Joeragan artikel

Anabel, The Last Masterpiece

Anabel tak tahu harus mengadu kepada siapa. Dalam tubuhnya hidup ribuan akar. Mereka tumbuh merambat di dalam perut Anabel, menembus jantung, sampai akhirnya menjulang di kepalanya.

Ketika masih kecil, Anabel pernah merasakan sakit di bagian perutnya setelah menelan sebuah biji. Tubuhnya menggigil. Ia demam sepanjang malam. Takut ibunya marah kalau tahu bijinya ia curi. Anabel terpaksa menyembunyikan sakitnya.

“Argh!” Anabel mengerang kesakitan. Usianya beranjak remaja ketika ia terkejut mendapati otot-otot perutnya mengeras. Ada yang aneh di dalam dirinya. Anabel takut terjadi sesuatu dengan dirinya.

“Isabel, aku merasakan sesuatu di dalam perutku. Rasanya sangat tidak nyaman. Aku mengalami kram berulang kali. Maukah kau memeriksanya?” Terpaksa ia mengadu kepada ibunya. Namun, Isabel tak peduli. Ia lebih memilih menari di atas kanvas ketimbang menanggapi rengekan anaknya.

Hari demi hari, tubuh Anabel perlahan menjadi kaku. Ia tak tahu di dalam tubuhnya telah menjalar akar-akar yang mengikat tulang-tulang di tubuhnya. Ia tak bisa bergerak. Gadis remaja itu mematung tak berdaya di kamarnya. Isabel tak pernah peduli. Ia telah berusia tua ketika melahirkan Anabel. Kini, Isabel tengah terjebak pada tubuh yang mulai renta. Di dalam ruangan persegi itu, Anabel pun terjebak seorang diri pada tubuh yang kaku.

Bulan berganti matahari entah untuk ke berapa kali. Anabel menangis sepanjang hari. Ia menjelma menjadi manusia berkepala pohon. Rambutnya berubah menjadi daun-daun kecil yang baru bersemi. Mata-hidung-mulutnya perlahan mekar membentuk kelopak-kelopak bunga warna-warni.

“Cit-cit-cuit! Selamat pagi, Pohon Kecil. Cit-cuit. Wah, lihatlah! Bunga-bungamu bermekaran indah. Cit-cuit-cit.”

Seekor burung kecil dan beberapa kupu-kupu terbang lalu singgah di kepalanya suatu pagi.

“Benarkah yang kau katakan itu, Burung Kecil? Apakah aku benar-benar terlihat indah? Bukankah aku telah berubah menjadi sangat aneh?” Anabel merasa senang, ia kedatangan teman baru.

“Cit-cuit. Cit-cuit. Cit-cuit.”

Sepanjang hari, Anabel bercanda ria bersama Petto, begitulah akhirnya ia memanggil si burung mungil itu.

“Hahaha. Menakjubkan! Hari ini aku seperti mimpi bisa berbicara dengan seekor burung lucu sepertimu, Petto. Bukankah ini ajaib?”

“Kira-kira Isabel sedang apa, ya, sekarang?” lanjut Anabel merindukan Isabel. Ia meminta Petto untuk mencari tahu keadaan ibunya.

“Cit-cuit-cit!” Dengan berat hati, Petto menyampaikan kabar duka bahwa Isabel telah meninggal tiga tahun lalu.

“T-ti-tidak mungkin! Maafkan aku, Isabel. Maafkan aku.” Anabel sangat menyesali perbuatannya. Ia telah mencuri biji ibunya, yang membuatnya tak bisa menemui Isabel sampai di hari kematiannya. Ia pun menangis sepanjang waktu. Selamanya di dalam sebuah kotak persegi.

Isabel adalah seorang seniman tersohor yang menggeluti bidang seni lukis sejak usia muda. Ratusan karyanya banyak terpasang di museum-museum mancanegara. Anabel adalah salah satu karya masterpiece-nya yang terakhir. Kini terpajang di dinding museum pribadinya. Konon, setiap malam hari, terdengar suara isak tangis dari lukisan tersebut.

#ajangfikminJoeraganArtikel2021

#Day6

#mitologi

Editor: Ruvianty

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami