Jerat Asmara

Titik Jeha Wajah Gina tampak murung dan gelisah. Perempuan itu sedari tadi mondar-mandir di kamar yang berukuran empat meter kali empat meter dengan kedua tangan bersedekap di dada. Berulang kali matanya menatap ponsel yang dibiarkan tergeletak di kasur. Dia seperti sedang menunggu seseorang menghubungi. Sejak pagi Gina telah menelepon Hadi, kekasihnya. Gina tak kuat menahan rindu. Dia ingin segera bersama, bercanda, dan berkasih mesra.  Hadi berjanji akan datang jam sembilan. Tetapi, hingga sekarang lelaki itu belum juga datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Waktu terasa berjalan…

Duka di Hati Laras

Titik Jeha [Lang, jemput aku jam 7. Kita harus ketemu.] [Oke, Sayang. Tunggu aku, ya!] Tepat jam tujuh, Galang sudah datang menjemput. Mereka segera pergi setelah minta izin kepada ayah Laras. “Laras, katakan ada masalah apa. Mudah-mudahan aku bisa membantumu. Lihatlah, wajah cantikmu jadi tampak kuyu,” ucap Galang membelai Laras dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba Laras memeluk tubuh kekasihnya itu dengan erat. Badannya menggigil, gemetar, keringat dingin mengucur deras. Mukanya memucat. Tangis yang ia tahan sedari tadi, pecah. Galang kaget dan bingung. Pemuda itu tidak menyangka kalau Laras akan menangis.…

Tragedi Potong Rambut

Etika Amatusholiha Siang itu Qudink menghampiri emaknya yang sedang  berada di dapur. “Mih, rambut Qudink, kok keriting amat, ya? Padahal rambut Mamih kagak.” “Hmm … ,” Emak menjawab singkat sambil mengulek sambel. “Turunan dari mana, Mih?” tanya Qudink penasaran. “Babeh elu, lah. Masa iya tetangga, Dink!” Qudink berjalan ke ruang tamu dan mengambil salah satu foto hitam putih yang terpajang di dinding lalu menghampiri emaknya lagi di dapur. “Mih, ini foto papih, ya?” tunjuk Qudink pada sebuah wajah yang ada di foto itu kepada emaknya. Emak melihat sepintas lalu melanjutkan…

D I L E M A

Titik Jeha Minah menyeka peluh yang mulai menetes. Senyum kecil yang manis tersungging di sudut bibir. Kelegaan terpancar dari sorot matanya yang berbinar.  Beberapa pekerjaan rumah sudah terselesaikan. Dia sudah memasak, menyiapkan makan, dan mencuci perkakas yang kotor. Tak lupa bersih-bersih rumah, mencuci baju, menyetrika, serta menatanya. Pekerjaan yang menantinya adalah intruksi Amir, suaminya. Ibarat peluru yang ditembakkan dari senapan, Minah harus siap siaga melayani Amir hingga menjelang tidur malam. Minah sadar, rutinitas harian itu tidak bisa dia tinggalkan, kecuali ditunda sementara. Itu pun dengan konsekuensi pekerjaan menjadi menumpuk bahkan…