Kisah Cinta “Prince Charming” Musala

Jazakillahu khayr ya, Ukhti . Catatannya rapi, enak dibaca.” Kuulurkan sebuah buku catatan bersampul rapi dari balik hijab.

Fajazakallahu khayr.” Terdengar suara balasan pemilik buku yang kupinjam dari balik hijab.

“Setahu ana, tulisan antum juga rapi, kok. Makanya, lain kali jangan bolos lagi. Jadi, enggak perlu repot mencatat dari buku orang lain,” lanjutnya menasehatiku.

“Jadi, keberatan nih, buku catatannya ana pinjam?” tanyaku lirih seraya menebak-nebak ekspresi akhwat yang sedang berbicara denganku, di balik hijab musala kampus kami.

Terdengar suara napas yang dihela agak keras, lalu sepi. Apa akhwat itu mengabaikan pertanyaanku? Tanyaku dalam hati.

“Baiklah, ini yang terakhir. Next, ana enggak akan pinjam buku catatan anti lagi. Afwan ya, sudah merepotkan.” Dengan berat hati kuucapkan kata-kata tadi.

Sayup-sayup kudengar tawa ringan dari balik hijab yang membatasi.

“Duh, ditegur begitu aja langsung ngambek. Tafadhol, Akhi kalo memang perlu pinjam lagi. Ana cuma enggak suka aja lihat antum keseringan bolos di jamnya Pak Suhadi, memangnya kenapa, sih?” Akhwat itu kembali berkata-kata, dan setiap terdengar suaranya mengalun di telingaku, selalu saja hati ini jadi deg-degan dibuatnya.

“Hm, gimana ya, jelasinnya? … Ana enggak nyangka juga sih, bakal selalu bentrok aksi atau kadang rapat redaksi di jam kuliah bapak yang satu itu,” jawabku jujur apa adanya.

“Lain kali diatur yang rapi, dong, Akhi jadwal kegiatan organisasinya. Kuliahnya jangan di nomor duakan melulu, kapan mau beresnya? Ini sudah masuk tahun keempat, loh. Kuliah kan amanah juga dari orang tua.” Kembali junior manis yang juga teman seperjuangan di rohis kampusku ini mengingatkan.

Khoyron, Ukhti … insyaallah, syukron ya, tausiyahnya,” balasku dengan suara yang ditekan serendah mungkin.

Khawatir buncahan kebahagiaan dalam hatiku terbaca olehnya. Iya, aku senang sekali mendapat perhatian oleh salihah cantik yang sudah lama mencuri hatiku ini. Dia mungkin tidak menyadari ketertarikanku padanya sejak beberapa tahun terakhir ini. Aku memang selalu berusaha menjaga sikap, baik kepadanya maupun teman akhwat yang lain. Sungguh,  aku tak ingin membuatnya jadi salah paham, kemudian menjauh dariku.

Bagaimanapun kami adalah rekan dakwah, mengondisikan hati itu penting agar kelurusan niat berjuang di jalan Allah senantiasa terjaga.

Tak terbilang, entah berapa ratus kali sudah aku beristigfar manakala keindahan dirinya menari-nari di kepalaku. Tutur katanya yang halus, langkah kaki berikut gerakannya yang gemulai dan anggun … Astaghfirullah… ghadurbashor, Anderpati Mahendra! Tundukan pandanganmu! Hardikku pada diriku sendiri.

Kuakui, pesona Rumaysha Zahrawein benar-benar telah membuatku jatuh hati. Sejak awal berjumpa di teras musala kampus ketika ia menjalani ospek dulu, aku sudah merasa ada getaran yang lain setiap kali dia ada dekatku.

“Ana pamit dulu ya, Akhi. Sudah enggak ada lagi yang perlu dibicarakan kan, ya?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Oh, eh, ya … Hm, enggak ada sih cuma, hm … mau ingetin sore nanti, jangan lupa kajian khusus anggota redaksi bersama pembina, on time, ya!”

Aku mengingatkannya lagi. Kemudian, kami saling mengucap salam dan berpisah, sebelum masing-masing melafazkan doa kafaratul majelis di dalam hati.


Musala terasa agak lengang, hanya ada beberapa mahasiswa yang memilih rehat sejenak bakda Zuhur sambil menanti jam kuliah berikutnya, dan aku salah satunya. Dari ruang sekretariat yang berbatasan langsung dengan batas suci musala, aku melihat Jaka yang sedari tadi nyengir-nyengir masam ke arahku. Aku beranjak meninggalkan hijab dan menghampiri ketua lembaga dakwah kampus yang juga seniorku di redaksi itu.

“Ente ngapain ngobrol asyik berduaan sama akhwat pake lama gitu?” tanyanya to the point.

“Lama apaan, cuma mulangin buku aja, kok, antum suuzan aja bawaannya,” tuduhku seraya menepuk bahunya menutupi rasa gugup.

“Habisnya sering, sih. Emangnya ente enggak sadar ya, kalau banyak adik-adik rohis yang merhatiin?” Aku melongo mendengar pertanyaannya.

“Masa sih, Akhi? … Duh, ana jadi enggak enak, nih,” balasku balik bertanya.

Jaka balas menepuk bahuku, senyum merekah di bibirnya.


“Ente suka sama Ukhti Aysha, ya?” tanyanya sambil memainkan kedua alis matanya menggodaku. Pipiku memanas, jujur, agak malu hati mendengar pertanyaannya yang mengusik sudut hati.

Rasanya sangat aneh, jika ada yang tidak menyukai Aysha. Gadis ini tidak hanya cantik secara fisik, akhlaknya pun sangat indah. Haji Shalih, ayahnya adalah pimpinan salah satu pondok pesantren ternama di kotaku. Ibunya juga salah satu ustazah pengajar di sana.

Terakhir kudengar, Aysha akan menjalani taaruf dengan salah seorang ustaz muda di pondok ayahnya. Namun, rumor yang mengatakan Aysha memiliki seorang pria pujaan hati di luar negeri jauh lebih mengganggu pikiranku. Info yang kudengar, lelaki muda itu adalah anak tetangganya yang berbeda keyakinan. Perihal yang satu ini, hatiku bersorak. Tentu aku yang muslim sejati ini lebih unggul darinya. Haji Shalih sangat tegas, tanpa mengucapkan dua kalimat syahadat lelaki itu mustahil dapat menyentuhnya.

“Kalau ente serius sama dia, temui ayahnya sebelum terlambat. Jangan pakai alasan masih kuliah, basi banget itu alasan!” Saran Jaka, seraya menatap serius ke arahku.

Aku menunduk, jangan tanya keseriusanku. Tentu saja hatiku yang selalu gelisah di dekatnya ini, menginginkannya lebih dari yang orang lain tahu.

***

Aku sudah memantapkan hati akan menjumpai Haji Shalih malam ini. Magrib nanti, aku berencana untuk salat di masjid dekat rumahnya. Aku sengaja tidak memberitahu beliau lebih dulu tentang rencana kedatanganku, tapi sebelumnya aku telah wanti-wanti menanyakan kepada Aysha apakah ayahnya ada di rumah selepas Magrib di hari yang kurencanakan. Aysha juga tidak kuberitahu tentang niat baikku ini.

Sejujurnya, aku terlalu gugup. Namun aku yakin, kedekatan dan hubungan baikku dengan Aysha di kampus cukup menjadi alasanku diterima sebagai pendamping hidupnya. Aku juga berpenghasilan, meski masih berstatus magang di redaksi surat kabar di kotaku. Tidak ada cela pada keluarga besarku, nilai akademis pun cukup membanggakan. Tak ada yang salah dariku, tak ada yang kurang dari pemuda yang diakui banyak gadis sebagai prince charming di musala kampus ini.

Mantap kumelangkah memasuki teras masjid ketika azan Magrib dikumandangkan oleh Muazin. Haji Shalih memimpin salat seperti biasa, tetapi ada yang tidak biasa saat ibadah salat Magrib selesai dilaksanakan. Kembali Haji Shalih meraih mikrofon dan meminta jemaah tetap berada di tempatnya.

“Saya mohon, para jamaah berkenan menyaksikan pernikahan putri saya bakda Magrib ini!” tegasnya.

Terdengar riuh sesaat, orang-orang mulai bertanya-tanya memastikan apa yang baru saja mereka dengar, termasuk aku yang sontak berdebar mendengar permintaan lelaki tua karismatik itu. Selanjutnya, seorang pemuda jangkung bermata sipit yang sedari tadi berdiri di samping Haji Shalih, kini duduk bersila di hadapan beliau. Jantungku berdetak lebih kencang. Dapat kurasakan darahku berdesir ketika mendengar ia mengucapkan ijab kabul dengan lantang.

“Saya terima, nikahnya Rumaysha Zahrawein binti Shalih dengan mas kawin sebuah cincin berlian dibayar tunai!”

Diikuti sahutan para jamaah yang menggema mengucapkan kata ‘sah’ secara serempak, benar-benar melemahkan kakiku seketika. Kukepal erat kedua telapak tangan hingga buku-buku jari memutih, gertakan gigiku lirih terdengar. Tak kusangka, si anak tetangga telah menjadi seorang mualaf, aku terlambat! Laa hawlaa walaakuwata illa billah.

Related posts

Leave a Comment