Satu Frekuensi

[Mbak, cek komputer produksi, ya, aku sudah beresin rekaman insert dan jingle yang diminta. Oh ya, revisi iklan juga sudah fix, aku keluar meliput dulu, sebelum zuhur, insyaallah sudah di studio lagi mo ngereview siarannya Ocy sama Devan]

WA dari Atta masuk, sesaat setelah Rien selesai mengecek beberapa draft kontrak iklan di mejanya.

Atta memang bisa diandalkan, kerjanya rapi dan cepat. Siarannya juga apik, meski belum genap setahun bersiaran di radio milik Rien, tetapi performanya selalu menarik banyak penggemar dan memberikan pengaruh yang nyata bagi peningkatan income radio tersebut. Golden Boy-nya Mbak Rien, begitu julukan yang diberikan oleh rekan-rekannya.

[Okee] balas Rien singkat.

Wanita muda itu kemudian beranjak dari balik meja kerjanya, menyusuri koridor menuju ruang produksi radio yang terletak paling ujung di lantai dua studio radio warisan mendiang ayahnya.

Rien mematung sejenak. Dari balik kaca ia bisa melihat sosok Ery, teman kecil sekaligus penyiar senior, yang sedang melakukan rekaman di dalam. Ery sudah lama bekerja pada ayahnya. Sejak masih berseragam abu-abu, pria itu telah turun naik studio melakukan bermacam-macam pekerjaan hingga akhirnya didaulat oleh Pak Roy, ayah Rien, menjadi salah satu penyiar magang pada masa itu.

Telah lebih dari satu dasawarsa, Ery mendedikasikan dirinya pada radio. Baginya studio adalah rumah kedua. Bukti kecintaannya pada dunia radio tak terhitung banyaknya, bahkan pernah di suatu masa ia memilih tinggal di salah satu ruangan studio hingga berbulan-bulan lamanya. Ruangan tersebut kini telah menjadi gudang penyimpanan arsip dan properti siaran.

Ery dan Atta adalah dua yang terbaik dari puluhan kru yang bekerja di bawah naungan Media Swara FM milik Rien Sukma, putri sulung dari mendiang Roy Sukma, penyiar legendaris di kotanya yang telah tutup usia dua tahun lalu.

Rien masih menatap punggung Ery yang khusyuk membaca script dalam genggamannya. Rien tahu apa yang sedang direkam oleh pria itu, Rien lah yang telah menyusun naskah tersebut untuknya.

Sebelum menjabat sebagai pucuk pimpinan, Rien sebetulnya adalah seorang scriptwriter. Sejujurnya ia lebih senang berkecimpung di dunia tulis menulis daripada disibukkan dengan segala urusan bisnis.

Kalau bukan karena wasiat dari ayahnya yang menghendaki Rien melanjutkan pengelolaan radio miliknya, ia akan lebih memilih menjadi penulis naskah saja seperti sebelumnya.

Menjadi pimpinan itu tidak mudah. Berhari-hari biasanya gadis yang telah memasuki kepala tiga itu terpaksa menikmati sakit kepala yang menderanya. Pusing memikirkan THR dan menjaga kekompakan tim agar semua kru senantiasa berada dalam satu frekuensi dengannya.

Konflik Ery dan Atta adalah yang paling merisaukannya sejak awal. Kedua diakui Rien sebagai orang-orang terbaik Media Swara FM yang berharga baginya.

Entah bagaimana perselisihan itu bermula, tetapi yang jelas semua kru menyadari jika keduanya saling tidak menyukai. Ery dengan ekspresi dinginnya kerap menyerang Atta yang ia nilai ceroboh dan seenaknya sendiri. Demikian pula Atta yang energik dan ceplas ceplos, tak jarang melemparkan kalimat-kalimat sindiran pada seniornya yang ia nilai bossy dan selalu ingin menang sendiri.

Rien mencium adanya aroma persaingan di perusahaan penyiarannya. Persaingan yang telah berkembang menjadi perseteruan yang kian hari kian tajam. Rien tak ingin kehilangan salah satu di antara keduanya, tetapi Rien juga tak begitu piawai menyatukan perbedaan, mendinginkan situasi, dan menguasai masalah-masalah yang semakin hari semakin bervariasi menghunjamnya. Rien sadar, ia masih butuh banyak belajar menjadi CEO muda yang sukses dan bijaksana.

Ery telah menyelesaikan rekamannya. Ia tersenyum mendapati Rien yang berdiri di balik kaca pintu ruang produksi sambil terus menatap ke arahnya.

Pintu dibuka, Rien menjadi gugup seketika.

“Kenapa melamun? Kangen, ya?” goda Ery yang kini telah berdiri di hadapannya.

“Aku baru aja pulang liputan di luar kota seminggu, bosku sudah pinter melamun … ,” candanya.

Rien memasang tampang cemberut, refleks mencubit tangan di balik kemeja lengan panjang karyawan yang juga sohibnya itu.

“Jangan terlalu sering melamun, nanti cepet pikun, jangan juga suka cemberut nanti wajah cantik kamu jadi keburu berkeriput!” tegur pemuda itu sambil pura-pura kesakitan oleh cubitan bosnya.

Rien mengacuhkan Ery dan segera masuk ke ruang produksi menemui Nata, staf produksinya yang sesekali nyambi jadi operator malam.
Jangan tanya dia berada di pihak mana, Nata karyawan lama sudah pasti berpihak pada Ery seniornya. Sejak beberapa bulan terakhir ini Rien merasa seperti ada dua kubu di kantornya dan dia tidak suka.

“Mbak, sudah dengar tadi pagi ada ribut-ribut di lobi ?” tanya Nata. Rien menggeleng cepat.

“Memangnya ada apa, Ta?” tanya Rien penasaran.

“Mas Ery sama si Atta ribut lagi, Mbak. Kejadianya pas saat Atta akan keluar buat liputan sementara Mas Ery baru saja parkir mobilnya di tempat Mbak biasa parkir,” lapor Nata.

Dahi Rien berkerut, ia memang tidak bawa mobil hari ini, Sofi, adiknya, yang mengantar karena mobil akan dipakai menjemput keluarga besar mereka yang pulang umroh di bandara siang nanti.

“Emang apa masalahnya, sampai harus ribut segala …?” tanya Rien mulai gusar.

“Ga tau pasti sih, Mbak … cuma sepertinya ada kaitannya dengan liputan Mas Ery pekan lalu di luar kota, Atta ngerasa seharusnya ia yang dikirim, trus dia juga protes tentang mobil Mas Ery yang di parkir di ruas parkir mobilnya Mbak, kurang lebih begitulah, Mbak yang kudengar …,” Rien menghela napas dengan kasar. ‘Hanya masalah itu? Kenapa Atta tidak langsung komplain kepadanya?’ Gadis itu tidak habis pikir. Tentu saja Rien sudah mempertimbangkan semuanya matang-matang tentang siapa yang akan ia kirim untuk setiap program liputan. Dia yang memutuskan dan jika ada yang berkeberatan sudah seharusnya bicara langsung kepadanya.

Oh, ya soal parkiran, for God sake … masa hanya karena itu juga jadi bahan pertengkaran, lagi pula Ery sudah tahu ia tidak membawa mobil hari ini dan bahkan menawarinya untuk pulang bersama.

Kembali gadis itu menghela napasnya dengan sedikit kasar. Baiklah, putusnya!

Mungkin sudah waktunya mereka bertiga duduk bersama. Rien tak ingin membiarkan hubungan yang tidak harmonis di antara kedua karyawannya itu semakin berlarut-larut. Suasana kerja juga pastinya akan terpengaruh dan menjadi tidak sehat.

Ery … Atta … mari segera akhiri permusuhan di antara kalian berdua. Aku bisa sinting setiap hari menerima pengaduan tentang sikap kekanak-kanakkan kalian, geramnya seraya meraih ponsel dan membuat panggilan untuk mengundang keduanya bicara dari hati ke hati dengan dia sebagai penengahnya.

#OSOFF DAY 2

 

 

 

Eka Damayanti
Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment