I Still Love You

I Still Love You

Hampir seminggu Zia merasakan ada hal aneh pada Arga, suaminya. Ada sesuatu yang berbeda, tetapi ia sulit untuk menerjemahkannya. Batinnya terus bertanya-tanya mencari jawaban.

Ditatapnya lekat-lekat wajah oval berahang kokoh yang sedang asyik membaca majalah otomotif di sampingnya. Ia menangkap sinyal-sinyal samar dan mengatakan sesuatu yang tidak biasa, tetapi apaaa?

Lelaki yang telah mendampingi Zia berumah tangga selama tujuh tahun itu, sepertinya tidak sadar kalau sedang diperhatikan. Ia sama sekali tidak terganggu dan tampak makin asyik membaca majalah.

Perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Jauh di lubuk hatinya, Zia merasa terusik, tetapi belum menemukan apa-apa. Ditepisnya segala prasangka buruk yang muncul dan mencoba mengganggunya.

“Tumben jam segini belum berangkat ke kantor, Pa? Libur, ya?” tanya Zia agak heran. Diliriknya jam yang menempel di dinding ruang makan, jarum pendeknya menunjuk angka sembilan sedangkan jarum panjangnya di angka tujuh.

Arga menoleh sebentar ke arah Zia lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. Terbaca di raut wajahnya bahwa ia sedang berpikir. Entah apa yang dipikirkannya.

Diambilnya cangkir antik berisi kopi hitam yang tersuguh di meja dan diminumnya perlahan.

“Sebentar lagi, kok. Jam sepuluhan. Aku ada urusan ke Samsat mau mencari informasi pembayaran pajak. Lagi pula aku sudah izin kantor,” jawab Arga datar dan terdengar aneh. Zia berpikir sejenak untuk mencerna jawaban suaminya.

“Setahuku, urusan pajak kendaraan sudah bisa online, lo. Kalau nggak salah ada portal Samsat Online. Mau nyoba?” sahut perempuan pencinta lagu-lagu pop itu menyodorkan ponselnya.

Arga menatap Zia sejenak. Terbaca jelas di wajahnya ketidaksukaan terhadap apa yang dilakukan Zia. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.

Tiba-tiba gawai Arga berdering, ada telepon masuk. Zia melihat sekilas ke layarnya, nama Doni tertera di sana. Doni teman kantor Arga. Diangkatnya gawai itu, lalu berjalan keluar ruangan menuju teras depan.

Zia memandangi gerak-gerik Arga secara detail sejak suaminya itu duduk, membaca majalah, hingga menerima telepon. Ada yang di luar kebiasaan. Sejak kapan Arga menerima telepon menjauh darinya?

Meskipun begitu, perempuan yang belum dikaruniai keturunan itu membuang jauh-jauh pikiran negatif yang mencoba menyerangnya. Barangkali memang benar-benar urusan yang penting sehingga ia tidak boleh mendengarnya.

Selesai bertelepon, Arga masuk kembali ke ruang tengah. Mimik Arga tampak semringah dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.

“Ada apa dengan Doni, Pa? Kayaknya kabar yang menyenangkan, ya?” tanya Zia penasaran melihat perubahan sikap suaminya. Dia berharap agar Arga mau memberinya penjelasan.

“Nggak, kenapa-kenapa, kok. Kabar biasa dari kantor. Aku tadi sudah pesan kepadanya untuk selalu memberi kabar. Oke, aku berangkat sekarang, ya,” jawab Arga sambil mencium kening Zia. Terdengar nada dering yang sama saat Doni menelepon dari ponsel Arga.

“Biarkan saja. Paling Doni mau memberi kabar lagi. Sudah, ya. Assalamualaikum,” ucap Arga seraya melangkah menuju mobilnya yang sudah standby di depan rumah.

Zia tersenyum mengantarkan Arga. Tangan kanannya melambai menemani lelaki itu mengendarai Toyota Yaris merah menyusuri jalanan.

*

Pagi ini Arga tampak tergesa-gesa berangkat ke kantor. Ia hanya sempat minum air putih hangat dan makan sepotong sandwich. Itu pun, ia lakukan sambil berjalan.

Zia tidak berani menanyakan apa-apa pada Arga karena takut terjadi salah paham. Untung segala perlengkapan ke kantor sudah ia siapkan sebelumnya sehingga Arga bisa langsung berangkat tanpa mencari-cari lagi. Perempuan itu merasa lega saat Arga sudah meninggalkan rumah, walaupun dengan terburu-buru.

Tiba-tiba terdengar dering telepon yang tidak asing di telinga Zia. Nada dering telepon itu mengingatkan Zia pada Doni teman kantor Arga. Ya, Doni.

Seketika, perempuan itu terlonjak karena menyadari gawai Arga tertinggal di rumah. Hal ini terjadi akibat Arga  terburu-buru pergi. Segera Zia cari gawai itu dengan mencari asal suara deringnya.

Rupanya gawai itu terselip di kasur. Entah bagaimana benda itu bisa di sana, yang penting sudah ketemu. Zia pun bersiap-siap untuk mengantarkan gawai ke kantor Arga. Kasihan Arga, pasti ia mencarinya.

Nada dering lagunya The Overtunes “I Still Love You” itu berbunyi lagi ketika Zia sedang mematut diri di cermin. Berdering berkali-kali seakan memanggil Zia untuk menerimanya. Disambarnya benda itu dengan cepat untuk menjawab. Mungkin ada kabar penting dari Doni atau bisa jadi Arga yang menelepon meminjam ponsel Doni.

“Halo, Arga Sayang. Ngapain aja, sih? Di telepon dari tadi, kok, enggak dijawab. Jadi kan menjemputku? Aku masih kangen, nih. Katanya kamu mau cuti tiga hari untuk aku. Kapan?” Terdengar suara manja seorang perempuan di seberang sana.

Zia merasa aliran darahnya berhenti seketika. Untung dia cepat sadar berpegangan nakas di sebelahnya. Suara perempuan itu memanggil-manggil nama Arga.

“Arga Sayang, kamu sambil kerja, ya? Kok, diam saja. Nggak pa-pa deh. Aku temani, ya. Aku sengaja nggak video call biar bisa menemani kamu, Sayang. Oya, istri kamu belum tahu tentang kita, kan? Nanti sajalah, kalau anak kita sudah lahir. Aku nggak pa-pa dengan status istri siri seperti sekarang. Asal kamu tetap sayang dan cinta sama aku. Aku rela, kok, Ar. Demi cinta kita. Kamu harus buktikan seperti janjimu waktu SMA dulu.”

Tiba-tiba Zia merasa dunia di sekitarnya berputar-putar dan gelap gulita.

Bandung, 30 September 2019

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment