Tak Akan Hilang

Dua puluh tujuh tahun yang lalu kupeluk tubuh mungilnya. Danish Anthony Halim, itu nama yang diberikan oleh suamiku untuknya. Danish, berarti bijaksana dan berpengetahuan, sedang Anthony, dalam bahasa latin memiliki arti tak ternilai. Abraham Halim, suamiku berharap kelak putra ketiganya ini akan menjadi lelaki yang bijaksana, berpengetahuan, dan tak ternilai dimanapun ia berada.

Di antara kelima anakku, Danish adalah yang paling lembut perangainya. Saat masih kecil, ia lebih sering menyendiri bersama buku-buku bacaannya, dan satu-satunya teman dekat Danish yang kukenal baik adalah gadis itu, wanita yang kini memenangkan hatinya. Rumaysha Zahrawein, putri Haji Shalih, tetangga sebelah rumah kami.

Dari sekian banyak wanita, aku tak mengerti mengapa Danish bersikeras memilih Aysha, muslimah anggun yang juga teman semasa kecilnya untuk dipersunting. Padahal tidak sedikit wanita cantik berkeyakinan yang sama dengan keluarga kami, kuperkenalkan padanya.
She’s the apple of my eyes, I love her at the first sight dan entah berapa banyak alasan lain yang ia utarakan untuk menangkis permintaanku melupakan gadis pujaannya itu.

“Danish, Mom suka sama Aysha, tapi kamu sendiri tahu kan, kalau keyakinan kita berbeda dengannya. Kalian tidak mungkin bersatu, orang tuanya juga pasti tidak setuju,” bujukku menyadarkannya.

Namun, ia hanya tersenyum, mencium dahiku dengan lembut. “Mom, I love you,” bisiknya. Oh, Danish, anakku. Kamu membuat hati Mommy meleleh, Nak.

Aku menyadari usaha Haji Shalih untuk menjauhkan putrinya dari anakku. Jelang remaja, Aysh didaftarkan ke pesantren olehnya dan setahun kemudian Danish pun dikirim oleh suamiku ke Singapura untuk melanjutkan studinya. Finally, its over, pikirku. Kuyakin memisahkan keduanya adalah yang terbaik.

***
Setelah menyelesaikan program pascasarjananya di James Cook University Singapore, pekan lalu Danish kembali.

Mom, I hope you understand,” digenggamnya kedua belah tanganku.

Kurasakan hempasan badai menghantam jiwaku ketika ia mengakui keislamannya. Sebulan yang lalu, di bawah kubah Masjid Sultan ia ucapkan kalimat syahadat menandai kebulatan tekadnya memeluk agama Islam. Hanya Abraham yang tahu karena ternyata sejak lama ia telah mengizinkan putranya mempelajari islam terlebih dahulu. Ia bahkan telah memberikan lampu hijau untuk Danish menjadi seorang mualaf sebelum meninggalkan tanah air, tujuh tahun yang lalu.

Hancur hatiku, apa sebetulnya yang ada di kepala dua manusia itu? Jujur aku juga sangat kecewa pada Abraham. Bagaimana mungkin dia merelakan darah dagingnya melakukan perbuatan itu, tidakkah ia takut kehilangan salah satu putra terbaiknya? Tidakkah ia merasa dikhianati. Putranya lebih memilih gadis yang ia cintai daripada keluarganya sendiri? Aku sungguh tidak bisa menerima ini, anak kandungku. Anak laki-laki yang kubanggakan, berpaling dari kami begitu saja. Dadaku sesak menahan kecewa.
***

Dua hari berlalu dan aku masih mendiamkan Abraham. Danish datang bersama Aysha mengabarkan berita pernikahan mereka telah sah secara agama tadi malam. Aku bergeming di sofa kamarku. Aysha bergerak mendekati, dengan takzim diciumnya punggung tanganku seperti biasa mana kala kami bertemu.


“Mom …,” lembut suaranya terhenti, disusul isak tertahan bersamaan dengan punggungnya yang bergetar. Danish merengkuh bahu gadis itu. Sesekali mendaratkan kecupan di dahi wanitanya. Membujuk istrinya agar lebih tenang di hadapanku.

Tak lama kemudian, Abraham ikut menyelinap masuk ke kamar kami.

“Kita tidak akan pernah kehilangan dia, Sayang. Percayalah, dia masih Danish yang sama seperti yang dulu dengan kualitas cinta yang bahkan lebih besar daripada sebelumnya,” hibur Abraham yang mengambil tempat di sisiku seraya mendaratkan tatapan hangatnya.

“Bagaimana kau tahu? Bagaimana kau bisa begitu yakin dia tak akan berpaling dari kita?” tanyaku lirih. Abraham kemudian memelukku.

“Tanyakan hatimu, tidakkah kau mengenali putramu sendiri?” bisiknya lembut di telingaku.

Seketika air mata mendesak berderai basahi pipiku. Perlahan aku mengangguk. Iya, aku mengenali anakku, Danish yang berhati lembut, berbakti dan penuh kasih. Tangisku pecah seketika seraya membenamkan wajahku semakin dalam di dada suamiku.

Danish dan Aysha berdiri terpaku. Jemari keduanya yang semula bertaut erat terurai, lalu satu demi satu turut memelukku. Abraham benar, dia mengenal dengan baik putranya. Tak ada yang patut kukhawatiri, aku tak akan kehilangannya, dia bahkan memberiku tambahan seorang anak perempuan yang cantik, juga seorang cucu atau lebih suatu hari nanti, jika Yang Maha Kuasa menghendaki.

Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment