Hampas untuk Oma

Perempuan sepuh yang masih terlihat cantik di hadapanku baru saja terbangun. Dia adalah Omaku.  Setelah beberapa saat terjaga, ia hanya menatap langit-langit kamar rumah sakit.  Matanya seperti menerawang jauh.

“Oma mau makan apa? Nanti Liz suapin, ya,” tawarku kemudian untuk memecah keheningan.

“Percumalah, makanan yang Oma kepengen pasti enggak ada,” jawab Oma ketus dan putus asa.

“Coba Oma bilang dulu! Siapa tahu ada, Liza nanti carikan khusus buat Oma,” rayuku dengan lembut seraya tersenyum pada wanita cantik usia 72 tahun itu.

“Oma lagi pengen makan sama hampas!” jawab Oma kemudian dengan sorot mata yang berbinar.

Hampas? Kayaknya di Jakarta ini enggak ada deh Oma, itu mesti ke ….” Perkataanku terhenti karena Oma langsung membalikkan badannya membelakangiku.

“Tuh kan, Oma sebel! Udah dari seminggu yang lalu Oma kesel sama kalian. Oma minta dianterin ke Majalengka pada enggak bisa, minta hampas enggak bisa. Malah kalian bikin Oma jadi masuk rumah sakit!” Tangis Oma pun pecah, sambil badannya terus membelakangiku.

Ya Tuhan, maafkan aku dan ibuku! Sibuk dengan pekerjaan dan urusan sendiri sehingga lalai dalam merawat wanita spesial ini.  Baru kusadari penyebab tekanan darah dan gula darah Oma meningkat drastis karena ternyata Oma dilanda rindu pulang ke daerah asalnya, kota Majalengka, Jawa Barat. 

Aku lalu mengutuki diriku sendiri.  Apa susahnya sebentar mengantar Oma ke Majalengka?  Toh, cutiku masih banyak dan akses tol Cipali bisa mempercepat perjalanan Jakarta-Majalengka. Hanya butuh waktu tiga jam saja untuk sampai ke sana. Cuti sehari pun cukup untuk mengabulkan keinginan Oma. 

“Oma, nanti besok kalau Oma sudah keluar rumah sakit dan sehat, Liza pasti antar ke Majalengka, ya!” janjiku.

“Tapi, Oma mau makan hampasnya sekarang!” kata Oma manja sambil membalikan badannya ke arahku.

Yes, ngambeknya Oma tidak berlarut-larut. Wait, makan hampas sekarang? Di mana aku harus mencarinya! pikirku dalam diam.

Ke mana aku harus mencari hampas di kota Jakarta ini.  Panganan khas kota Majalengka itu sudah pasti susah dicari.  Tidak pernah aku temukan di supermarket atau bahkan di pasar.  Penganan yang terbuat dari kedelai hitam yang saripatinya telah diperas untuk bahan baku kecap.  Berbeda dengan tempe atau oncom yang merupakan hasil fermentasi.  Hampas sejatinya limbah sisa produksi kecap.

Hampas enak dimasak dengan cara menumisnya bersama cabe hijau atau cabe rawit, bumbunya simpel hanya bawang merah, bawang putih, gula merah dan garam.  Rasanya nikmat dimakan bersama nasi hangat, sambal, ikan asin dan lalapan.  Duh, aku pun jadi ngiler membayangkan makan dengan hampas.

“Liz, ayo atuh cari sekarang, kalau perlu kamu ke Majalengka aja mumpung masih pagi!” kata Oma membuyarkan lamunanku tentang hampas.

“Hah, sekarang ke Majalengka?” sahutku sedikit berat kalau saat ini juga harus pergi ke sana.

“Ehm, siapa yang mau ke Majalengka ini?” Tiba-tiba suara lelaki muda terdengar menghampiri kami berdua, rupanya dokter muda yang merawat Omaku.  Boleh juga! gumamku dalam hati setelah melirik Dokter Arif yang berlesung pipit.

“Ini Dok, Oma saya pengen makan hampas dan meminta saya sekarang juga ke Majalengka!” jawabku pada dokter muda yang terus memandangiku itu.

“Oh, saya berasal dari Majalengka juga loh, kebetulan Mama saya lagi berkunjung dan bawa stok hampas, mau saya bawakan?” Perkataan Dokter Arif itu sungguh di luar nalarku. 

Kok, bisa ternyata dokter itu berasal dari daerah yang sama dengan Oma, mungkinkah ini jodoh? Hush, segera kuhapus lamunan liar itu.

“Wah, terimakasih sekali Dokter Arif, jadi merepotkan. Oma senang sekali!” kata Oma dengan rona bahagia dan mata berbinar-binar.

“Enggak apa-apa Oma, saya senang juga, ketemu Oma dan cucu Oma, jadi seperti punya saudara kalo gini, sama-sama dari Majalengka,” jawab Dokter Arif dengan lirikan manis kepadaku.

Oh, inikah yang namanya hampas membawa jodoh?

Jangan berkhayal terlalu tinggi Liza! gumamku dalam hati.

_END_

#OSOFFday10

#MakananKhasDaerah

#HampasMajalengka

#Familydrama

#606Kata

Raisha Noorman

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Latest posts by AnnisaNoorman (see all)

Related posts

Leave a Comment