Jajanan Penggoda

“Bu Indah, Bu Nara, ini untuk kalian berdua. Semoga makin semangat,” ucap Bu Wina sambil meletakkan dua gelas es kelapa. Paduan sirop warna merah muda, daging kelapa putih, dan beberapa butir es batu yang segar menggoda kerongkongan mereka berdua. Mendiskusikan proposal penelitian tentang kepunahan Bahasa Dayak cukup menguras energi.

“Boleh juga,” batin Bu Nara menjawab girang. Bu Indah memainkan bola matanya ke arah Bu Nara seolah meminta pendapat.

“Dalam rangka apa ini, Bu Wina? Tiba-tiba dapat rezeki es kelapa, di siang hari gini.”

“Ada banyak buah kelapa di halaman belakang rumah. Kemarin Bu Kepsek pesan, sekalian saya buatkan es degan buat kalian.”

Setelah Bu Indah dan Bu Nara berterima kasih, Bu Wina segera pergi.

Keesokan pagi, Bu Nara menunggu Bu Indah di pojok baca sesuai kesepakatan. Setumpuk buku dan jurnal bahan literatur penelitian sudah disiapkan.

“Ini saya bawakan lopis dan jeruk hangat,” ucap Bu Wina yang tiba-tiba datang, lalu duduk di hadapan Bu Nara.

“Aduh, jadi merepotkan.”

“Nggak apa-apa. Sedikit aja buat teman diskusi kalian nanti. Mana Bu Indah?”

Katanya agak telat, Bu. Pagi ini mau mengantar berkas guru berprestasi ke dinas. Apa tadi nggak ketemu di ruang guru?” tanya Bu Nara bingung.

Sudah beberapa bulan mempersiapkan bahan penelitian, tetapi baru minggu ini Bu Wina sering menemui mereka saat diskusi.

“Bu Nara kan cerdas, seharusnya Ibu yang mewakili lomba. Bu Indah kurang cekatan menurutku. Apalagi penampilannya, masih kalah dengan Bu Nara.”

“Bu Nara sudah lama nunggu?” Tiba-tiba Bu Mita datang terburu-buru.

“Belum, Bu. Ada apa, ya?”

“Tunggu di dalam perpustakaan aja dulu, ya. Bu Indah minta saya datang ke dinas.”

Lho, kenapa, Bu?” Bu Nara mulai khawatir.

“Tidak apa-apa. Saya diminta ikut menghadiri presentasi seleksi guru berprestasi. Nanti jam 9 juga sudah selesai. Katanya 20 menit saja.”

“Iya, Bu. Saya ke perpustakaan sekarang.” Bu Nara segera mengemasi buku lalu melangkah menuju ruang yang bersebelahan dengan taman baca. Bu Nara memilih meja baca bagian samping. Selain sinarnya cukup terang, angin dari luar lebih segar daripada kipas angin. “Hemat energi,” batinnya.

“Ini laporan Bu Nara? Banyak sekali. Coba saya diikutkan kelompok penelitian, Bu!” Bu Wina sibuk memeriksa setumpuk laporan bersampul hijau dengan logo dinas pendidikan memenuhi meja.

“Berapa biaya penelitian begini? Kalau saya dibawa bisa saya yang membiayai.” Bu Nara mencoba menahan senyum melihat Bu Wina terdiam menemukan nama Bu Indah tertera di semua sampul laporan.

“Bisa kan? Ya, itung-itung buat simpanan naik pangkat nanti. Masalah cemilan nanti saya siapkan.” Sebungkus keripik pisang disodorkan ke depan Bu Nara.

“Assalamualaikum …”

“Alaikumsalam …” Bu Nara dan Bu Wina menjawab bersamaan.

“Wah, selamat ya Bu Indah dapat juara di gupres. Memang patut dibanggakan.” Tak lama Bu Wina undur diri setelah menjanjikan acara syukuran.

“Ini masih ada sesajen buat kita lanjut diskusi.” Bu Nara menyorongkan lopis dan keripik singkong dari Bu Wina kepada Bu Indah.

 

#ajangfikminJoeraganArtikel2021

#day4

#tema_penjilat

Editor: Fitri Junita

About Isna Indriati

Isna Indriati
Setiap hal itu unik. Senyumlah sebagai tanda syukur atas setiap kekurangan dan kelebihan yang diberikan Allah kepada kita

Check Also

Hilangnya Kucing di Rumah Kosong (Tilgnerpictures/Pixabay dan Canva)

Hilangnya Kucing di Rumah Kosong

  Cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat, tatkala Rania, gadis berusia dua belas tahun, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *