Joeragan artikel

Fenomena ‘Phubbing’ dan Peran Orang Tua untuk Meminimalisasi Dampak Buruk

Halo, Smart Ladies!

Phubbing secara makna merupakan perilaku seseorang yang lebih fokus dan mengutamakan ponsel daripada lawan bicaranya saat interaksi sosial berlangsung (offline)Phubbing berasal dari kata phone dan snubbing, yang secara sederhana diartikan sebagai perilaku yang menyakiti lawan bicara dengan menggunakan ponsel secara berlebihan.

Apakah ini merupakan penyimpangan yang telah terjadi dalam tatanan masyarakat kita ketika melakukan interaksi sosial?

Dampak Phubbing dalam Bersosialisasi

Tidak dapat dimungkiri lagi bahwa jika perilaku phubbing sering terjadi saat kita bertatap muka dengan para karib, kerabat, teman-teman, kolega, atau siapa pun, sebenarnya hal tersebut menjadi gangguan dalam berkomunikasi  dan anomali dalam kehidupan masyarakat khususnya saat interaksi berlangsung. Namun, kita tidak dapat menutup mata, perilaku phubbing sudah umum terjadi di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, muncullah ungkapan satire, dengan adanya kemajuan teknologi bukannya mempererat hubungan manusia satu sama lainnya, malah seakan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Perilaku phubbing sekarang ini sudah menjadi salah satu budaya yang lumrah, apalagi di perkotaan, masyarakat urban khususnya. Perilaku ini tampaknya selaras dengan karakteritik masyarakat perkotaan yang makin individualis. Yang mana setiap individu satu dengan lainnya bersikap tidak memedulikan tingkah laku sesamanya sebab mempunyai kesibukan masing-masing. Walaupun masyarakat di perkotaan secara fisik tinggal berdekatan, seperti tinggal dalam satu kompleks perumahan, satu kantor, atau satu komunitas, tetapi secara interaksi sosial terasa berjauhan, apalagi ditambah dengan perilaku phubbing.

Lantas, bagaimana sebenarnya hubungan antara perilaku phubbing dengan budaya individualis masyarakat perkotaan serta pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, dalam hal ini smartphone?

Dengan adanya perkembangan teknologi dan penggunaan internet yang makin pesat dalam dua dekade ini, memunculkan media baru (new media), yakni smartphone atau ponsel pintar.

Melalui karakteristik sebagai media baru, ponsel pintar dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap penggunanya dalam berkomunikasi dan dapat melakukan berbagai kegiatan, hanya dengan menggunakan internet.

Pengaruh positif bagi pengguna smartphone, yakni: memudahkan penggunanya dalam melakukan banyak hal. Bentuk smartphone  yang praktis dengan fungsi yang beragam menjadikannya sebagai perangkat untuk mempermudah hidup seseorang. Kita dengan leluasa melakukan berbagai kegiatan secara daring, mulai dari berinteraksi melalui media sosial, menelepon, mendengarkan musik, membaca buku digital, belanja, reservasi hotel, atau pesawat secara daring dalam satu waktu.

Sementara pengaruh negatif dalam kemudahan menggunakan smartphone  dalam interaksi sosial ialah perilaku phubbing yang sudah menjadi sebuah fenomena, bahkan menjadi salah satu budaya baru juga ditengah masyarakat perkotaan khususnya.

Pada akhirnya, fenomena perilaku phubbing ini mampu mengubah cara interaksi sosial yang lazimnya dilakukan selama ini, yakni interaksi yang dilakukan secara dua arah dengan melibatkan seluruh indra menjadi komunikasi satu arah. Yang mana seseorang lebih mengutamakan komunikasi secara lisan dan bertatap muka dengan lawan bicara. Jika dikaji lebih jauh lagi, komunikasi dapat kita kaitkan dengan budaya masyarakat yang masih memegang kuat nilai-nilai, norma, pranata sosial, dan tata krama di dalam sebuah hubungan berdasarkan pada sikap saling menghargai saat terlibat pembicaraan.

Namun, sangat disayangkan perilaku phubbing tidak serta merta dapat dihindari dengan mudah sebab angka kebutuhan akan smartphone  sangat tinggi di tengah masyarakat perkotaan. Salah satu faktornya ialah harga smartphone  yang makin terjangkau oleh berbagai kalangan. Menurut sejumlah literatur, pengguna smartphone dan internet terbesar di Indonesia paling banyak pada kalangan remaja usia 16 hingga 21 tahun dibanding kalangan usia lainnya. Pada umumnya, mereka menggunakan smartphone untuk berkomunikasi, bermain gim, dan mengakses internet untuk membuka media sosial, mencari informasi, hingga belanja daring.

Tahukah Ladies bahwa berkomunikasi menggunakan media sosial melalui smartphone dapat menjerat penggunanya menjadi ketergantungan. Orang yang ketergantungan dengan internet dan smartphone masuk ke dalam kategori kecanduan. Tidak sedikit hasil riset mengatakan bahwa para pengguna smartphone yang kecanduan mengalami beragam gangguan di berbagai lini kehidupan. Misalnya bidang akademis, hubungan hangat dengan keluarga, hubungan sosial teman, serta hubungan dalam pekerjaan.

Kondisi demikian memicu timbulnya fenomena perilaku phubbing yang menjadikan penggunanya tidak bisa lepas dari perangkat smartphone miliknya. Kecanduan tersebut pada akhirnya memengaruhi kehidupan sosial mereka serta cara berkomunikasi yang seharusnya.

Perilaku phubbing mampu membuat orang menjadi tidak lagi merasa segan atau risih jika harus disibukkan dengan smartphone dalam berbagai kondisi dan situasi. Misalnya ketika berada dalam suatu interaksi sosial yang umum, seperti suasana makan bersama keluarga, berada di sebuah tempat ibadah. dan sebagainya. Tersebab mereka sudah sangat terikat dan kecanduan smartphone-nya yang berisi segala fitur yang dianggap jauh lebih menarik daripada berinteraksi dengan lawan bicara dan membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Gangguan Akibat dari Perilaku Phubbing

Jika perilaku phubbing secara terus-menerus terjadi dalam suatu interaksi sosial, bagaimana komunikasi akan terjalin efektif?

Mari kita simak gangguan apa saja sebagai akibat dari perilaku phubbing ini:

1. Gangguan Kesehatan Fisik dan Psikis

Pertama, gangguan secara fisik. Menurut teori komunikasi, salah satu indikator komunikasi yang efektif adalah adanya kesamaan pemaknaan antara pengirim dan penerima pesan, tanpa gangguan. Dampak negatifnya ketika seseorang  yang mengunakan smartphone secara berlebihan saat berada dalam sebuah interaksi sosial, akan mengalami short attention span atau gangguan pemusatan perhatian.

Kedua, gangguan kesehatan secara psikis. Hal ini tidak menutup kemungkinan dalam jangka panjang akan mengakibatkan gangguan kesehatan psikis seperti tidak bisa lepas dari smartphone atau lebih dikenal dengan istilah nomophobia (no mobile phone phobia).

2. Gangguan dalam Kehidupan Sosial

Perilaku phubbing jika terjadi secara terus-menerus akan mengakibatkan individu menjadi terisolasi dan terasing dari lingkungannya. Kondisi demikian menjadikan individu yang merasa terisolasi akan melampiaskan perasaannya ke media sosial. Dengan demikian, tidak heran jika saat ini banyak dijumpai kasus kriminalitas diakibatkan penggunaan media sosial sebagai media katarsis masalah privasi.

Menyikapi banyaknya dampak negatif akibat fenomena perilaku phubbing, berbagai kampanye sosial telah mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan phubbing di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, gerakan stop phubbing ini dapat dimulai dari lingkungan masyarakat terkecil, yakni keluarga.

Keluarga yang berada di perkotaan, penggunaan smartphone sudah menjadi kebutuhan rutinitas keseharian. Mulai dari ayah, ibu, dan anak-anak, semua mengunakan smartphone dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, perilaku phubbing menjadi tidak terelakkan dengan kebiasaan penggunaan smartphone dalam keseharian keluarga di masyarakat urban.

Apa yang Menjadi Motif Seseorang Berperilaku Phubbing ini?

  1. Untuk menjauhkan lawan bicaranya secara sengaja karena individu merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan.
  2. Merasa bosan dan lebih memilih mencari keseruan melalui penggunaan smartphone.
  3. Kesibukan yang teramat banyak yang melibatkan interaksi dengan pihak yang terpisah jarak secara fisik.
  4. Merupakan perilaku imitasi hasil adopsi dari lingkungan sekitar.
  5. Merefleksikan diri sebagai hasil identifikasi atau pengamatan dari figur yang diidolakan.

Meminimalisasi Dampak Phubbing

Lalu, bagaimana cara meminimalisasi dampak negatif agar perilaku phubbing di kalangan keluarga masyarakat perkotaan?

  1. Melalui peran aktif orang tua untuk menjadi parental mediation bagi anak dalam penggunaan smartphone. Konsep ini awalnya digunakan sebagai istilah pendampingan anak-anak oleh orang tua saat mereka menonton televisi. Seperti misalnya, pengetahuan dan pemahaman terkait frekuensi, durasi penggunaan smartphone, situs-situs yang sering dikunjungi, teman dunia maya dari anak-anak mereka.
  2. Orang tua perlu menjadi role model yang baik bagi anak-anak. Perilaku phubbing yang dilakukan anak-anak, salah satunya dilatarbelakangi adanya perilaku imitasi (meniru), yakni perilaku yang dilakukan atau dicontohkan lingkungan sekitarnya. Orang tua sebagai agen sosialisasi pertama bagi anak memegang peranan penting menanamkan bahwa pentingnya menghormati pihak lain ketika sedang berinteraksi sosial. Dengan demikian, harapan ke depannya, perilaku bijak dalam penggunaan smartphone dapat kita mulai dari keluarga, lingkungan terkecil seorang anak. Selain itu, perilaku bijak akan menjadi kebiasaan baik yang akan ditularkan di lingkungan masyarakat.

Seorang psikolog, Emma Seppala dari Universitas Stanford dan Yale dan penulis dari Happiness Track mengatakan bahwa kaum perempuan dan orang dewasa yang lebih tua memiliki reaksi yang lebih kuat terhadap phubbing daripada kaum pria dan kalangan anak remaja. Ada beberapa orang merasa frustrasi oleh teman atau anggota keluarganya yang melakukan phubbing sebab mereka terpaku pada ponsel pintar saja, saat ia mencoba melakukan percakapan yang bermakna. Padahal sejatinya, kita hidup di dunia yang jenuh secara digital sehingga memengaruhi hubungan kita baik secara daring maupun luring.

3 Kiat Jitu Meminimalisasi Perilaku Phubbing

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai masyarat yang umumnya selalu menggenggam smartphone untuk meminimalisasi  terjadinya perilaku phubbing dan mampu menciptakan hubungan sosial yang normal?

Setidaknya inilah 3 kiat jitu meminimalisasi perilaku phubbing, tetapi kita masih tetap mengikuti tren teknologi terbaru, aktif di media sosial, menggunakan ponsel untuk mengelola kalender. Namun, yang paling penting, kita tetap memberikan perhatian dan rasa hormat kepada orang-orang di lingkungan sekitar.

  1. Bijaksana menentukan zona bebas gadget. Mari dedikasikan waktu atau acara yang mana semua orang dalam keluarga meninggalkan perangkat mereka. Tinggalkan ponsel atau tablet di ruangan lain sehingga kita tidak tergoda untuk senantiasa mengintip media sosial atau sekedar membaca pesan-pesan saat menghabiskan waktu dengan orang lain.
  1. Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting. Tidak semua notifikasi dari smartphone harus kita ketahui saat itu juga.
  1. Disiplin dalam hal mengatur waktu menggunakan gadget.

Kunci utama dari segala tentang upaya meminimalkan terjadinya perilaku phubbing ini, yakni ketika kita mampu dengan sadar mengatur waktu dengan baik dan mengatur skala prioritas dalam berinteraksi sosial. Ada batas waktu yang ditentukan kapan harus berinteraksi melalui smartphone dan kapan pula harus berinteraksi dengan orang lain tanpa gadget.

Semoga bermanfaat yaa..

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami