Surat untuk Bayu

Rosi berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas IPS 1, yang menjadi tempatnya belajar selama ini. Setelah jam pelajaran berakhir, dia bergegas merapikan buku dan alat tulisnya, kemudian berjalan menuju kelas IPS 2 yang berada di ruang sebelah. Di depan kelas IPS 2, sudah menunggu Ayu, sahabatnya sejak SMP. Dia tersenyum. “Sudah kutulis suratnya, Yu, tolong kamu kasihkan ke Bayu, ya!” ucapnya dengan nada ceria. Tangannya mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah muda dari dalam tas. “Oke, nanti aku sampaikan ke Bayu. Kalau sudah dibalas, aku kasihkan ke kamu,” kata Ayu sambil tersenyum manis.…

Haruskah Menulis Surat untuknya

“Kamu yakin tidak mau nomor wa nya dia?” tanya Ery, memastikan. “Buat apa? Tempat tugasku itu susah sinyal, Ry. Lagian, apa coba yang mau kubicarakan sama dia?” jawab Hendra dengan santainya balik bertanya pada kawan sebangkunya zaman SMA dulu, yang bersikeras ingin memberikan nomor wa Hana, seorang gadis yang pernah singgah dalam hidupnya ketika itu. “Ya sudah, tulis surat saja kalau begitu … masa tidak ada yang ingin kamu sampaikan? Ucapan selamat atau tanya kabar mungkin? Ayolah, kapan lagi ada kesempatan menyambung tali silaturahmi padanya?” Ery masih bersikukuh membujuk Hendra…