3 Kesalahan Pebisnis Pemula dalam Mengelola Keuangan

Halo, Smart Ladies!

Seorang pebisnis pemula memang harus berjuang mengatasi banyak tantangan. Terkadang, untuk memulai sebuah bisnis, pebisnis harus mengelola semua hal sendirian karena belum ada karyawan yang membantu.
Kegiatan produksi, manajemen, keuangan, hingga penjualan dikelola sendiri. Pebisnis mengawali bisnisnya dengan memutar otak untuk mengembangkan usaha. Namun, tak jarang, pebisnis kurang memahami pengelolaan keuangan dengan baik sehingga bisa menyebabkan kebangkrutan.

Berikut 3 kesalahan pebisnis pemula dalam pengelolaan keuangan.



1. Manajemen Satu Kantong



Dalam manajemen satu kantong, keuangan rumah tangga dan usaha digabung menjadi satu. Pemisahan antara uang untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha tidak dilakukan sehingga menyebabkan kemacetan dalam pembelian bahan baku usaha karena uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Uang tunai yang seharusnya digunakan untuk menjalankan usaha digunakan untuk membayar sekolah atau kebutuhan rumah tangga lainnya.

Terganggunya usaha karena tidak ada bahan baku atau barang dagangan tentu akan menghambat laju usaha. Lambatnya laju usaha itu jika dibiarkan terus akan menyebabkan bisnis lemah dan mati tak berdaya.



2. Menganggap Besarnya Omzet sebagai Besarnya Usaha



Besarnya omzet memang berpengaruh pada kemajuan usaha. Namun, pebisnis pemula kadang lupa bahwa omzet berbeda dengan laba usaha. Di dalam omzet usaha, masih ada biaya tambahan, seperti biaya produksi, listrik, tenaga kerja, pemasaran, dan lain sebagainya yang terkandung di dalam barang.

Biaya-biaya tersebut jika tidak dihitung secara cermat akan menyebabkan laba usaha semakin mengecil, padahal laba usaha itulah yang sesungguhnya sebagai keuntungan dari perusahaan. Omzet yang besar melenakan pebisnis yang menganggap bisnisnya sudah besar. Kelemahan itu akan memengaruhi usaha yang dijalankan.



3. Pencatatan Keuangan Berantakan


Transaksi keuangan masih ditulis seadanya. Uang masuk dan keluar tidak dicatat secara rutin sehingga pada akhir bulan atau akhir tahun tidak bisa terlihat berapa laba usaha yang dijalankan.

Laba usaha yang tak terlihat tentu akan memengaruhi laju usaha karena pebisnis tidak bisa menentukan langkah-langkah untuk memajukan usahanya. Evaluasi dan pengembangannya tidak dapat dilakukan karena tidak ada pencatatan dan data yang tersedia.

Nah Ladies, mulai sekarang tata kembali keuangannya agar usaha semakin maju pesat, ya! Semoga bermanfaat.

Yutaka Latifah

Provokator Kebaikan, inisiator Sedekah Nasi Rombongan Purbalingga, Penulis, Relawan, dan Abdi negara
Yutaka Latifah

Related posts

Leave a Comment