Surat di Laci Ibu

Malam semakin larut, jam dinding telah berdentang sebanyak dua belas kali. Aku masih sibuk membersihkan kamar mendiang Ibu. Kamar itu baru sempat dibersihkan setelah sekian lama tak tersentuh. Pekerjaanku sebagai wartawan berita dengan tugas peliputan yang padat membuat aku lalai mengurus rumah. Sementara asisten rumah tangga semenjak Ibu meninggal pulang kampung tak kembali lagi. Ada rasa sedih dan kangen ketika aku berada di dalam kamar itu. Kehilangan sosok Ibu, satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini, sungguh membuat hati terasa hampa. Dengan pikiran yang tak menentu, aku coba untuk…

Kado Spesial untuk Kintan

Pulang sekolah Zahra bergegas ke kamar mama yang kebetulan pintunya terbuka. Ada hal yang ingin dia bicarakan. Ia dilanda kegalauan. “Assalamualaikum, Ma,” salam Zahra di depan pintu kamar setelah lebih dulu mengetuknya. Namun, hening tak ada jawaban. Tiba-tiba terdengar suara sendok terjatuh dari arah dapur. Zahra segera menghampirinya. Ternyata, mama sedang membuat kudapan untuk teman nonton TV. Dipeluknya wanita itu dari belakang. “Mamaaaa!” seru Zahra manja. Wanita yang dipanggil mama itu tampak terkejut. Ia menghentikan aktivitasnya sembari menghela napas dalam. “Kamu, Zee. Bikin kaget mama, deh,” kata Mama. “Maaf,” ucap…

Surat untuk Bayu

Rosi berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas IPS 1, yang menjadi tempatnya belajar selama ini. Setelah jam pelajaran berakhir, dia bergegas merapikan buku dan alat tulisnya, kemudian berjalan menuju kelas IPS 2 yang berada di ruang sebelah. Di depan kelas IPS 2, sudah menunggu Ayu, sahabatnya sejak SMP. Dia tersenyum. “Sudah kutulis suratnya, Yu, tolong kamu kasihkan ke Bayu, ya!” ucapnya dengan nada ceria. Tangannya mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah muda dari dalam tas. “Oke, nanti aku sampaikan ke Bayu. Kalau sudah dibalas, aku kasihkan ke kamu,” kata Ayu sambil tersenyum manis.…

Cinta Sejati Putri Maheswari

Malam semakin larut. Udara dingin mulai terasa menusuk. Putri Maheswari masih terjaga. Tubuh moleknya terduduk gelisah di tepi ranjang. Mata sayunya menatap tajam ke arah jendela dengan cemas. Ia seperti tengah menanti sesuatu. Tidak berapa lama kemudian, terdengar ketukan lembut dari luar jendela. “Kakang Kendiri, engkaukah itu?” tanya Maheswari setengah berbisik pada celah kecil di jendelanya. “Iya, Dinda Putri.” Terdengar suara pelan lelaki pujaan Putri Maheswari. “Kakang, betapa aku merindukanmu. Kapan kita dapat melewati waktu bersama seperti dulu lagi?” bisik Maheswari sambil terisak sedih di celah jendela kamarnya yang dingin.…

Pergi Tanpa Pesan

“Kapan nenek datang, Ma?“ tanya Farid. Lelaki kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang nenek. “Besok, Sayang. Kenapa?“ balas Susi pada si bungsu. “Nenek sudah janji kalau datang nanti akan masakin Farid ayam panggang,“ jawabnya dengan mata berbinar. “Wah, kakak boleh ikut makan nggak, Dek?“ tanya Fitri penuh harap. Ayam panggang nenek memang sangat enak. Terakhir kali nenek memasaknya saat Farid disunat tiga tahun yang lalu. Saat itu Fitri tidak boleh ikut makan karena ayam itu hanya untuk yang disunat saja. “Boleh, Kak. Kan bukan ayam sunat lagi,“…

Predestined

Suara riuh rendah terdengar dari gazebo di teras belakang rumah. Di sana sedang berkumpul keluarga besar Bayu yang hampir semuanya menampakkan wajah cemas dan murung. Kecuali Opa yang tertidur di kursi roda dan Bayu yang sedang membaca buku di dekatnya. Dua hari lagi, nasib Papa Bayu dipertaruhkan. Apakah dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Hampir dua puluh tahun papanya di penjara atas tuduhan makar. Keluarga besar dan berbagai pihak yang membantu telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi belum membuahkan hasil. Semua saksi dan bukti yang dihadirkan seolah mengarah kepada Papa Bayu.…

Mencintai karena Allah

Aku memandangi selembar kertas yang ada di tanganku, membaca berulang-ulang. Ada sebuah foto ukuran 4R di belakangnya. Kertas ini berisi biodata laki-laki yang akan menjadi calon suamiku. Mbak Ningrum, sosok keibuan yang menjadi guru mengajiku, memberikan kepadaku hari ini selepas kajian rutin sabtu sore. “Hana, silakan kamu pelajari dan bicarakan dengan keluargamu. Kami menunggu jawabanmu dua minggu lagi ya,” ucap Mbak Ningrum kepadaku. “Insyaallah Mbak.” Terus terang dadaku berdegup kencang saat melihat biodata ini. Nanti malam, aku akan menyampaikan hal ini kepada orang tuaku.  “Kamu sudah pernah bertemu dan kenal…

Reuni Hati

Hampir satu jam aku duduk di sini. Mendengarkan celotehan gadis berkulit hitam manis yang duduk di hadapanku. Jujur kuping ini sudah panas. Ingin sekali aku menghentikan semua curahan hatinya, tetapi aku berusaha untuk tetap menyimak. Sebenarnya malam ini, aku ingin menyatakan perasaan yang telah lama aku simpan. Apa daya nyaliku tak sekuat penampilanku dari luar.   “Jadi gitu Koh Der, menurut lu, gimana?” Kalimat terakhir yang aku dengar dari Almira, gadis cantik keturunan Arab sahabatku sejak SMU itu. “Ya gue tahu, lu naksir Ryco dari SMU! Enggak ada salahnya besok…