Hati Yang Tersakiti

Risma terlihat serius menyiapkan makanan untuk Indra. Dia masih terbaring sakit akibat kecelakaan minggu lalu. Kakinya di balut perban.

“Ris, apakah kamu masih mencintaiku, bila kakiku patah atau jalanku pincang?” tanya Indra iba.

Risma hanya tersenyum dan sibuk mengambil lauk ke piring makan, untuk menyuapi Indra.

Indra menatap wajah kekasihnya dengan jawaban penuh harap.

“Sudahlah Indra, yang penting kamu sembuh dulu,” jawab Risma tenang.

Keesokan harinya perban kakinya Indra dibuka. Jantung Indra berdetak kencang. Ia khawatir tak akan mampu berjalan seperti sedia kala.

“Coba latihan jalan pelan-pelan ya!” saran dokter.

Indra mulai latihan jalan, dituntun Risma. Indra mulai latihan berjalan, meskipun masih terlihat pincang. Wajahnya muram, putus semangat.

“Semangat ya, Sayang. Nanti kamu sembuh kok.” Risma selalu memberi semangat pada tambatan hatinya.

“Besok sudah boleh pulang, ya! Jangan lupa kontrol minggu depan,” ucap dokter pada pasiennya.

Indra begitu bahagia mendengar ucapan dokter bahwa ia sudah boleh kembali ke rumah.

………

Pagi ini, Indra semangat menjelang pulang. Wajahnya cerah. Ia berusaha merapikan semua baju-bajunya walau jalannya masih pincang.

“Waaah, yang mau pulang, senangnya,” gurau Risma pada tambatan hatinya, sembari mengedipkan matanya. Risma melihat jalannya Indra masih pincang. Ada kesedihan yang mendalam di hati Risma, namun sengaja Risma menyembunyikan rasa sedihnya.

Hari demi hari, kondisi Indra belum juga berubah, walaupun sudah sering kontrol ke dokter. Indra sudah mulai putus asa. Dia merasa tidak akan kembali bisa berjalan dengan sempurna.


“Apakah saya masih bisa berjalan normal lagi seperti dulu, Dok?” tanya Indra di saat kontrol ke dokter.
Seperti biasa, Risma selalu setia menemani kekasihnya setiap kontrol ke dokter.

“Iya, kita lihat saja nanti ya, semoga bisa berjalan normal lagi. Tulang kakinya sudah rapuh sekali,” ujar dokter.

Indra begitu sedih mendengar ucapan dokter itu. Risma dapat merasakan apa yang dirasakan tambatan hatinya.

……

Semakin lama Indra semakin tidak bersemangat menjalani aktivitasnya. Mulai rasa tak percaya diri timbul, dengan keadaanya yang belum juga pulih untuk berjalan normal kembali.
Indra pun sudah mulai tak yakin pada kekasihnya, bila Risma akan selalu setia dengan keadaannya. Walaupun sekarang Risma masih tetap setia padanya, tetapi ia sadar, sebenarnya banyak pria yang jatuh hati kepada kekasihnya yang cantik itu.

“Assalamualaikum, Indra.”
Tiba-tiba Risma datang ke rumah Indra, untuk sekedar main dan melepaskan rasa rindunya.

“Assalamualaikum….”

‘Risma, kembalilah pulang, jangan harapkan aku lagi. Aku bukan yang terbaik untukmu,’ guman Indra dalam hati.
Pintu pun tak jua di buka oleh Indra. Risma sudah begitu lama menunggu di teras rumahnya. Akhirnya dengan rasa sedih, ia pulang kembali ke rumahnya.

Ketika malam tiba, sembari rebahan di tempat tidurnya, Indra berniat untuk menelepon kekasihnya.

Kriiing …

Bunyi telepon Risma berdering. Bergegas Risma mengangkat teleponnya. Jantungnya berdebar-debar ketika ia lihat, Indra yang meneleponnya.

“Halo, sayang, apa kabar? Kok aku ke rumah kamu, enggak di buka pintunya, kenapa?” sapa Risma di telepon.

“Maafkan aku, Risma, sepertinya aku bukan yang terbaik untukmu. Lupakanlah aku, di luar sana masih banyak pria yang lebih baik dari aku yang akan mencintaimu,” jawab Indra tegas.

Tiba-tiba telepon langsung di tutup oleh Indra.

Risma terkejut dengan cara Indra memperlakukannya.

Kriiing….
Kriiing….
Kriiing….

Risma menelepon Indra. Masih penasaran apa yang Indra katakan kepadanya. Namun telepon tidak juga diangkat oleh Indra, hingga beberapa kali Risma mencobanya kembali.

Hati Risma begitu teriris dengan kejadian mendadak seperti ini. Dia tak menyangka pujaan hatinya akan setega itu.

#fikminJA
#timganjil

Fifi Anwar
Fifi Anwar

Latest posts by Fifi Anwar (see all)

Related posts

Leave a Comment