Tak Ada Pertunangan

Rangkaian bunga tampak indah menghiasi tiap sudut ruangan, berbagai ornamen dan kursi tamu disusun sedemikian rupa siap menyambut para tamu yang menghadiri pesta pertunangan Miranda, adik perempuan semata wayangku.

Aku berdiri di samping Mama. Sejak Papa tiada, akulah yang hampir selalu diandalkan untuk mendampinginya.

“Eh, pacar kamu mana? Kok Mama sudah lama gak ada lihat kamu gandeng cewek?” tanyanya sambil terus mengedarkan pandangan dan tersenyum kepada para tamu.

“Hmm, memang lagi sendiri aja kok, Ma … ,”jawabku enggan menghindari tatapannya yang tiba-tiba melotot ke arahku.

Hello, Henry Handsome, anak mama paling ganteng … inget umur dong, adik kamu aja sudah mau tunangan, lah, kamu masih anteng-anteng aja ngejomblo begini. Kalo butuh bantuan mama, bilang! Banyak kok, gadis yang nggak bakal nolak dijodohin sama anak mama yang dosen muda bergelar strata dua ini,” celotehnya.


Aku nyengir sambil membalas senyum dari beberapa tamu yang menganggukkan kepala dari jauh kepadaku.

Trims deh, Ma. Aku sudah punya pilihan hati. Dia masih sekolah. Ayahnya tak mengizinkan pacaran. Kalau serius, aku disuruh ta’aruf, kalau cocok, ya dilamar dan langsung nikah. Simple, kan?”

Semoga jawabanku bisa menenangkan hati mama. Sekilas kulihat mama mangut-mangut sambil memanyunkan bibirnya.

“Ya sudah, ta’aruf sana!” selorohnya.

“Kan dia masih sekolah, Ma … Aku sudah bilang kok sama ayahnya kalau Aku serius sama anaknya. Ayahnya guru ngaji mendiang papa itu loh, Ma. Haji Hanif, mama inget nggak sama anak bungsunya yang pernah bukain pintu, waktu kita lebaran ke rumahnya beberapa tahun yang lalu?”

Duh, jadi ngegosip deh … tapi aku kenal betul watak Mama, kalau tidak dijelasin dengan sejelas-jelasnya, bakal terus meneror sampai aku bungkam kehabisan kata-kata.

“Wih, si Sarah? Cantik banget itu, salihah lagi … pinter kamu nyariin mama calon mantu, tapi apa nggak kekecilan? Masih aliyah kan, kalo nggak salah? Kenapa nggak nyari yang sebayaan kamu aja sih, emang dosen perempuan atau mahasiswi di kampus kamu nggak ada yang cocok ya?” kejar Mama lagi.

“Ma, ini masalah hati, mana bisa seenaknya gonta ganti, aku tuh udah suka sama dia lama banget loh, cuma rada keder aja ngadepin abahnya,” jujurku.

“Iya juga sih, abahnya kan keras banget, tuh. Yakin, kamu sanggup jadi mantunya Pak Haji Hanif? Mama bakal bikinin pesta pertunangan yang mewah melebihi ini, deh, kalau kamu sukses dapetin si Sarah, putrinya,” goda Mama.

“Bukan keras, Ma … tapi istikamah! Lagian, mana mau si Sarah sama ayahnya pake acara tunangan begini, gak ada tuh, Ma dalam kamus mereka. Kalo sreg, ya sudah langsung khitbah alias ngelamar, trus nikah deh,” jelasku.

Kembali Mama mengangguk-anggukan kepalanya mencoba mencerna apa yang baru saja kujelaskan kepadanya.

Perjuanganku mendekati Sarah sama sekali tak mudah. Secara usia kami memang terpaut cukup jauh, aku hampir tiga puluh, sementara Sarah baru akan sweet seventeen bulan depan. Awalnya Sarah terlihat canggung banget saat kuhubungi. Aku hanya ingin mengajak ia jalan-jalan, namanya juga pedekate, hehehe. di luar dugaanku dia langsung menolak. Nggak baik, Bang, berdua-duaan, katanya.

Aku belikan dia macam-macam hadiah.

‘Jangan begini Bang, ntar saya jadi geer, mendingan Abang sedekahin aja ke panti, pahalanya gede lho, Bang dari pada belanjain anak gadis orang. Lagian saya masih ada Abah, pengen apa aja bisa langsung minta sama Abah,” tolaknya blak-blakan.

Duh, aku jadi serba salah, pengin nembak langsung, jujur aku nggak kuat hati kalau sampai ditolak.

Seumur hidupku belum pernah ada yang menolak.

Sebelum jatuh hati pada Sarah, kuakui aku seorang mantan playboy yang digandrungi wanita lintas usia, dari remaja bau kencur sampe tante-tante seusia Mama, nggak ada yang sanggup menolak pesonaku.

Bertemu Sarah memang membuatku jadi mati kutu, bikin aku berpikir ulang tentang gaya hidupku.

Sarah tidak hanya anggun, dia juga memegang teguh prinsip dan tegas pada setiap lawan jenis yang coba-coba mendekatinya. Nasihat Haji Hanif tentang adab pergaulan muda-mudi yang islami selalu ia jadikan pegangan dalam keseharian. Jadi kalau ditanya sudah sejauh mana hubungan kami, maka yang baru aku lakukan adalah menghadap ayahnya sebagai bentuk keseriusanku pada anak gadisnya yang ingin kupersunting.

Ini saja sudah cukup berani menurutku, tapi sayangnya bukan hanya aku yang sudah melakukan itu. Ada cukup banyak nama yang ternyata juga telah melakukan hal yang sama denganku, ini yang membuat aku nyaris frustasi.


***

“Eh, lo udah tau belum kalo si Danish udah merit? Pulang dari Singapura, rupanya dia udah jadi mualaf, Coy … sorenya dia datang menghadap Pak Haji Shalih, tetangganya itu en langsung malem itu juga dinikahkan sama si Aysha, anak gadisnya.”


Entah sejak kapan Reno, sepupuku sudah berada satu meja denganku. Dengan gayanya yang heboh langsung koar-koar menceritakan nasib baik Danish, lelaki keturunan tionghoa yang juga teman seangkatanku semasa SMA dulu. Dia melanjutkan studi S1 dan S2-nya di Singapura. Diam-diam ia belajar Islam sejak kami masih sama-sama bersekolah.

“Beruntung banget dia, baru masuk Islam aja udah langsung didapuk jadi mantu pak ustaz, nggak kaya nasibku yang muslim tulen ini,” kuhela napas sedikit kasar sembari mengeluhkan nasibku yang gelap di tangan Sarah dan abahnya.

“Ngaca dong, Bro? Kapan terakhir kali lo salat lima waktu di masjid nggak pakai bolong?, Sudah sampe mana ngaji lo? Jangan-jangan, setua ini belum pernah khatam Quran. Emang udah insaf ya, Bro? Kalau cuma modal status muslim di KTP doang, sih, jangan mimpi dapet wanita salihah!” sembur Reno yang langsung membuat wajahku memanas.

Nih, bocah pedes amat pilihan kata-katanya, cuma gak dapat kusangkal apa yang dia katakan itu bener semua. Oke, aku memang pernah jadi cowok brengsek, hobi ngegombalin cewek, salat belang kambing bahkan curi-curi minum es kelapa muda di siang bolong di bulan Ramadan. Namun, itu kan dulu. Sekarang aku sudah hijrah. Sekuat tenaga berusaha jadi muslim yang taat biar hidupku selamat. Itu juga yang mengilhami aku mau menikahi Sarah karena aku ingin dia yang jadi ibu dari anak-anakku kelak, bidadari surga yang menjadi perhiasan terindah selama hidupku di dunia.

“Aku udah bukan Henry yang dulu lagi kok, Ren. Aku udah buka lembaran baru sejak papaku meninggal tahun lalu. Aku yakin Allah Maha Pengampun dan masa depanku masih suci. Semoga Sarah memang jodohku, Ren. Sungguh aku cinta sama dia, makanya aku bersabar nungguin dia selesai sekolah, meski nggak tahu, apakah dia akan memilihku atau lelaki lain, yang juga datang pada abahnya untuk menjadikannya istri … Aku pasrah, Allah pasti tahu yang terbaik untuk kita masing-masing,” cecarku.

Reno menyungging senyum seraya menepuk pundakku.

“Sambil menanti kabar darinya, pantas-pantasin diri dulu aja deh, Bro … sambil terus perbaiki niat dan bersungguh-sungguh berdoa minta yang terbaik sama Allah. Ikhtiar dan doa, itu dia senjata ampuhnya.”

Tak kusangka si Reno bisa ngomong sebijak itu. Namun, apa yang Reno katakan itu benar. Ikhtiar itu penting karena nggak akan ada hasil yang mengkhianati usaha. Doa juga sangat-sangat penting karena sejatinya doa dan takdir itu berperang di langit, nasihat Haji Hanif saat kutemui ia demi mendapatkan putrinya.

Plong rasanya telah melerai gundah hatiku di malam pertunangan Miranda, meski aku sama sekali tak berniat akan melangsungkan pertunangan. Langsung khitbah lalu nikah, mantap sudah niatku. Siapapun lah nanti yang akan Allah pilihkan menjadi belahan jiwa.

Eka Damayanti
Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment