Takdir Shasya

“Sya, kamu mau kemana?” tanya Dhian sambil menghalangi langkah kaki Shasya. 

“Aduh, Dhi!” teriak Shasya hampir jatuh.  “Aku mau bimbel, buru-buru nih,” teriak Shasya lagi.  

“Sya, kenapa, sih akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dari kita?” tanya Mely seraya menghampiri Shasya dengan nada penuh selidik. 

“Iya, kamu sekarang sibuk dengan dunia kamu sendiri, pulang duluan, ngumpul ga pernah, menghilang terus, mana janji setia mu sama ‘Three Angels’,” berondong Dhian tanpa tedeng aling-aling. 

Shasya sejenak berdiri dan mematung.  Kemudian dengan tenang, ia pandangi satu persatu sahabat dekatnya itu.  Sambil menatap lekat seraya berkata, “Maafkan aku, ya.” 

Sudah tiga pekan ini pertemanan Shasya, Mely, dan Dhian tidak lagi berjalan dengan kompak.  Kelompok tiga gadis dengan sebutan ‘Three Angels” itu sedang diuji. 

Mely, si cerdas dan kutu buku.  Ia gadis berkulit kuning  pucat bermata sipit dan berbadan bak gitar spanyol, diam-diam sedang didekati Hendri.  Pemuda terpopular seantero sekolah, jago basket, dan menjabat sebagai ketua OSIS.  Pasangan yang sungguh sempurna. 

Dhian, atlet bola voli terkenal dengan badan tinggi semampai. Memiliki kulit hitam manis dan berlesung pipit.  Sangat ramah dan murah senyum.  Ia periang dan kadang juga meledak-ledak.  Pesona Dhian itu membuat sebagian besar siswa di sekolah memujanya.  Banyak yang mencoba mendekati, tetapi belum ada yang berhasil memikat hati Dhian, kecuali satu orang yang bernama Ardiansyah Taufik.  Tokoh populer juga, pemuda cerdas kelas 12 IPA 3, kakak kelas dan penjaga gawang andalan kesebelasan SMUN 2 Cirebon.  Selama tiga pekan ini, pemuda bermata sayu dan berambut ikal si penjaga gawang itu telah menjaga hati Dhian.

Dan Shasya?  Gadis yang paling biasa diantara dua sahabatnya itu.  Raihan nilai akademisnya tergolong rata-rata. Tidak ada bakat seni maupun olahraga yang menonjol.  Selain senyuman manis dari gigi yang ginsul, penampilan fisik Shasya biasa saja.  Tinggi tubuhnya sedang dan berkulit sawo matang.  Dibanding Mely dan Dhian, Shasya terlihat lebih lugu dan polos khas gadis desa.

Si gadis biasa itu saat ini hatinya tengah masgul.  Dalam tiga pekan terakhir, ia melihat dan merasakan getar-getar cinta yang tengah berlangsung pada kedua sahabatnya.  Ada rasa senang Shasya rasakan, tidak dapat dipungkiri, rasa iri juga menyelinap dalam hati. 

“Ya Tuhan, mengapa kau ciptakan aku biasa saja, mengapa kau takdirkan aku seperti ini, aku juga ingin menjadi gadis yang sempurna dan dicintai seperti mereka,” ratapan yang terus berulang dalam hati Shasya.

 “Tot..Tot..” suara klakson bus kota membuyarkan lamunan Shasya. 

Sambil bergelantungan ke kiri dan kanan, Shasya terus meratapi takdirnya.  Keadaan penuh sesak bus kota yang ditumpangi pun tak dihiraukan. 

“Mbak, itu ada kursi kosong satu,” terdengar suara serak-serak basah milik laki-laki dari belakang Shasya.  Dengan sedikit terkejut, Shasya menoleh ke belakang. 

Dilihatnya seorang pemuda berbadan kekar, berkulit putih bersih, berambut ikal, beralis tebal dan sorot mata tajam sedang menunjuk sebuah kursi kosong. 

“Oh, iya makasih, Mas,” ucap Shasya sambil bergegas duduk. 

Lelaki yang berdiri itu lalu menyapa dan membuka percakapan dengan Shasya.  Namun, tidak lama kemudian, Shasya menghentikan laju bus kota.  Bergegas ia turun karena telah sampai ditempat bimbingan belajar yang dituju.

Dan keesokan harinya.  “Sha, Sha, Shasya …,” teriak Dhian dan Mely bersamaan dari arah halaman sekolah sambil berlari-lari. 

“iya, apa sih, berisik banget,” ketus Shasya dari arah toilet. 

“Sha, itu ada yang mencari kamu, Sha. Kamu kenal dia di mana?” cerocos Dhian enggak berhenti. 

“Apa, sih?” Shasya balik tanya dengan wajah kebingungan. 

“Sha, kamu selama ini tega,” kata Mely dengan wajah cemberut.

“Sha, kamu kenapa tidak cerita, selama ini kenapa menyimpan rahasia dari kita?” ganti Dhian yang bertanya.  

“Kamu melanggar janji, mengapa kita tidak dikasih tahu, kalau kamu …,” belum beres Dhian mencecar Shasya, tiba – tiba seorang pemuda bertubuh kekar dan berambut ikal yang tidak asing di mata Shasya datang menghampiri. 

“Halo, Shasya,” sapanya kemudian yang membuat Shasya terlonjak kaget dan heran.

“Maaf, ya, aku datang mengagetkan kamu, aku mau mengembalikan ini,” terang pemuda itu.

Ia menyerahkan buku latihan soal matematika Shasya yang tidak disadari, terjatuh di dalam bus kota.  Shasya masih terpaku, mulutnya ternganga. 

“Sha, Aku tunggu di mobil ya, aku mau antar kamu pulang,”  kata pemuda itu setengah berbisik mesra kepada Shasya. 

Shasya yang masih terpana, hanya menganguk pelan. Badannya serasa lemas, tetapi ada desir-desir bahagia.

“Shasya, kamu keren, hebat,” lonjak Dhian sambil memeluk sahabatnya itu. 

“Apaan, sih,” kata yang terus terlontar dari mulut Shasya. 

“Shasya, kamu ternyata pacarnya Raden Mas Tumenggung Arya Wiralodra, pangeran, putra mahkota dari Kesultanan Cirebon,” Pekik Mely menggoda.

Annisa Cholirohmani

Latest posts by Annisa Cholirohmani (see all)

Related posts

Leave a Comment