K a r m a

K a r m a

Kupandangi seraut wajah lelah yang bersanding di sebelah kiriku dengan seksama. Kedua matanya yang terpejam bergerak-gerak gelisah. Alis yang tergaris rapi, hidung mancung, dan rahang yang kokoh membuat tanganku tergerak untuk membelainya dengan kasih sayang.

Ada keharuan yang menyelinap di dada saat mendengar kajian pagi di televisi tentang ujian kesabaran oleh Ustaz Somad. Tausiah yang dipaparkannya seakan menyindir keadaanku sekarang, ketika roda kehidupan berputar ke bawah. Allah sedang menguji suamiku dengan memberinya kesusahan. Usaha yang dirintisnya selama tujuh tahun silam tidak berkembang seperti harapan dan aku tidak bisa membantu, selain doa dan kasih sayang.

Sebenarnya, ada beberapa alternatif solusi yang bisa dipilih. Salah satunya adalah mencari pinjaman uang untuk back up modal usaha. Namun, aku dan suami memutuskan untuk tidak terlibat urusan hutang piutang dengan bank manapun karena termasuk riba, Ya Allah, kira-kira siapakah yang bersedia membantu suamiku dengan memberi pinjaman tanpa bunga?

Setelah melalui diskusi kecil, akhirnya diputuskan untuk minta tolong kepada Kak Pram, kakak tertua Bang Andi, suamiku. Berdasarkan berita dari keluarga besar Bang Andi, Kak Pram baru saja menerima uang hasil penjualan salah satu rumahnya. Semoga upaya ini berhasil, meskipun harus merelakan sertifikat rumah sebagai jaminan, misalnya.

Namun, apa yang terjadi? Sekali lagi harapan hanya tinggal harapan. Kenyataan yang kuhadapi bersama Bang Andi tidak selaras dengan indahnya angan-angan. Peristiwa pahit yang kualami tadi siang di rumah Kak Pram masih segar diingatan. Kesan itu belum hilang hingga sekarang.

“Kak, saat ini usahaku sedang membutuhkan back up dana. Bagaimana kalau aku pinjam uang ke Kakak untuk keperluan itu? Tidak banyak kok hanya sepuluh juta. Kakak tidak perlu khawatir, sertifikat rumahku boleh disimpan Kak Pram sebagai jaminan,” ujar Bang Andi meyakinkan Kak Pram. Mendadak muka Kak Pram berubah sedih. Ada mendung menggayut di sorot matanya. Kepalanya menunduk sambil menghela napas dalam.

“Waduh, Ndi. Sori. Kakak tidak punya uang segitu,” jawab Kak Pram pelan. Aku dan Bang Andi saling memandang penuh arti. Apakah tidak salah dengar? Kak Pram baru saja bilang tidak punya uang. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Aku dan Bang Andi tahu persis kalau Kak Pram baru saja menerima uang hasil penjualan salah satu rumahnya seharga 500 juta. Lantas, uang itu ke mana? Ah, rasanya janggal.

“Maaf, Kak. Bukannya Kakak baru menjual rumah di Jalan Bali dan sudah laku 500 juta?” tanya Bang Andi hati-hati meskipun dadanya berselimut emosi.

Kak Pram tidak segera menjawab. Dihelanya napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ekspresi wajahnya menandakan ada beban yang mengganggunya, entah apa.

“Oh, iya. Memang benar dua hari yang lalu rumah itu sudah terjual dan uangnya juga sudah diterima. Akan tetapi, uang itu tadi pagi sudah kakak serahkan ke Asih. Aku terlanjur janji kepadanya. Coba kalau tadi malam atau sebelumnya kalian bilang ke kakak, paling tidak kakak bisa menyisihkannya buat kalian,” papar Kak Pram dengan muka yang murung. Tergambar jelas ketidak nyamanannya ketika menjelaskan.

Aku melirik Bang Andi yang tertunduk. Aku sangat tahu apa yang ada di hatinya. Dia kecewa. Bukan hanya Bang Andi, tetapi aku juga kecewa. Harapan itu telah hilang. Namun, bagaimana lagi?

“Maafkan, ya, Dik. Kakak tidak bisa membantu. Tapi tidak ada salahnya kalian mencoba bicara pada Asih, barangkali dia mau memberi pinjaman itu. Aku juga akan berusaha membujuknya,” ucap Kak Pram memberi saran. Aku dan Bang Andi mengangguk mengiyakan usulnya.

Aku dan Bang Andi segera ke teras belakang untuk menemui istri muda Kak Pram itu. Perempuan berusia tiga puluh sembilan tahun yang enerjik dan menarik. Kami semua mengerti siapa dan bagaimana Kak Asih. Namun, tidak ada salahnya mencoba.

“Bagaimana, Kak? Apakah kami bisa meminjam sepuluh juta saja? Kami sangat berharap Kakak mau meminjamkannya,” ucapku setengah memohon setelah menjelaskan permasalahan yang sedang kami hadapi.

Perempuan itu tersenyum simpul sambil membolak-balikkan sertifikat rumah yang kusodorkan. Senyum yang melecehkan dan meremehkan. Ya Allah, ampuni kami. Andai saja aku dan Bang Andi tidak membutuhkan uang itu, tidak mau rasanya merendahkan diri seperti ini.

“Bagaimana, ya? Maaf, aku nggak bisa menolong kalian. Uang itu untuk mencukupi keperluanku dan keluargaku yang tidak sedikit. Lagi pula, uang itu akan aku depositokan besok. Jadi, tidak mungkin aku pinjamkan kepada kalian,” ujarnya dingin tanpa empati sedikit pun.

“Hanya sepuluh juta, Kak. Kan masih ada banyak uang dari Kak Pram!” sahut Bang Andi ngotot. Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika tidak kucegah. Dengan langkah gontai, aku segera mengajak Bang Andi pulang.

Aku tidak enak hati menyaksikan semuanya. Perempuan itu memang benar-benar tidak punya hati. Entah apa yang tersirat di hatinya, sungguh tidak dapat kumengerti. Ya sudahlah, kami pasrahkan saja kepada Allah segala sesuatunya. Hanya Dia yang paling tahu apa yang terbaik buat kami. Aku yakin, Allah juga yang akan mencukupi semua kebutuhanku dan Bang Andi.

*

Pagi masih buta ketika Bang Andi menyampaikan kabar itu ke telingaku.

“Dik, Kak Asih dirampok kemarin waktu pergi ke bank. Sekarang di rumah sakit.”

Bandung, 27 September 2019

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

titik jeha
contributor

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

28 − = 19