‘Ngidam’ Masakan Nusantara

“Sini, mas suapin,” bujuk Mas Arya sambil mengangkat sesendok mahakaryanya ke arahku untuk kucicipi. Kepalaku refleks menggeleng, lalu berpaling dari potongan daging lezat beraroma aneka rempah kekayaan Indonesia yang semula menari-nari dalam benakku. Namun, entah kenapa seketika nafsu makanku hilang begitu saja.

“Dikiiiit aja, Sayang. Mas sudah bela-belain ikut kelasnya chef hotel bintang lima loh, demi masakin kamu rendang yang katanya kamu doyan ini,” bujuknya lagi dengan gigih.

Aku mengatupkan kedua bibirku dengan rapat. Kali ini ditambah dengan telapak tangan kanan menutup mulutku, sementara telapak tangan satunya menghadang sendok yang bergerak perlahan menuju ke arah mulutku.

Mas Arya akhirnya menyerah. Dikembalikannya sendok berisi potongan daging rendang itu kembali ke mangkuknya. Dia tersenyum menatap wajahku yang menegang. Ya Tuhan, dia bahkan tidak marah.

Mas Arya menjauhkan mangkuk rendang buatannya dari hadapanku. Dia bergerak mendekat seraya menarik kepalaku ke dadanya. Satu tangannya membelai rambutku dengan lembut.

“Sayang, kamu kenapa, sih? Masih mual, ya?” bisiknya lembut di telingaku. Aku mengangguk lemah sambil lanjut membenamkan wajahku di dadanya.

Ini semua gara-gara aku ngidam masakan khas nusantara. Mas Arya yang memang hobi masak jadi tertantang ikut kelas chef ternama demi mempelajari berbagai resep masakan khas daerah, terutama yang terkenal dan yang aku inginkan.

Pagi ini aku merengek minta ia memasakkan rendang untukku. Namun, apa daya tiba-tiba aku kehilangan selera makan karena mual yang kembali melanda.

“Mas ambilin air hangat dulu, ya? Biar mualnya agak legaan.” Mas Arya melonggarkan pelukannya, lalu bergerak mengambil air hangat untukku.

“Mas, gimana kalo soto betawi aja, aku tiba-tiba pengen yang hangat dan berkuah,” rengekku.
Mas Arya tersenyum menanggapi permintaanku.

“Kamu yakin?” tanyanya sambil mengerling dengan jenaka, menggodaku.

Aku memasang tampang memelas. Bibirku manyun merespon pertanyaannya.

“Ya, sudah, aku pesan online aja.” Tanganku mencari-cari ponsel yang seingatku masih tersimpan di dalam tas kantor. Di kepalaku menari bayangan kenikmatan kuah soto betawi hangat nan lezat, mengingatkanku pada soto betawi buatan nenek yang kuahnya sarat akan rempah dan kaldu, berpadu menggugah selera.

Terbayang di pelupuk mataku kepulan asap tipis yang keluar dari panci cantik yang masih bertengger di atas kompor. Betapa nikmatnya kuah soto itu dimakan panas-panas. Aku sungguh menginginkannya, jerit hatiku sambil menelan air liur di tenggorokan.

“Oke … oke … Mas pergi beliin, soto betawi yang di kios depan aja ya?” tanyanya sambil meraih kunci kendaraan di atas kulkas. Aku menghela napas lega, lalu menghadiahinya senyum manis dan kecupan.

Mas Arya baru saja akan mengenakan sandal gunung saat tiba-tiba aku terdorong menghentikannya.

“Mas, nggak jadi! Aku pengen sate kambing aja … pengeeeen banget, plisss!” pintaku seraya meremas telapak tangannya dengan manja. Arya tergelak, lagi-lagi dia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan gemas.

“Sayang, makan itu pakai iman … ngidam itu nggak ada, ayo kendalikan nafsumu.” Lembut dijitaknya kepalaku sebelum kemudian diciumnya mesra, melelehkan hatiku.

Iya Mas, maafin aku, bisik hatiku malu.

Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment