T a n i a

Tania [pixabay.com]

Bruk! Suara tumpukan buku yang ambruk bergema di ruangan itu. Spontan aku menoleh ke arah sumber suara yang ada, persis di samping kiriku. Waduh, ternyata aku telah bersenggolan dengan seseorang yang menyebabkannya hilang keseimbangan dan menubruk tumpukan buku yang akan dibereskan. Aku bersyukur karena pagi itu belum banyak pengunjung yang datang di perpustakaan kota yang sedang kukunjungi. Jadi, tidak menyita perhatian banyak orang di sana. Kulihat seorang gadis berkaca mata sedang jongkok membereskan buku-buku yang bertebaran di lantai. Kasihan, akibat dari kecerobohanku yang berjalan sambil membaca pesan di WhatsApp dia…

Untuk Ayah

Untuk Ayah [pixabay.com]

Maafkan aku, Ayah. Bukan aku membenci atau tidak menyukaimu. Sungguh, hati ini merasa bimbang karena terjebak pada sebuah kubangan perasaan yang aku sendiri tidak paham. Perasaan membingungkan yang selama ini membelenggu batin dan pikiran, sekaligus menghantuiku melangkah menjalani lakon kehidupan. Aku tahu, engkau adalah ayah yang menyebabkan aku ada. Awal keberadaanku di dunia dan kehidupan yang aku jalani hingga sekarang. Ayah, yang di dalam tubuhku mengalir darahnya sebagai tanda garis nasab yang ditakdirkan Tuhan. Akan tetapi, mengapa ikatan batin ini terasa berjarak? Selama hampir tiga puluh tahun aku bagaikan berada…

Sekat Cinta

“Kamu enggak kangen padaku, ya?” tanyamu pelan setengah berbisik seraya melempar kerling jenaka yang menggoda. Ada semburat merah di kedua pipimu, walau sedikit berkabut. Aku tak segera menjawab karena ingin menikmati desir indah yang mengalir dari dasar hati. “Hei! Ditanya kok diam saja malah senyam-senyum. Jawab dong, Fris.” Suaramu mulai terdengar parau bagai pita kaset yang usang karena sudah diputar ulang dalam waktu lama. Aku tahu, sebenarnya kamu pun menyembunyikan gejolak perasaan yang tiba-tiba menyerang. Kubaca dari guratan di wajahmu ada selaksa keraguan yang menyelimuti. Ya, tentu saja. Kita telah…

Aliya

Aliya

Aku harus bagaimana lagi menyikapinya? Rasanya segala daya upaya sudah kukerahkan untuk membuatnya bisa berpikir rasional. Setidaknya, mau menerima kenyataan hidupnya dengan lapang dada. Perasaan marah, jengkel, geregetan, dan kasihan bercampur aduk menjadi satu. Aliya, adik semata wayangku yang tersayang. Perempuan keibuan yang hatinya mungkin terbuat dari sutra. Seiring usia yang terus bertambah, sifat lembutnya makin tampak nyata. Sering aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku mampu bersikap seperti dia? Ah, rasanya tidak mungkin. Dia adalah wanita yang luar biasa, lembut, pemaaf, dan baik hati. Aku suka menyebutnya “manusia positif”…

Suara Hati

Suara Hati

Surat panggilan interview itu masih kupegang dan kubaca berulang kali karena tak percaya. Akal sehatku tidak bisa menerima informasi itu dan terus bertanya-tanya. Sungguh, hal yang berada di luar nalar dan menurutku impossible. Bagaimana bisa? Dua hari lagi sekitar jam sembilan pagi, aku diminta datang ke kantor majalah Cantik. Aku akan diwawancarai untuk menjadi salah satu modelnya. Apakah tidak salah? Kapan aku mengajukan lamaran ke sana? Seingatku, aku tidak pernah menawarkan diri atau pun mendapatkan tawaran dari majalah tersebut terkait model. Jadi, ini betul-betul aneh. “Kamu tuh unik. Beda, deh,…

I Still Love You

I Still Love You

Hampir seminggu Zia merasakan ada hal aneh pada Arga, suaminya. Ada sesuatu yang berbeda, tetapi ia sulit untuk menerjemahkannya. Batinnya terus bertanya-tanya mencari jawaban. Ditatapnya lekat-lekat wajah oval berahang kokoh yang sedang asyik membaca majalah otomotif di sampingnya. Ia menangkap sinyal-sinyal samar dan mengatakan sesuatu yang tidak biasa, tetapi apaaa? Lelaki yang telah mendampingi Zia berumah tangga selama tujuh tahun itu, sepertinya tidak sadar kalau sedang diperhatikan. Ia sama sekali tidak terganggu dan tampak makin asyik membaca majalah. Perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu menghirup udara dalam-dalam dan mengembuskannya…

Surat untuk Mayasari

Hai! Ingat aku? Kita sudah lama sekali nggak ketemu. Apa kabar? Flora Ada email masuk dari seseorang yang bernama Flora. Flora? Aku mengernyitkan dahi sambil berpikir keras mengingat nama itu. Siapa dia? Rasanya aku mengenal nama itu, tapi di mana? Susah payah aku mengorek memori yang sudah usang di otak, barangkali masih memuat informasi tentang dia. Flora mengirim email lagi. Kali ini dia membahas tentang tulisanku. Itu artinya, dia memang mengenalku dengan baik dan tentu saja memata-mataiku. Coba saja dipikir, bagaimana mungkin dia bisa membahas tentang tulisanku jika tidak melakukannya?…