emosi dan menuruti kata-kataku. Kemarahan sudah terlanjur menguasainya sehingga tidak bisa mengontrol diri.

“Maaf. Saya berhadapan dengan Mamah siapa, ya? Silakan duduk dulu di sana. Mari kita bicarakan baik-baik persoalan yang ada, Bu,” bujukku seraya menyilakan perempuan itu untuk kedua kalinya.

“Ini, Bu, si Doni! Anak ini harus Ibu hukum, bila perlu diskors beberapa hari agar jera. Atau dikeluarkan saja sekalian dari sekolah ini. Dia biang onar di kelas. Suka memengaruhi anak-anak lain menjadi nakal. Gara-gara Doni, anak saya jadi enggak mau sekolah dan malas belajar!” seru perempuan itu berapi-api.

“Mari, Bu. Apa pun masalahnya, kita bicarakan baik-baik,” rayuku sambil menepis perlahan jari tangannya yang terus saja menunjuk muka Doni.

“Ibu, jadi guru itu harus tegas dong. Jangan lembek begini. Atur anak-anaknya. Kalau perlu dimarahi jika mereka memang salah. Anak saya itu anak yang baik dan tidak nakal. Kenapa di-bully terus sama teman-temannya. Katanya, Donilah yang suka menyuruh,” ucapnya bersungut-sungut. Aku berusaha tidak terpancing emosi.

“Baiklah, Bu. Terima kasih sarannya. Akan tetapi, alangkah baiknya kalau kita duduk bersama untuk mengurai masalah ini. Bagaimana latar belakangnya dan mengapa bisa terjadi? Mari kita bahas bersama agar ketemu solusi yang baik untuk semuanya,” jawabku setenang mungkin. Jika saja tidak mengingat aku sedang berada di kelas di hadapan anak-anak maka sudah kubalas segala caci maki dan sumpah serapah perempuan aneh itu. Aku bersyukur, Tuhan masih menjaga lisan dan hatiku sehingga tidak terpengaruh oleh sikapnya.

“Ah, tidak perlu. Bu Guru ternyata tidak bisa bersikap tegas kepada anak-anak, terutama Doni. Kalau Doni tidak diskors atau dikeluarkan dari sekolah maka anak saya akan saya pindahkan dari sekolah ini,” ucap perempuan itu mulai mengancam. Ah, dasar perempuan yang tidak bisa dihargai. Apakah dia tidak sadar kelakuannya itu contoh yang tidak baik bagi anak-anak? Pahamkah dia bahwa anak-anak yang di kelas menyimak kata-kata dan sikapnya?

Aku memikirkan bagaimana kira-kira sikapnya ketika di rumah. Alangkah egoisnya dia. Seakan-akan merasa benar dan tidak ada kesalahan sedikit pun yang dilakukannya. Kasihan sekali yang menjadi anak-anaknya di rumah. Pasti mereka tidak nyaman karena haknya dijajah oleh ibunya. Biasanya ibu seperti itu tidak pernah merasa bersalah dan hobinya mendikte orang lain.

Mendadak aku tersadar bahwa ada sesuatu yang janggal. Setelah dipikir-pikir aku baru ingat kalau perempuan itu menyebut nama Ivan. Siapa itu, Ivan? Aku merasa tidak punya murid yang namanya Ivan. Apalagi di kelas 3C, nama itu tidak ada di daftar kelas.

Lalu, siapa perempuan itu? Siapa pula Ivan? Kugelengkan kepala menepis semua hal yang berkecamuk di kepala. Ah, dasar perempuan aneh!

“Silakan, Bu. Bila menurut keluarga Ibu itu adalah keputusan yang terbaik untuk Ivan. Saya tidak bisa mencegahnya. Tapi perlu Ibu ketahui bahwa di kelas saya ini tidak ada siswa yang bernama Ivan. Mungkin Ibu salah masuk kelas. Jika urusan Ibu di sini sudah selesai silakan tinggalkan kelas ini,” kataku menutup perdebatan.

Bandung, 03 Oktober 2019

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

titik jeha
contributor

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ 31 = 35