Pergi Tanpa Pesan

“Kapan nenek datang, Ma?“ tanya Farid. Lelaki kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang nenek.

“Besok, Sayang. Kenapa?“ balas Susi pada si bungsu.

“Nenek sudah janji kalau datang nanti akan masakin Farid ayam panggang,“ jawabnya dengan mata berbinar.

“Wah, kakak boleh ikut makan nggak, Dek?“ tanya Fitri penuh harap.

Ayam panggang nenek memang sangat enak. Terakhir kali nenek memasaknya saat Farid disunat tiga tahun yang lalu. Saat itu Fitri tidak boleh ikut makan karena ayam itu hanya untuk yang disunat saja.


“Boleh, Kak. Kan bukan ayam sunat lagi,“ jawab Farid.

Susi tersenyum mendengar celoteh anak-anaknya. Dia ingat sewaktu kecil juga selalu mengharapkan kedatangan neneknya karena setiap kali berkunjung, nenek pasti membawa ketan kuning serundeng kesukaan Susi.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.

Biasanya Susi malas untuk menjawab, tetapi kali ini masih dengan ragu-ragu, dia menjawabnya.

“Dengan Bu Susi?“ tanya suara di seberang.

“Iya benar, dengan siapa ini?“ tanyanya balik.

“Saya petugas Rumah Sakit Suara Hati, ada seorang pasien dibawa ke sini. Nomor ibu adalah nomor terakhir yang dihubungi pasien.

Jantung Susi hampir lepas. Orang yang terakhir menghubunginya adalah Mama.

Hati kecilnya berharap, pasien itu bukan mamanya.

“Halo, halo, Bu?“ tanya suara di seberang.

“I… Iya, Bu, saya masih di sini, “ jawabnya.

“Apa bisa Ibu datang ke rumah sakit? Kami tidak menemukan KTP korban,“ pinta petugas rumah sakit yang ternyata bernama Mira.

“Korban? Korban apa, Bu?“ tanya Susi panik.

Farid dan Fitri yang sejak tadi memperhatikan Susi, saling pandang kemudian mendekat dan memegang tangan Susi.

“Sebaiknya Ibu datang langsung ke rumah sakit,“ lanjut Mira.

“Baik, Bu. Saya berangkat sekarang.“ Setelah pamit pada anak-anak dan meminta izin pada suaminya, Susi berangkat dengan menggunakan taxi daring.

Sepanjang perjalanan pikirannya kacau, air mata terus berjatuhan. Ingat akan peristiwa naas lima belas tahun yang lalu.

Ketika itu, neneknya memaksa berkunjung karena hari itu ulang tahun Susi. Nenek membawakan ketan kuning serundeng kesukaannya. Tetapi di tengah perjalanan, nenek mengalami kecelakaan. Kehilangan orang yang dicintai dengan cara seperti itu sangat berat. Bertahun-tahun Susi menyesal, seandainya saja nenek tidak memaksa datang dan menunggu dirinya yang berkunjung di akhir pekan. Namun apa daya, dia tidak bisa mengubah takdir.

“Sudah sampai, Bu,“ tegur pak supir.

“Terima kasih, Pak,“ jawab Susi singkat.

Baru kali ini, Susi tidak berbincang dengan pengemudi yang mengantarnya.

Di rumah sakit, Susi menemui Mira yang kemudian mengajaknya ke kamar mayat.

Susi tak sanggup menahan air mata.

Belum sempat memasuki ruangan serba putih itu, ponselnya berdering.

Sang suami menelepon. Mira dengan sabar menunggu sementara Susi menjawab panggilan.

“Ma, aku baru saja menelepon Mas Bayu, Ibu baik-baik saja di rumah. Bukan ibu yang ada di rumah sakit. Kamu yang kuat, ya.“

Susi sangat lega. Kemudian dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang sempat membuat trauma itu.

Ketika penutup kepala dibuka, Susi melihat seorang wanita muda yang ditemuinya beberapa hari lalu di acara tupperware party.
Wanita itu meminta nomer ponselnya dan memberitahu nomernya dengan cara melakukan panggilan ke nomer Susi.

Walau merasa lega karena korban bukan ibunya, Susi merasa kasihan dengan wanita itu. Entah apa yang terjadi padanya. Susi hanya bisa mengirimkan Al-Fatihah.

***selesai***

 

 

Natasha Panjaitan-Karg

Latest posts by Natasha Panjaitan-Karg (see all)

Related posts

Leave a Comment