Rasa Itu

Angga masih asyik memandangi wajah manis berbentuk oval, berbalut hijab warna hijau muda dengan lesung di kedua pipinya. Jika wajah itu tertawa, maka tampaklah deretan giginya yang putih dan berjejer rapi.

“Hai! Melamun saja dari tadi.” 

Sebuah sapaan mengagetkan dari Anton, sahabatnya sesama supervisor di perusahaan retail ini.

Angga kaget, lalu dia tersenyum ke arah Anton, khawatir sahabatnya itu memergoki apa yang sedang dia lakukan.

Sudah satu bulan ini, perasaan Angga tidak tenang. Setelah kedatangan karyawati baru berwajah manis, bernama Danti, membuat hari-harinya seperti di alam mimpi.

Angga adalah supervisor senior di perusahaan ini, sedangkan Danti seorang pramuniaga.

Pembawaannya halus, tenang, ramah dan sopan. Selain itu dia juga rajin beribadah. Sepasang mata yang sayu di bingkai kelopak yang besar, membuat Angga tak berkutik saat memandangnya.

“Selamat pagi, Pak Angga,” ucap Danti sambil tersenyum ramah saat berpapasan dengannya di pintu masuk.

“Eehhh … selamat pagi juga Danti,” jawab Angga gugup.

Debaran jantungnya tak beraturan, keringat dingin tiba-tiba mengalir di sekujur tubuhnya. 

“Sumpah deh, Ton. Gue benar-benar tak berkutik kalau bicara sama Danti, pandangan matanya itu membuatku seperti terbius, kehilangan kata-kata,” ujarnya pada Anton, saat mereka makan siang bersama.

“Udah, kamu tembak saja dia, keburu diambil orang,” ucap Anton sambil tertawa.

Kata-kata Anton barusan menyadarkan Angga, kalau dirinya benar-benar telah jatuh cinta dengan Danti sejak pandangan pertama.

Setiap malam menjelang tidur, bayangan wajah Danti selalu hadir, membuat Angga susah memejamkan mata.

Akan tetapi, dia tidak ingin terus memelihara perasaan cinta itu dalam koridor yang salah. Dia akan mengajak Danti untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

Akhirnya, hari ini dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya kepada Danti.

Sepulang kerja, Angga sengaja menunggu Danti di ruang karyawan. Tidak berapa lama kemudian, Danti muncul dari balik pintu.

“Danti ada hal penting yang akan aku sampaikan kepadamu, kita bicara di kafe depan mal ya,” kata Angga dengan jantung berdebar-debar.

Danti hanya mengangguk pelan dan tak lupa, dia suguhkan senyum manisnya yang membuat Angga semakin gelagapan.

Sore itu sepulang bekerja, mereka berdua segera menuju kafe yang sudah di sepakati.

Setelah mengambil tempat duduk di pinggir jendela, mereka berdua memesan dua gelas jus alpokat.

Angga merasakan jantungnya berdebar kencang, perasaannya tidak tenang. Danti yang duduk di depannya, mulai tampak gelisah karena melihat Angga hanya diam, sambil mengelap keringat yang keluar membasahi wajahnya.

“Maaf Pak Angga, ada masalah penting apa ya, kok, Bapak ingin bicara dengan saya?” tanya Danti pelan.

Dilihatnya Angga menarik napas dalam, kemudian membenarkan posisi duduknya.

“Danti, sebenarnya sejak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu menerima niat baikku ini untuk saling mengenal lebih dekat dan selanjutnya menjalin hubungan yang lebih serius, yang diridai Allah.” Kata-kata itu mengalir dengan lancar.

Angga bahkan tidak percaya, kalau yang barusan diucapkan itu keluar dari mulutnya. Jantungnya berdegup kencang. 

Dia tidak peduli dengan jawaban Danti nanti, baginya yang terpenting, dia sudah mengungkapkan perasaan itu.

Tiba-tiba dia mendengar suara Danti tertawa pelan. Angga melihat ke arahnya.

“Ternyata perasaan kita sama, ya, Pak,” ucap Danti malu-malu.

Angga terbelalak, batu besar yang menghimpit dadanya selama ini tiba-tiba hilang.

Angga tersenyum kepada Danti, sambil mengusap keringat yang masih menetes di wajahnya. Sekilas, dia melihat Danti tersipu malu.

Ulfah Wahyu

Latest posts by Ulfah Wahyu (see all)

Related posts

Leave a Comment