Jerat Asmara

Titik Jeha

Wajah Gina tampak murung dan gelisah. Perempuan itu sedari tadi mondar-mandir di kamar yang berukuran empat meter kali empat meter dengan kedua tangan bersedekap di dada.

Berulang kali matanya menatap ponsel yang dibiarkan tergeletak di kasur. Dia seperti sedang menunggu seseorang menghubungi.

Sejak pagi Gina telah menelepon Hadi, kekasihnya. Gina tak kuat menahan rindu. Dia ingin segera bersama, bercanda, dan berkasih mesra. 

Hadi berjanji akan datang jam sembilan. Tetapi, hingga sekarang lelaki itu belum juga datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Gina.

Sudah seminggu Gina tidak bertemu dengan Hadi. Biasanya mereka sering menghabiskan waktu bersama, paling lama hanya tiga hari.

Mendadak ponsel itu berdering nyaring. Gina segera menyambar dengan cepat.

“Halo, Sayang!” sapa pemilik suara di seberang sana.

“Iya, halo! Hadi, Sayang, cepatlah!” jawab Gina agak kesal.

“Iya, sabarlah sebentar, Cintaku. Coba sekarang buka pintu,” sahut Hadi mesra.

Gina segera melangkah membuka pintu kamar dan menyambut lelaki yang dipanggilnya Hadi itu dengan senyum mengembang.

“Kenapa lama sekali?” tanya Gina manja seraya memeluk Hadi dengan penuh kerinduan.

Hadi membalas pelukan tubuh sintal Gina dengan penuh gairah.

“Maaf, Ginaku Sayang. Jalanan macet,” bisik Hadi pelan di telinga Gina, menggoda.

Dia beri satu kecupan kecil di bibir Gina yang  merekah menunggu. Gina mendesah, lalu memagut bibir Hadi yang telah membangkitkan gelora di dada. 

Kejantanan Hadi terusik. Gejolak jiwa Hadi telah merengkuh Gina dalam pergumulan cinta membara. Gina pasrah dirasuk pijar api asmara yang membakar birahi. Perempuan itu melenguh manja menanti tetesan embun yang dapat menghilangkan dahaga.

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berdering. Mereka seketika tersentak. Aliran darah yang berpacu memancar, mendadak terhenti. Gina tergopoh-gopoh mengangkat ponselnya yang terjatuh di lantai.

“Halo, Ma. Papa pulang. Tolong buka pintu pagarnya, ya, Sayang. Terkunci, nih.”

Suara lelaki itu menampar Gina dan Hadi.

Bandung, 22 Januari 2019

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment