Sebuah Janji

Raka masih menyimpan foto dirinya dan Arin, bersama teman yang lain, saat acara baksos Ramadan di sebuah desa terpencil kota Yogyakarta.

Dia tersenyum mengenang kisah itu. Masa-masa duduk di bangku kuliah adalah hal yang paling menyenangkan untuk diingat. Terutama yang berkaitan dengan Arin. 

Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupnya karena dia akan meminang Arin untuk menjadi istrinya.

***

Arin adalah gadis berhijab dengan wajah manis, postur tubuh tinggi, langsing dengan bentuk wajah oval yang murah senyum. Raka mulai menyukainya sejak semester enam.

Mereka berada di fakultas dan jurusan yang sama. Pembawaan Arin yang ramah, tenang dan halus banyak disukai teman-temannya. Tidak hanya yang perempuan tetapi juga teman laki-laki.

“Aku benar-benar menyukai Arin, Gus,” kata Raka kepada Agus, sahabatnya, saat mereka bersantai di kos.

“Ya sudah, kamu bilang saja sama dia. Pokoknya, aku mendukung seratus persen.” Agus tertawa sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

Sejak saat itu, Raka berusaha untuk mencari waktu yang tepat buat mengutarakan perasaannya itu.

Akan tetapi, sepertinya niat Raka itu harus kandas di tengah jalan karena ada perubahan yang tiba-tiba terjadi pada diri Arin.

Hijab yang dulu kecil, kini berubah menjadi lebih lebar hingga menutup dada. Celana jeans yang dulu akrab dengannya, kini berganti rok panjang. Arin mulai rajin mengikuti kegiatan pengajian di masjid kampus, menjaga jarak dengan teman laki-laki dan setiap berbicara dengan lawan jenis, dia menundukkan wajahnya.

Raka dibuat bingung dengan perubahan itu. Dia mulai mencari tahu, apa yang terjadi dengan Arin sebenarnya. 

Akhirnya, semua kebingungan itu terjawab. Dia mendapat informasi dari Ratih, sahabat Arin.

“Arin sudah hijrah, Ka. Dia memutuskan untuk berubah menjadi muslimah yang lebih baik lagi, seperti yang diajarkan dalam Islam. Dia tidak mau pacaran. Jika kamu memang mencintainya, maka wujudkan rasa itu dalam ikatan yang halal,” kata Ratih, saat bertemu Raka di kantin kampus. 

Hati Raka kecewa mendengar informasi itu. Namun, rasa cinta dalam hatinya untuk Arin, masih kuat menempel.

Raka berusaha menahan perasaannya setiap kali bertemu Arin di kelas. Rasa cintanya begitu besar sehingga tidak mudah baginya untuk bisa melepaskan begitu saja. Justru, dengan perubahan yang terjadi pada diri Arin, membuatnya semakin sulit melupakan sosoknya.

Dia berjanji untuk menjadikan perasaan yang ada di dalam hatinya itu, menjadi rasa yang halal, seperti yang di sampaikan Ratih kepadanya. 

Sejak mendekati tahun terakhir kuliah, Raka sudah mulai berbisnis kecil-kecilan dengan menjadi reseller sebuah kaos distro di kota Jogja. Dia mulai menabung dari hasil usahanya itu untuk mewujudkan janjinya kepada Arin.

Tepat di hari kelulusan, Raka mendekati Arin yang sedang berkumpul dengan teman perempuan yang lain. Dia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Arin, yang sudah disimpan selama ini.

“Arin, ada hal penting yang ingin aku sampaikan,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Ada apa ya, Ka?” Suara Arin pelan, sambil menundukkan wajahnya.

“Maukah kamu, menjadi istriku?” kata Raka, tanpa basa-basi.

Kalimat itu membuat Arin terkejut. Dia tidak menyangka, kalau Raka akan mengungkapkan hal itu di hari kelulusan mereka.

“Aku sudah cukup mengenal kamu selama ini, Rin. Insya Allah tidak akan menyesal dengan keputusanku ini.”

Arin tampak berpikir sejenak, hatinya bimbang. Namun, dia pun merasa sudah cukup mengenal Raka selama ini. Laki-laki yang baik, jujur dan bertanggung jawab. Sepertinya tidak ada alasan untuk menolak niat baik itu.

Sekilas Arin memandang wajah Raka, hanya untuk memastikan ada kesungguhan di sana. Sesaat kemudian, Arin mengangguk. Raka mengucap hamdalah dengan binar mata bahagia.

“Tunggu aku, Rin. Setelah wisuda akan datang ke rumah untuk meminangmu.” Raka berkata dengan semangat.

Arin mengangguk pelan, diiringi senyuman yang manis.

Ulfah Wahyu

Latest posts by Ulfah Wahyu (see all)

Related posts

Leave a Comment