Takdir Shasya

“Sya, kamu mau kemana?” tanya Dhian sambil menghalangi langkah kaki Shasya.  “Aduh, Dhi!” teriak Shasya hampir jatuh.  “Aku mau bimbel, buru-buru nih,” teriak Shasya lagi.   “Sya, kenapa, sih akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dari kita?” tanya Mely seraya menghampiri Shasya dengan nada penuh selidik.  “Iya, kamu sekarang sibuk dengan dunia kamu sendiri, pulang duluan, ngumpul ga pernah, menghilang terus, mana janji setia mu sama ‘Three Angels’,” berondong Dhian tanpa tedeng aling-aling.  Shasya sejenak berdiri dan mematung.  Kemudian dengan tenang, ia pandangi satu persatu sahabat dekatnya itu.  Sambil menatap lekat seraya…

RINDU BAPAK

Wajah tua itu tidak pernah menampakkan rasa lelah, saat aku meminta bantuannya untuk menjemput anak-anak pulang dari sekolah. Kehamilanku yang sudah memasuki usia delapan bulan, membuat diriku cepat merasa lelah dan berat saat beraktivitas. Beruntung, ada bapak yang selalu siap untuk membantu. Usianya sudah enam puluh tahun. Namun, beliau masih sehat dan semangat. Mengendarai sepeda motor ke berbagai tempat masih sering dilakukan.  “Pak, minta tolong jemput Gibran ya. Hari ini, Joni yang biasa menjemput tidak bisa,” ucapku lewat telepon. “Ya, siap,” suara Bapak terdengar mantap. Aku pun lega, mendengar jawaban…

CINCIN BERLIAN

Ruang tamu berukuran 5×5 meter itu tampak meriah. Beberapa hiasan tertempel di dinding dan langit-langit. Sarah tersenyum puas. Hari ini, adalah hari pertunangan dirinya dengan Andre. Laki-laki, temannya semasa SMA yang menjadi kekasihnya selama satu tahun ini. Setelah menyelesaikan kuliahnya, Sarah memutuskan untuk menikah muda. Ketika Andre mengajaknya bertunangan, tanpa berpikir dua kali, Sarah langsung mengiyakan. “Semua sudah siap, Mbak,” suara Tia. Adik Sarah yang masih duduk di bangku SMA. “Oke, aku ke kamar sebentar.”  Sarah beranjak meninggalkan Tia menuju kamar. Dia melihat kembali riasan wajahnya. Senyum simpul tersungging manis. “Sarah!…

Cinta Lastri dan Satria

“Mas Satria?“ tanya Lastri. Dia tak percaya pada pandangannya. Satria datang menyampaikan bela sungkawa atas kepergian ayah Lastri. Mereka telah dua puluh tahun tidak bertemu, sejak Satria menceraikannya. ***“Mas, kamu sudah makan?“ tanya Lastri pada Satria suaminya. “Belum, kamu?“ tanya Satria. Namun, dia berlalu tanpa menunggu Lastri menjawab pertanyaannya. Sekembalinya ke ruang makan, dilihatnya makanan sudah tersedia di meja. Lastri menunggunya selesai membersihkan diri untuk kemudian makan bersama. Mereka masih merasa canggung satu sama lain. Lastri memang istri yang baik. Walau Satria belum bisa menerimanya sepenuh hati, dia selalu menyiapkan…

Hampas untuk Oma

Perempuan sepuh yang masih terlihat cantik di hadapanku baru saja terbangun. Dia adalah Omaku.  Setelah beberapa saat terjaga, ia hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit.  Matanya seperti menerawang jauh. “Oma mau makan apa? Nanti Liz suapin, ya,” tawarku kemudian untuk memecah keheningan. “Percumalah, makanan yang Oma kepengen pasti enggak ada,” jawab Oma ketus dan putus asa. “Coba Oma bilang dulu! Siapa tahu ada, Liza nanti carikan khusus buat Oma,” rayuku dengan lembut seraya tersenyum pada wanita cantik usia 72 tahun itu. “Oma lagi pengen makan sama hampas!” jawab Oma kemudian…

Doa Indah Ummi

Pria muda berjanggut tipis itu menganggukkan kepalanya dengan sopan, memberikan senyum sekenanya lalu mengalihkan pandangan. Aku balas mengangguk dan tersenyum. Biodata pria itu telah kuhafal di luar kepala. Farell Hamka, 27 tahun. Lulusan Madinah yang kini mengajar di pesantren yang sama dengan Abah. Anak tunggal Haji Hamka, sahabat Abah sejak aliyah. Ummi yang sebenarnya bersikeras menyuruhku untuk aku menjalani ta’aruf dengan Kak El, begitu nama panggilan sehari-harinya. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik menjalani proses ini. Di hatiku telah terukir satu nama, sulit sekali rasanya jika harus dihapus paksa, hanya…

Senyum Rasya

Kak Tasya terlihat gelisah. Sejak selesai di-make up ia mondar-mandir terus. Bahkan kursi yang tersedia untuknya belum sekalipun ia duduki. Sirat kecemasan begitu nyata terbaca di wajahnya.  “Tenanglah, Kak. Insyaallah, semuanya baik-baik saja,” kataku berusaha menghiburnya. Meskipun aku sendiri sebenarnya tidak yakin.  Syukurlah, Kak Tasya mau mendengar kata-kataku. Sambil duduk, bibirnya tak berhenti melafazkan zikir.  Sesungguhnya, aku tidak mau menghadiri pertunangan Kak Tasya, kakak semata wayangku yang jelita. Tak sanggup rasanya membayangkan kebahagiaan mereka, tertawa, dan  bergembira bersama tunangannya.  Kak Tasya beruntung mendapatkan Kak Rama, lelaki yang mencintai dan dicintainya.…