Tantangan Orang Tua Mendidik Anak di Zaman Milenial

Halo, Smart Ladies!

Derasnya arus globalisasi harus diterima seluruh masyarakat terutama orang tua. Kemajuan teknologi harus diakui begitu menghipnotis semua kalangan, membuat orang tua harus protektif terhadap anak-anaknya.

Dahulu, orang tua hanya khawatir pada anak cedera saat bermain, membolos sekolah, dan mengaji, atau pulang terlambat.
Sekarang, bukan lagi kekhawatiran itu yang di hadapi orang tua, tetapi lebih pada kerusakan mental dan fisik.

Beberapa tantangan orang tua dalam mendidik anak di zaman milenial.


1. Pada Anak Usia (1-5 tahun)


Saat ini, teknologi bukan hanya milik kawula muda, tetapi juga anak balita. Tidak heran, banyak anak balita kecanduan gawai dan ponsel (HP). Tanpa diajarkan, anak balita secara otomatis mampu mengutak atik gawai sehingga membuat mereka kecanduan.

Di satu sisi, ketika anak bermain ponsel, orang tua dapat leluasa menyelesaikan pekerjaan rumah. Namun, di sisi lain, radiasi gawai dan ponsel sangat berbahaya bagi kesehatan anak. Mungkin, Ladies pernah mendengar berita seorang anak pecah pembuluh darah di matanya atau kabar seorang anak kerusakan sel saraf otak. Semua itu bagian dari akibat kecanduan gawai.


2. Pada Anak Usia 6-12 tahun


Pada umumnya, jika di usia balita anak suka mengutak atik gawai, Namun, di usia sekolah dasar rentan terserang virus game online. Virus game daring tidak menggerogiti anak secara tiba-tiba, tetapi bisa datang melalui pengaruh teman sepermainan. Bukankah pada usia SD anak sudah memiliki teman akrab dalam bermain.

Pengaruh teman sepermainan sangat besar, baik pada tingkah laku, kebiasaan, tutur kata, hingga pada permainan anak. Ketika berada di rumah, orang tua bisa saja menjauhkan anak dari gawai. Namun, di luar rumah, anak bisa saja bermain game daring menggunakan gawai temannya, bahkan ikut temannya bermain game di kedai warnet. Tidak hanya itu, ponsel juga menawarkan kemudahan mengakses internet sehingga semua orang bebas mengakses apa saja yang mereka inginkan. Tidak, terbayang jika anak usia SD sudah mengakses film-film porno atau situs situs porno.


3. Pada Usia Remaja (13- 18 tahun)


Pada usia ini, kondisi psikis anak sangat labil. Keinginan mereka untuk dianggap dirinya paling hebat, keren, gaul, dan selalu ingin diakui membuat mereka rentan dipengaruhi. Untuk sekadar dibilang keren, terkadang mereka nekad melakukan hal yang berbahaya bagi dirinya sendiri, seperti mengonsumsi narkoba atau tawuran. Ditambah lagi, menjamurnya korea pop yang mempertontonkan aurat dan melegalkan cinta sesama jenis membuat moral anak-anak remaja semakin rusak.


Ladies, sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik bagi anak-anak. Kemajuan zaman memang tidak dapat dihindarkan. Namun, kita bisa membentengi anak-anak dengan menanamkan ajaran agama agar selamat dari virus negatif kemajuan dan kecanggihan teknologi.

Related posts

Leave a Comment