Senyum Rasya

Kak Tasya terlihat gelisah. Sejak selesai di-make up ia mondar-mandir terus. Bahkan kursi yang tersedia untuknya belum sekalipun ia duduki. Sirat kecemasan begitu nyata terbaca di wajahnya. 

“Tenanglah, Kak. Insyaallah, semuanya baik-baik saja,” kataku berusaha menghiburnya. Meskipun aku sendiri sebenarnya tidak yakin. 

Syukurlah, Kak Tasya mau mendengar kata-kataku. Sambil duduk, bibirnya tak berhenti melafazkan zikir. 

Sesungguhnya, aku tidak mau menghadiri pertunangan Kak Tasya, kakak semata wayangku yang jelita. Tak sanggup rasanya membayangkan kebahagiaan mereka, tertawa, dan  bergembira bersama tunangannya. 

Kak Tasya beruntung mendapatkan Kak Rama, lelaki yang mencintai dan dicintainya. Andai saja bukan atas nama keluarga, aku pasti sudah pergi entah ke mana. Yang pasti tidak ada di rumah dan tidak melihat mereka. Namun, karena hanya aku satu-satunya saudara kandung Kak Tasya, aku terpaksa menurut. Apalagi kalau bukan demi kehormatan orang tua. 

Sejak awal perkenalan dengan Kak Rama, aku sudah mulai menyukainya. Kupikir perasaan Kak Rama padaku juga sama. Dia selalu ramah, bicaranya lembut dan penuh perhatian. Aku selalu tersanjung jika sedang bersamanya.

Namun, prasangkaku ternyata salah total. Kak Rama bukan tertarik kepadaku melainkan Kak Tasya. Aku saja yang baperan terhadap sikap Kak Rama atau memang aku yang tidak tahu diri mengharap menjadi kekasihnya? 

Setelah mengetahui rencana pertunangan Kak Tasya dan Kak Rama, aku baru menyadari bahwa kasih sayang Kak Rama padaku hanya sebatas kakak kepada adik. Tidak lebih. Habis sudah harapan bersanding dengan Kak Rama untuk selamanya. Aku tidak mungkin mengkhianati Kak Tasya. 

Sekuat tenaga kutenggelamkan perasaan sakit yang menyayat di dada, saat menyaksikan pertunangan Kak Tasya dan Kak Rama. Gejolak hati ingin memiliki Kak Rama dan segala rasa yang ada, kuhapus bersih tak bersisa. Bagaimanapun Kak Tasya berhak untuk bahagia. 

“Mau ke mana, Sya?” tanya seseorang seraya menggamit tanganku. Hampir saja aku terjatuh jika tidak ditolongnya. Sepatu high heels ini mengganggu keseimbangan. 

“Terima kasih,” ucapku mencoba tersenyum kepada cowok penolong itu sambil menahan rasa malu. 

“Sama-sama. Aku yang harusnya minta maaf karena membuatmu hampir jatuh. Kamu tidak apa-apa, kan?” tanyanya dengan tatapan khawatir. Aku menggeleng. 

“Kamu tadi memanggilku? Apakah kita saling mengenal?” tanyaku penasaran. Kusimak baik-baik detil wajahnya, tetapi memoriku tidak menemukan jawaban. 

Cowok itu tersenyum lebar hingga sederet giginya yang putih kelihatan. Mata coklatnya berbinar. Ia tampak senang dengan pertanyaanku.

Sejurus kemudian dia bertanya, “Apa yang kamu ingat tentang nama Arman?”  

Agak lama aku memandanginya dengan seksama. Sementara otakku bekerja keras untuk menggali informasi tentang sebuah nama ‘Arman’. Aku sangat terkejut saat berhasil mengingatnya. 

“Arman?!” seruku setengah berteriak.

Ia tertawa melihat ekspresi spontan yang mungkin menurutnya lucu. Untung saja bunyi vokal live music di panggung lebih keras dari suaraku. Jika tidak, aku pasti menjadi pusat perhatian orang-orang di ruangan itu. 

Aku ingat sekarang. Arman adalah teman masa kecilku waktu di SD. Tepatnya teman berantem dan berkelahi. Dia satu-satunya cowok di kelas yang suka mengejekku dengan panggilan ‘Rampan’. Rasya tampan.  Dia pindah sekolah waktu naik ke kelas enam. 

“Kamu sekarang berbeda, Sya. Anggun. Enggak tomboy lagi. Eh, jangan-jangan masih jago gelut,” sindir Arman dengan senyum dikulum. Aku hanya tertawa mendengar ledekannya. 

“Kamu juga berubah, Ar. Jadi lebih … tinggi,” ujarku sekenanya sambil menyembunyikan rasa malu yang mendadak merasuki. Mengapa aku jadi memikirkan Arman? 

“Hei! Kenapa diam? Tidak suka bertemu denganku?” tanya Arman menatapku serius. Kedua mata coklatnya menembus jantungku. Ya Tuhan! Apa yang terjadi? 

“Oh, tidak apa-apa. Aku senang, kok,” jawabku agak gugup. Aku tidak mau Arman mengetahui perasaanku saat ini. 

Aku membalas tatapan Arman dengan senyum yang paling manis. Waktu masih panjang. Biarkan saja hari-hari berganti. Mendung yang tadi bergelayut, kini sirna diterpa cahaya mentari.

Bandung, 13 April 2019 

***

titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment