RINDU BAPAK

Wajah tua itu tidak pernah menampakkan rasa lelah, saat aku meminta bantuannya untuk menjemput anak-anak pulang dari sekolah.

Kehamilanku yang sudah memasuki usia delapan bulan, membuat diriku cepat merasa lelah dan berat saat beraktivitas. Beruntung, ada bapak yang selalu siap untuk membantu.

Usianya sudah enam puluh tahun. Namun, beliau masih sehat dan semangat. Mengendarai sepeda motor ke berbagai tempat masih sering dilakukan. 

“Pak, minta tolong jemput Gibran ya. Hari ini, Joni yang biasa menjemput tidak bisa,” ucapku lewat telepon.

“Ya, siap,” suara Bapak terdengar mantap.

Aku pun lega, mendengar jawaban itu.

Ada hal yang membuatku terharu saat Bapak menjemput Gibran. Beliau selalu membawa selendang untuk mengikat tubuh anakku itu dikarenakan seringnya dia tertidur saat di jalan.

“Kalau Joni tidak bisa menjemput, kamu telepon bapak saja,” kata beliau saat mengantarkan Gibran.

“Iya, Pak, terima kasih,” jawabku.

***

Waktu terus berlalu. Aku tidak pernah menyangka, jika ternyata, kondisi kesehatan Bapak mulai menurun. Tubuhnya kehilangan berat badan secara bertahap. Akan tetapi, semangatnya masih luar biasa. 

Hari ini, beliau mengeluh sakit di bagian ulu hatinya. Ada benjolan tumbuh di sana. Aku pun mengantar Bapak melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Bagai di sambar petir, aku terkejut mendengar penjelasan dokter.

“Bapaknya Ibu, menderita kanker hati stadium empat,” suara dokter memecah kesunyian. 

Aku tidak sanggup berkata-kata. Bayangan wajah bapak yang teduh, tidak pernah mengeluh tentang rasa sakitnya, membuatku seperti ditusuk ratusan belati.

***

Hari terus berlalu, minggu berganti dan tahun berjalan. Kondisi kesehatan Bapak terus menurun.

Senja baru saja turun. Aku mendapat kabar dari Ibu kalau kondisi Bapak kritis. Aku dan suami langsung menuju ke sana.

Bapak terbaring di pembaringan. Kondisinya sangat lemah. Napasnya tersengal dan tidak teratur. Aku membisikkan kalimat tauhid di telinganya, membimbing mengucap syahadat dengan berlinang air mata.

Kurasakan detak jantung Bapak berhenti, denyut nadinya sudah tidak ada lagi. Tubuhnya kaku dengan mata terpejam.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucapku pelan.

Hari ini, Bapak meninggalkan kami untuk selamanya, setelah berjuang melawan penyakitnya selama kurang lebih lima tahun.

Hanya doa yang selalu kupanjatkan kepada Allah di setiap waktu dalam salatku. Semoga Allah menempatkan bapak di Surga-Nya.

Ulfah Wahyu
Ulfah Wahyu

Latest posts by Ulfah Wahyu (see all)

Related posts

Leave a Comment