Joeragan artikel

Hilangnya Sebuah Dendam

‘Mengapa Bude sejahat itu? Apakah tidak ada sedikit pun rasa kasih sayangnya kepada Ajeng yang kini yatim piatu?’ Pikiranku melayang ke mana-mana, mencari jawaban atas teka-teki yang memenuhi kepala.

“Rin, bagaimana menurutmu? Kita harus membela Ajeng atau Bude?” tanyaku pada Rindu kembaranku. Gadis itu hanya mengangkat bahu dan menghela napas dalam.

“Jadi bingung, ya. Di satu sisi Bude Sri, di sisi lain Ajeng,” kataku sambil melipat baju-baju yang baru saja kuangkat dari jemuran.

Ajeng adalah anak tiri Bude Sri, putri tunggal Pakde Arya dengan istrinya yang pertama, yang lebih dulu meninggal. Sementara pernikahan mereka tidak mempunyai keturunan. Bude Sri punya satu anak perempuan juga dari suaminya yang terdahulu.

Sejak meninggal ayahnya, Ajeng dan Bude Sri tidak pernah akur. Mereka berseteru masalah warisan hingga ke pengadilan. Aku sebenarnya kasihan pada Ajeng yang sekarang digugat Bude Sri gara-gara rumah utama menjadi milik Ajeng.

“Terus kita bagaimana ya, Rin?” tanyaku serius. Aku memang bingung harus bagaimana bersikap kepada Ajeng. Karena statusku dan Rindu adalah keponakan Bude Sri bukan dari Pakde Arya.

“Rinda, Rindu! Sini, bantu Bude membersihkan ruang tengah. Disapu dulu yang bersih lalu dipel, ya!” perintah Bude Sri dari dapur dengan berteriak.

“Baik, Bude!” jawabku dengan berteriak pula agar terdengar oleh Bude.

***

Belum genap tiga bulan sepeninggal Pakde Arya, Bude Sri sudah dua kali mengadakan pesta di rumah Ajeng. Pertama acara ulang tahunnya sendiri dan kedua ulang tahun anaknya, Anti. Hal yang tidak sepantasnya dilakukan Bude.

Aku dan Rindu tinggal serumah dengan mereka karena kemauan Ayah Ajeng yang dermawan. Kami berdua diharapkan bisa mengakrabkan hubungan Ajeng dan Anti. Kebetulan Ajeng satu sekolah dan setingkat denganku juga Rindu. Kami memang sebaya dan teman bermain sejak kecil jauh sebelum Bude menikah dengan Ayah Ajeng. Sedangkan Anti, setahun lebih muda dari kami.

“Jeng, maafkan Bude Sri, ya,” ucapku spontan saat menemaninya belanja sayur pagi itu. Ajeng tersenyum.

“Kenapa Bude nggak suka sama aku, ya, Rin? Aku salah apa, sih? Apakah aku jahat?” tanya Ajeng berhenti tiba-tiba. Matanya yang bulat menatapku gelisah.

“Entahlah, Jeng. Aku tidak tahu kenapa Bude begitu membencimu. Padahal kamu anak yang baik. Kasihan kamu,” jelas Rindu.

“Lalu, Anti. Kenapa ia juga ikut membenciku, padahal aku sudah menganggapnya saudara sendiri,” ucap Ajeng dengan muka tertunduk.

“Maafkan kami, ya, Jeng. Sungguh, kami berdua tidak tahu alasan mereka tidak menyukaimu. Akan tetapi kamu jangan sedih, kami berdua menyayangimu, Jeng. Percayalah,” paparku meyakinkan Ajeng yang sedang galau.

***

Kini Bude Sri tak bisa berbuat jahat lagi. Sudah seminggu ini, ia terbaring tak berdaya. Badannya lemah tergolek di kasur karena lumpuh akibat jatuh dari tangga. Ia terpeleset saat mengejar Ajeng yang lari karena dipukuli.

Perempuan berusia empat puluh lima tahun itu tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain bicara. Itu pun terbata-bata dan tak jelas. Kata dokter ada syaraf wicaranya yang terganggu.

Aku sedih sekaligus terharu melihat keadaan Bude Sri yang dirawat Ajeng dengan telaten. Sementara Anti, anak kandung yang ia bangga-banggakan pergi entah ke mana.

Gadis itu meninggalkan rumah sejak tahu ibunya sakit dan lumpuh. Bukan itu saja, Anti juga telah menjual motor Ajeng untuk foya-foya. Untung saja masih ada motor kami yang bisa digunakan untuk ke sana ke mari.

“Ajeng, apakah kamu tidak sakit hati pada Bude Sri? Bukankah dia selalu ingin mencelakai kamu?” tanyaku pada Ajeng sehabis menyuapi Bude di suatu pagi.

“Pernah, Rin. Namanya juga manusia yang pastinya memiliki kekurangan. Namun, untuk apa rasa sakit hati dipelihara lama-lama. Rugi,” jawab Ajeng menjelaskan.

“Bagaimana dengan Anti, Jeng? Dia ‘kan sering nyusahin kamu? Aku merasa malu sebagai saudara sepupu langsungnya,” ucapku sambil tersenyum kecut.

“Anti tetap aku anggap sebagai saudaraku. Kasihan dia. Semoga suatu hari nanti dia sadar dan pulang ke rumah sebagai keluarga,” tutur Ajeng dengan tulus.

Dalam hati aku salut terhadap pilihan sikap Ajeng yang bijak. Sebuah pilihan yang tidak biasa dilakukan oleh gadis seumurannya. Meskipun masih muda gadis itu tampak dewasa.

Andai saja hubungan mereka baik-baik saja sejak dulu dan Bude Sri bisa menjadi ibu yang baik, pasti hidup mereka tidak susah seperti sekarang.

Semua ini berawal dari keserakahan Bude Sri yang ingin menguasai seluruh harta milik Pakde Arya. Padahal sebagai istri, dia sudah mendapatkan haknya secara adil. Begitu juga Anti. Walaupun dia hanya anak tiri, tetapi Ayah Ajeng memberinya bagian.

“Sudahlah, Rin. Nggak usah dirisaukan lagi. Buang jauh-jauh dendam yang bersemayam di dada. Tugas kita sekarang adalah merawat dan mendoakan Bude Sri agar pulih kembali,” kata Ajeng seraya menyelimuti Bude dengan hati-hati.

Kulihat ada buliran bening yang mengalir dari kedua mata Bude Sri yang terpejam. Dalam hati aku berharap semoga Bude Sri menyadari kesalahannya selama ini.

Bandung, 20 September 2019

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami