LENTOG TANJUNG

“Hani! Ayo cepat,” Suara Ibu terdengar dari luar.

“Iya Bu, sebentar, beresin tas dulu,” ucapku dari dalam kamar.

Hari ini, kami sekeluarga akan pergi mengunjungi nenek di Kota Kudus. Salah satu kota yang terletak di daerah Pantura, Jawa Tengah.

Liburan kenaikan kelas sudah tiba. Aku naik ke kelas XI dengan nilai yang baik. Aku berharap liburan kali ini bisa melakukan aktivitas yang menyenangkan dengan mengunjungi rumah nenek, ibunya Mama di luar kota.

Mama adalah anak nenek paling tua. Sebagai anak sulung yang tinggal di luar kota, Mama mempunyai jadwal rutin untuk mengunjungi beliau nenek. Kami biasa mengunjungi nenek ketika lebaran dan liburan sekolah seperti sekarang ini.

Ada yang aku kangeni setiap kali datang ke Kudus, yaitu makanan khasnya yang rasanya sangat enak dan lezat. Namanya lentog Tanjung, yang artinya, makanan lentog yang berasal dari Desa Tanjung.

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih empat jam dari kotaku, sampailah kami di Kota Kudus. Kami segera menuju rumah nenek di desa tanjung. Tidak berapa lama, sampailah kami di sana.

“Asaalammualaikum.” Aku, Papa, Mama, dan Dio adikku mengucap salam.

“Waalaikumsalam.” Terdengar suara Tante Yeni, membalas salam kami dari dalam.

“Ayo, silakan masuk.” Tante Yeni menyilakan kami masuk.

“Alhamdulillah, kalian sudah sampai.” Kali ini suara nenek menyambut kami.

Kami berempat, bergantian mencium tangan nenek. 

“Aku kangen makan lentog Tanjung Nek, besok kita sarapan itu, ya.” Ucapku dengan penuh semangat.

“Oke, besok kita sama-sama sarapan ke warung lentog Tanjung yang ada di dekat rumah, ya.” Nenek berkata sambil mengusap rambutku.

Selepas makan malam, kami berbincang-bincang dengan nenek dan Tante Yeni melepas kangen. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, aku dan Dio pamitan untuk istirahat.

Pagi harinya, aku dan keluarga besar nenek segera bersiap untuk menuju warung yang menjual lentog Tanjung. Dengan menaiki mobil kami berangkat. Tak lama kemudian, sampailah kami di warung itu. Suasana masih belum ramai. Kami memilih duduk lesehan.

Kami pun memesan lentog Tanjung. Tidak membutuhkan waktu yang lama, tersajilah makanan khas daerah nenek itu di depan kami.

Aku sudah tak sabar ingin mencicipi masakan itu. Irisan lontong yang disiram kuah lodeh dengan tambahan sayur gori dan tahu, disajikan dalam piring ukuran sedang. Taburan bawang merah goreng di atasnya menambah nikmat rasa lentog itu.

Sebagai menu tambahan, biasanya penjual menyediakan sate telur puyuh bacem dan aneka gorengan, seperti bakwan dan tahu isi. Tidak ketinggalan juga, kerupuk.

“Nah, ayo makan yang banyak, mumpung di sini,” kata Nenek sambil tersenyum.

“Siap! Nek,” ujarku sambil tertawa.

Setelah membaca doa segera kusantap makanan itu. Rasanya benar-benar lezat. Aku benar-benar merasa bahagia, bisa menikmati lagi makanan khas daerah nenek ini. Sepertinya tidak akan pernah bosan memakannya.

“Besok bikinin sendiri kayak gini, ya Ma,” kataku pada Mama.

“Kalau Mama yang bikin, rasanya tidak selezat ini, Han.” Mama tersenyum.

Aku tertawa mendengar jawaban mama. Sepertinya memang harus datang ke Kudus sendiri, kalau ingin menikmati lentog Tanjung. 
Rasanya yang lezat itu, masih menempel di lidah sampai suapan terakhir.

Ulfah Wahyu
Ulfah Wahyu

Latest posts by Ulfah Wahyu (see all)

Related posts

Leave a Comment