Pertunangan Nana

Nana berdiri di depan pintu kedatangan Bandara Ngurah Rai. Hari ini, Sulaiman akan datang lagi ke Bali dan saat ini khusus ditujukan buat Nana.

Kantor Sulaiman yang berada di Luxemburg biasanya hanya mengizinkan cuti maksimal selama tiga minggu. Namun kali ini, Sulaiman mendapatkan dispensasi karena dia akan melamar Nana. Pengajuan cutinya satu bulan penuh telah disetujui.

Saat melihat Sulaiman, senyum Nana mengembang. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau lelaki itu akan melamarnya.

Sulaiman memang pernah bertanya saat mereka sedang video call melalui skype, tentang tata cara lamaran di keluarga Nana.
Tetapi saat itu Sulaiman sedang membicarakan tentang adiknya yang sedang merencanakan pesta pertunangan.

Mobil jemputan membawa mereka menuju hotel tempat Sulaiman menginap. Tempat yang sama ketika pertama kali dia menginap di Bali. Hotel ini milik bos Nana karena itulah Nana sering bertugas di sana.

Walaupun bertemu hampir setiap hari, Nana tetap mengambil cuti selama dua minggu untuk menemani Sulaiman.

Kesempatan ini dipakai Sulaiman untuk mengajak Nana membeli cincin pertunangan. Nana sangat terkejut karena mereka baru menjalin hubungan selama kurang dari satu tahun itupun long distance relationship.

Are you serious? We barely knew each other,” ungkap Nana keheranan. 

Sulaiman tidak menyerah, dia sudah tahu, kalau di Indonesia, pihak pria harus datang ke orang tua calon pengantin wanita.

Maka Sulaiman pun datang menemui ibu Nana yang juga tinggal di Bali.

“I want to marry your daughter, I am in love with her,” ujar Sulaiman tanpa ragu sedikit pun. 

Ibu Nana, yang hanya beberapa kali bertemu dengan Sulaiman, terkejut dengan lamaran yang datang secara tiba-tiba. Apalagi Sulaiman sendiri, tanpa ditemani keluarga. Memang demikian cara orang asing melamar, tanpa melalui keluarga seperti di Indonesia.

Karena Nana belum bisa memutuskan apakah menerima lamaran itu atau tidak, Sulaiman pun datang kembali ke Indonesia untuk membuktikan keseriusannya. Kemudian dia mengajak Nana untuk mengunjungi negara asalnya. Setelah bertemu dengan keluarga Sulaiman, barulah Nana menerima pinangan lelaki itu.

Mereka langsung menyelenggarakan pesta pertunangan secara sederhana, dihadiri teman-teman dekat Sulaiman. Pria asal Jerman yang bernama asli Steven itu tidak ingin menunda pesta, khawatir keputusan Nana berubah.

***selesai***

 

 

Natasha Panjaitan-Karg

Latest posts by Natasha Panjaitan-Karg (see all)

Related posts

Leave a Comment