Aliya

Aliya

Aku harus bagaimana lagi menyikapinya? Rasanya segala daya upaya sudah kukerahkan untuk membuatnya bisa berpikir rasional. Setidaknya, mau menerima kenyataan hidupnya dengan lapang dada. Perasaan marah, jengkel, geregetan, dan kasihan bercampur aduk menjadi satu.

Aliya, adik semata wayangku yang tersayang. Perempuan keibuan yang hatinya mungkin terbuat dari sutra. Seiring usia yang terus bertambah, sifat lembutnya makin tampak nyata. Sering aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku mampu bersikap seperti dia? Ah, rasanya tidak mungkin. Dia adalah wanita yang luar biasa, lembut, pemaaf, dan baik hati.

Aku suka menyebutnya “manusia positif” pada Aliya karena hampir tidak ada kesalahan ataupun keburukan yang diterimanya dengan negatif. Semuanya positif. Tidak ada sedikit pun prasangka buruk yang mampir di otaknya tentang apa pun. Maka saat dia diperlakukan seenaknya oleh suaminya, Aliya tampak biasa-biasa saja. Dia selalu memaafkan dan memaafkan. Bahkan, cenderung menyalahkan dirinya sendiri untuk setiap kesalahan yang Andi lakukan.

Wajahnya bulat telur berkulit kuning langsat. Alisnya hitam rapi berbulu mata panjang lentik yang indah. Lengkap dengan bola mata bundar dan tatapan lembut, seteduh danau bening yang menyejukkan. Tinggi badannya terpaut lima sentimeter lebih tinggi dariku yang 160 sentimeter.

Pernikahan Aliya dengan Andi dikaruniai seorang anak perempuan yang kini berusia enam tahun bernama Anya. Gadis kecil yang lincah dan ceria. Aku sendiri belum menikah lagi sejak suamiku tercinta dipanggil Tuhan, sekitar dua tahun yang lalu. Ia meninggalkan seorang anak yatim sebagai penggantinya. Rasanya aku belum bisa move on dari perasaan kehilangan dan kasih sayang yang telah dibuktikannya kepadaku selama menjadi istrinya.

“Mbak, sekarang aku harus bagaimana? Haruskah aku menyusul ke rumah mertua? Atau apa? Tolong beri aku saran,” rengek Aliya di suatu sore. Kali ini aku bergeming setelah berulang kali hal itu dia lakukan.

“Mbak Yani, tolonglah. Aku bingung. Apalagi Anya mulai menanyakan lagi ayahnya ke mana. Apakah aku harus membohonginya terus?”

Kulirik ekspresi wajahnya yang memelas itu agak lama sambil berusaha meredam gemuruh di dada yang minta dimuntahkan.

“Ada apa lagi? Andi main perempuan? Pacar baru? Atau punya istri simpanan?” cecarku nyinyir menyebutkan nama suaminya dengan jelas. Untung Anya sedang asyik bermain dengan jagoanku, Bima sehingga tidak mendengarkan pembicaraanku dengan Aliya.

Wajahnya bersemu merah menyiratkan ketidaksukaan saat kulontarkan sindiran pedas tentang suaminya. Sekarang aku tidak mau ambil pusing dengan reaksinya, yang penting aku bisa mengeluarkan apa yang menjadi kekesalanku pada Aliya. Bukan sekali dua kali, laki-laki berdarah Palembang itu menyakiti adikku. Berulang kali. Mungkin sudah lebih dari tujuh kali ia melakukannya sejak menikahi Anya, tujuh tahun yang lalu.

Pernah suatu ketika keluarga Andi memberi kabar bila ia dirawat di rumah sakit. Sebagai istri, Aliya segera bergegas menjenguknya dengan niat akan mengurus suaminya. Aku menemani Aliya saat itu. Apa yang terjadi sesampainya di sana? Lelaki yang sedang dicemaskannya itu sedang makan disuapi oleh seorang perempuan berbusana seksi dan ber-make up tebal. Cantik dan menarik. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona. Anehnya, pihak keluarganya tampak biasa-biasa saja. Bahkan, terkesan menyetujui perilaku Andi yang suka gonta-ganti pasangan. Seakan hal itu lumrah untuk seorang lelaki, meskipun sudah beristri.

Bukan itu saja. Beberapa kali Andi membawa perempuan-perempuan kekasihnya ke rumah. Mereka bermesraan di depan mata Aliya. Beruntung Anya masih terlalu dini untuk tahu tentang kelakuan Andi. Bagi Anya, perempuan-perempuan itu dianggapnya sebagai teman ayah dan ibunya yang baik hati karena suka memberi hadiah-hadiah. Kasihan Aliya.

“Bukan, Mbak, bukan itu. Ini ada hal lain,” sahut Aliya terlihat ragu untuk bicara dan tidak jadi meneruskan ucapannya. Dia tahu persis bahwa aku tidak menyukai Andi.

Saking geramnya, aku pernah menyarankan untuk mengguggat cerai suaminya yang doyan merendahkan martabat istri itu. Akan tetapi, Aliya tidak pernah setuju, bahkan selalu membela suaminya dengan berbagi alasan.

“Mungkin dia begitu karena salah aku juga, Mbak. Barangkali jika aku berubah lebih menarik, badan seksi, dandan, dia akan kembali menyayangi aku,” ucapnya penuh percaya diri. Ah, sudahlah. Aku tak mau mendengar lagi omongan Aliya yang bagiku tidak masuk akal.

Salahkah yang kulakukan? Sungguh, aku tidak rela adikku harus berurai air mata setiap kali lelaki yang diharapkan bisa membahagiakannya itu merobek harga dirinya.

*

Hari ini mendadak Aliya datang ke rumah tidak seperti biasanya. Untung saja aku dan Bima belum berangkat jalan-jalan ke taman, kegiatan rutin yang kulakukan bersama anak semata wayangku di setiap Minggu pagi.

Ada yang berbeda pada penampilan Aliya pagi ini. Ia telah berubah 180 derajat. Sejak kapan ia belajar ber-make up dan dandan seperti itu? Setahuku dia bukanlah tipe pesolek yang menomor satukan dandanan, apalagi menyukai rias wajah. Dia itu perempuan sederhana yang nrimo dan apa adanya. Merias diri juga sewajarnya.

“Kamu nggak pa-pa kan, Dek?” tanyaku seraya memandanginya takjub sekaligus cemas. Aku hampir tak bisa mengenalinya karena Aliya kini telah berubah. Tak ada lagi wajahnya yang sederhana dan cantik alami. Muka itu telah tertutup dengan riasan!

“Bagaimana, Mbak? Aku cantik ‘kan? Sudah tampak seperti artis belum? Barangkali dengan begini Andi mau berubah dan kembali padaku ya, Mbak,” ujar Aliya dengan mata berbinar penuh harap. Senyumnya yang lebar makin membuatku khawatir.

Seketika kurengkuh raga Aliya dengan segenap rasa yang mengharu biru. Jauh di lubuk hatiku, perasaan sakit terasa kian menyayat.

Tuhan, kembalikan Aliya. Jaga dan lindungi dia. Beri kekuatan-Mu agar mampu menjalani hari-hari dengan bahagia, meskipun tanpa Andi, suaminya.

Bandung, 07 Oktober 2019

 

***

titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment