No Birthday Party

Andri menatap canggung sosok Maya, sahabat sekaligus sepupu yang tinggal bersama di rumah neneknya itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan pada gadis sebayanya itu. Namun, keraguan menyelimuti pikirannya. Andri memang mengalami kesulitan mendefinisikan perasaannya beberapa pekan terakhir ini, itu mungkin dikarenakan usianya yang sedang mengalami pubertas atau entahlah. Satu hal yang pasti, ada benih-benih perasaan yang berkembang di hatinya kepada gadis yang kini mengisi hari-hari kebersamaan mereka di rumah nenek.

Sejak keluarganya bermigrasi ke luar negeri, Maya memilih untuk tinggal menemani sang nenek di tanah air. Di waktu yang hampir bersamaan, Andri juga memutuskan untuk tinggal bersama nenek dengan alasan serupa, menolak ikut keluarganya pindah ke kota lain mengikuti dinas ayahnya.

Andri yakin pada alarm yang sudah ia setel sesuai tanggal kelahiran Maya. Ia ingin memberikan kejutan pada gadis itu, membuat perayaan sederhana yang manis sebagai kado hari ulang tahunnya yang ketujuh belas.

Sweet seventeen for you, Maya. Sudah seharusnya menjadi momen yang tak terlupakan, batin Andri seraya memastikan segala sesuatunya untuk pesta yang akan dihelat Andri nanti malam.

Maya duduk termenung menatap sebuah kado berukuran mungil yang manis di pangkuannya. Gadis berhijab syari itu terlihat enggan membuka kotak bersampul kertas warna-warni bermotif bunga-bunga kecil yang diperolehnya dari salah seorang teman sekelasnya.

“Kado imutnya dari siapa?” tanya Andri membuyarkan lamunan Maya pada barang yang masih merebut perhatiannya.

“Oh, Hai, Dri … ini, hmm … ini dari Indra, dia bilang ini kado ulang tahun buat aku,” jawabnya sedikit enggan.

“Kamu harusnya seneng dong, May … kenapa malah kelihatan suntuk begitu?” tanyanya lagi tanpa mampu menutupi rasa penasaran atas ekspresi yang ditampilkan Maya sejak menerima kado itu tadi pagi.

Well, May … kamu seharusnya lebih senang lagi setelah menerima kado spesial dari aku malam nanti, bisik hati Andri sembari menatap teduh sosok yang telah menawan hati pemuda gagah berusia delapan belas itu.

“Hm, aku sebenarnya ingin menolak. Sudah kukatakan padanya kalau aku tidak merayakan ulang tahunku dan tidak akan pernah lagi sejak aku mengerti …” Lalu ucapannya terhenti.

Andri masih menanti gadis itu menyelesaikan kalimatnya, dia juga penasaran dengan alasan yang akan diutarakan gadisnya.

“Itu tradisi yang tidak Islami, Dri … dan aku tidak ingin latah ikut-ikutan merayakan sesuatu yang tidak dituntunkan oleh qudwatunhasanah kita, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wassalam,” tegas Maya seraya melayangkan tatapan tajamnya sekilas ke arah pemuda yang ia sadari bukan mahramnya itu.

“Tapi apa salahnya menerima kado?” kejar Andri. Maya tersenyum seraya mengalihkan pandangannya kembali pada hadiah yang ia terima tadi pagi.

“Kamu benar, nggak ada salahnya. Tapi juga tidak mesti dikhususkan di hari kelahiran juga kali, Dri … lagian kenapa Indra harus ngasih aku kado, seingatku dia nggak ada ngasi Feby, Citra atau anak cewek lainnya di hari ulang tahun mereka? Kalo akunya jadi salah paham, gimana? Bikin ngotor-ngotori hati aku aja, kan!” jawabnya sedikit ketus dan menjadi terlihat menggemaskan di mata Andri.

“Jadi kesimpulannya kamu nggak ingin ulang tahunmu dirayakan? Kamu juga nggak suka dikasih kado dari orang yang bisa bikin kamu geer? Kalo aku yang ngasih kado untukmu, apa kamu akan salah paham juga?” Dengan hati-hati Andri mengajukan pertanyaan pada gadis yang terlihat sedikit kesal di hadapannya. Si gadis membesarkan bola matanya, pipinya merona seketika.

“Nih, buat kamu aja, kalian cowok tuh ya, sama-sama nyebelin. Catet ya, Dri! Nggak ada perayaan ulang tahun di kamus hidupku, tolong kalian para pria jangan goda-goda aku, aku nggak mau terkena virus merah jambu!” Maya bergegas meninggalkan Andri yang terpana dengan kado yang diberikan oleh gadis itu kepadanya.

Dia masih tertatih mencerna kata demi kata yang diucapkan Maya yang kini telah menghilang di balik pintu kamarnya. Dia mengakui banyak yang masih belum ia pahami. Ia tidak serajin Maya yang aktif mengikuti kajian rohis di musala sekolah mereka. Namun, hatinya sama sekali tidak menolak apa yang sudah disampaikan oleh Maya.

Jika memang ia tidak ingin merayakan hari ulang tahunnya dengan alasan seperti apa yang sudah ia katakan sebelumnya, maka ia akan menghormatinya. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang hanya akan mendatangkan kemurkaan seorang Maya, lebih dari itu hati kecilnya bertekad. Setelah ini dia akan lebih rajin mengikuti kajian keislaman seperti yang Maya lakukan. Dia ingin belajar lebih banyak agar dapat beramal dengan benar sesuai syariat.

Its okay, if there’s no birthday party, we can still enjoy our life after all, pikirnya. Andri menyungging sebaris senyum penuh arti. Alhamdulillah, aku dapet ilmu lagi dan jadi termotivasi untuk menuntut ilmu lebih getol lagi mulai hari ini, serunya dalam hati.

Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment