Surat untuk Bayu

Rosi berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruang kelas IPS 1, yang menjadi tempatnya belajar selama ini. Setelah jam pelajaran berakhir, dia bergegas merapikan buku dan alat tulisnya, kemudian berjalan menuju kelas IPS 2 yang berada di ruang sebelah. Di depan kelas IPS 2, sudah menunggu Ayu, sahabatnya sejak SMP. Dia tersenyum. “Sudah kutulis suratnya, Yu, tolong kamu kasihkan ke Bayu, ya!” ucapnya dengan nada ceria. Tangannya mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah muda dari dalam tas. “Oke, nanti aku sampaikan ke Bayu. Kalau sudah dibalas, aku kasihkan ke kamu,” kata Ayu sambil tersenyum manis.…

Cinta Sejati Putri Maheswari

Malam semakin larut. Udara dingin mulai terasa menusuk. Putri Maheswari masih terjaga. Tubuh moleknya terduduk gelisah di tepi ranjang. Mata sayunya menatap tajam ke arah jendela dengan cemas. Ia seperti tengah menanti sesuatu. Tidak berapa lama kemudian, terdengar ketukan lembut dari luar jendela. “Kakang Kendiri, engkaukah itu?” tanya Maheswari setengah berbisik pada celah kecil di jendelanya. “Iya, Dinda Putri.” Terdengar suara pelan lelaki pujaan Putri Maheswari. “Kakang, betapa aku merindukanmu. Kapan kita dapat melewati waktu bersama seperti dulu lagi?” bisik Maheswari sambil terisak sedih di celah jendela kamarnya yang dingin.…

Pergi Tanpa Pesan

“Kapan nenek datang, Ma?“ tanya Farid. Lelaki kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang nenek. “Besok, Sayang. Kenapa?“ balas Susi pada si bungsu. “Nenek sudah janji kalau datang nanti akan masakin Farid ayam panggang,“ jawabnya dengan mata berbinar. “Wah, kakak boleh ikut makan nggak, Dek?“ tanya Fitri penuh harap. Ayam panggang nenek memang sangat enak. Terakhir kali nenek memasaknya saat Farid disunat tiga tahun yang lalu. Saat itu Fitri tidak boleh ikut makan karena ayam itu hanya untuk yang disunat saja. “Boleh, Kak. Kan bukan ayam sunat lagi,“…

Predestined

Suara riuh rendah terdengar dari gazebo di teras belakang rumah. Di sana sedang berkumpul keluarga besar Bayu yang hampir semuanya menampakkan wajah cemas dan murung. Kecuali Opa yang tertidur di kursi roda dan Bayu yang sedang membaca buku di dekatnya. Dua hari lagi, nasib Papa Bayu dipertaruhkan. Apakah dihukum mati atau dipenjara seumur hidup. Hampir dua puluh tahun papanya di penjara atas tuduhan makar. Keluarga besar dan berbagai pihak yang membantu telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi belum membuahkan hasil. Semua saksi dan bukti yang dihadirkan seolah mengarah kepada Papa Bayu.…