Joeragan artikel

Kupinang Engkau dengan Bismillah

Brakkk!

Mendadak barang-barang di atas meja berhamburan, ketika tangan kekar yang biasa merengkuhku, melepas amarahnya.

“Jangan campuri urusan pekerjaanku. Semua untuk keperluan rumah tangga kita. Tugasmu hanya mendidik Aditya menjadi anak baik bukan tukang protes.”

Lelaki tujuh tahun yang selalu merindukan sosok ayah, selalu mampu menghiburku usai pertengkaran. Bahkan malam itu, dia rela berkorban nyawa untuk ibunya.

Mimpi buruk itu masih sering menyerangku dalam kesunyian. Jarum jam sudah bergeser ke angka satu, tetapi mataku belum juga terpejam. Sambil menikmati detak jam dinding yang tak berhenti mengolah nada, aku berusaha bersyukur atas rezeki yang aku dapatkan meski heningnya malam belum bisa membalut luka yang masih menganga. “Ambillah air wudu. Inshaallah pikiranmu akan kembali segar,” pesan ibu kembali terngiang.

Perlahan aku bangkit. Aku akan berlama-lama bercengkerama dengan sang pemilik jiwa. Setidaknya, setelah mencurahkan kegundahan, aku bisa terlelap sebentar hingga azan subuh berkumandang.

Namun, pagi ini, kantuk tak kunjung datang. Aku melangkah ke kamar belakang. Lampu masih menyala. Ayah mungkin juga masih terjaga. Aku mendengar sayup-sayup alunan ayat suci Alquran. Ingin rasanya merebahkan diri di samping Ayah hingga tertidur pulas. Biasanya, Ayah akan menyudahi tadarus ketika mataku mulai terkatup. Bait-bait macapat akan segera mengantarkanku pada buaian mimpi hingga pagi menjelang dan aku terbangun di kamarku sendiri. Kini, Aditya yang lebih banyak tidur dengannya.

“Nggak bisa tidur?” Langkahku terhenti. Aku menoleh lalu menggeleng lemah. Ayah pun mengajakku berbincang menikmati sahur berdua.

“Aditya telah memilih,” ucapnya singkat, sarat makna.

Sejenak ingatanku kembali ke suatu senja. Mejikuhibiniu yang mengambang mengantar mentari kembali ke peraduan. Satu rombongan keluarga datang. Hanya seraut wajah yang kukenal dengan baik, dokter Bima. Spesialis bedah itu merawat Aditya selama berbulan-bulan. Dia bagai malaikat yang dikirim Tuhan untuk membangkitkan kami dari keterpurukan.

“Saya memang belum mengenal Asri dengan baik. Namun, saya tahu lebih banyak dari caranya menyayangi dan mendidik Aditya.” Bima mengutarakan maksudnya dengan singkat setelah mengenalkan ayah, ibu, nenek dan saudaranya. Ini terlalu cepat. Aku tak langsung menolak. Aku meminta waktu untuk berpikir agar tak salah mengambil keputusan.

“Kamu berhak bahagia. Andai aku bisa menjadi teman pelepas resahmu, izinkan aku meminangmu dengan bismillah.” Ucapan dokter Bima yang lembut kembali menggema di gendang telingaku. Malam itu pertemuan terakhir setelah Aditya dinyatakan sehat. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal. Acapkali dokter Bima harus disibukkan mencari psikiater pendamping tatkala polisi berulang kali datang menemui Aditya untuk meminta keterangan.

“Ibu boleh menikah dengan Om Bima. Satu syaratnya, Om Bima tidak boleh membuat ibu menangis, seperti yang ayah telah lakukan.” Rasa sakit karena tikaman pisau dapur yang melukai hatinya sepertinya terobati oleh lamaran. Persahabatan yang terjalin dengan dokter Bima dalam masa penyembuhan membuatnya lebih dewasa.

 

#ajangfikminjoeraganartikel2021

#Day2

#lamaran

Editor: Fitri Junita

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami