Joeragan artikel

3 Alasan Mendidik Anak menjadi Pengusaha


Mursiti

Ladies, zaman sekarang ini persaingan hidup semakin ketat, menuju tidak sehat. Hanya sekadar mencari kata bahagia yang kadang semu. Kata yang banyak diidamkan orang tua terhadap anaknya. Betapa bahagianya seorang ibu atau orang tua andai anaknya setelah besar menjadi pegawai negeri. Apa ini salah, Ladies? Tentu tidak. Ini sah-sah saja. Wajar setelah sekian banyak pengorbanan dan segala daya upaya dilakukan orang tua demi kehidupan anaknya di masa depan. Berkehidupan yang layak, mempunyai jabatan tinggi, dan berpenghasilan luar biasa.

Namun, Ladies, ada banyak orang tua di negeri ini, yang berdoa dan berharap seperti itu. Terbayang pula ada berapa anak yang berusaha mewujudkan mimpi orang tuanya, seakan-akan menjadi seorang pegawai adalah jawaban dari semua masalah. Diakui memang, bahwa menjadi pegawai, Ladies berada di zona aman. Namun, kalau Ladies sadari sebenarnya menjadi seorang pegawai adalah seperti membangun tembok pembatas atas kesuksesan yang tak terbatas.

Dikatakan aman karena sudah jelas berpenghasilan per bulan atau per tahun. Akan tetapi, secara otomatis peluang Ladies dibatasi oleh jumlah nominal. Seandainya orang tua menyadari itu, sudah saatnya orang tua mengajari anaknya untuk berani lepas dari zona aman tersebut.

Mari Ladies, latih anak berniaga dari kecil agar anak tidak terpaku menjadi seorang pekerja. Kenapa demikian? Inilah 3 alasan mendidik anak menjadi pengusaha:

1. Persaingan Pencari Kerja Sangatlah Ketat

Tengoklah setiap akhir tahun pelajaran. Banyak anak mendekap sebuah amplop kabinet, berpakaian hitam putih, beriringan berbondong-bondong di bawah terik matahari, hanya sekadar mencari pintu-pintu yang bertuliskan, “DI SINI ADA LOWONGAN.”

2. Tempat Kerja Terbatas

Di saat para pencari kerja semakin banyak, berbanding terbalik dengan lapangan kerja yang pada kenyataannya sangatlah terbatas dan tak mampu menampung jumlah pekerja yang berimbas pada efek negatif yang terjadi.

3. Memancing Cara Curang

Akibat sulitnya lapangan pekerjaan, persaingan pun semakin tidak sehat. Berapa banyak orang tua yang rela menjual apa pun yang ada. Sawah, kebun, kerbau, demi membekali anaknya untuk membeli “amplop” di kota. Apabila semua orang tua berpikiran sama, menghalalkan segala cara, tentu sangat besar efek negatifnya. Bagi yang kalah saing harus rela menjadi pengangguran dan tak kurang yang mengambil jalan pintas demi bertahan hidup.

Ladies, uang memang bukan segalanya, tetapi segalanya pakai uang. Ini adalah kenyataan. Akan tetapi, apa cuma dengan menjadi pegawai kita bisa mendapatkan uang?
Tidak Ladies, Tuhan telah membagi peran masing-masing makhluk-Nya. Tidak semua orang harus menjadi pegawai. Masih banyak cara lain untuk mendapatkan uang.

Sudah saatnya Ladies mengubah pola pikir anak sejak dini. Latihlah ia berdagang. Didiklah mentalnya agar ia terbiasa menghasilkan uang. Menciptakan mesin uang sendiri. Jangan biasakan anak mengharap dan mengandalkan upah.

Oke Ladies, ubah haluan sebagai orang tua. Bentuklah mental anak menjadi mental pengusaha, bukan mental pekerja. Setinggi-tingginya jabatan yang ia dapatkan, tetaplah ia seorang bawahan. Akan tetapi, sekecil apa pun ia mempunyai usaha, dia adalah bosnya.
Smart Ladies, seperti sebuah pepatah, “lebih baik menjadi kepala semut daripada menjadi anak buah gajah.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

× Hubungi Kami