Doa Indah Ummi

Pria muda berjanggut tipis itu menganggukkan kepalanya dengan sopan, memberikan senyum sekenanya lalu mengalihkan pandangan. Aku balas mengangguk dan tersenyum. Biodata pria itu telah kuhafal di luar kepala. Farell Hamka, 27 tahun. Lulusan Madinah yang kini mengajar di pesantren yang sama dengan Abah. Anak tunggal Haji Hamka, sahabat Abah sejak aliyah.

Ummi yang sebenarnya bersikeras menyuruhku untuk aku menjalani ta’aruf dengan Kak El, begitu nama panggilan sehari-harinya. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik menjalani proses ini. Di hatiku telah terukir satu nama, sulit sekali rasanya jika harus dihapus paksa, hanya karena dia saat ini masih menyelesaikan studinya di negeri seberang, Singapura.

Memang tidak ada untungnya bagiku harus menanti seseorang yang belum halal, hanya akan mengotori hati. Hanya saja, sudah ada pembicaraan di antara kami sebelumnya. Dia memintaku untuk sabar menunggunya menyelesaikan beberapa urusan. Salah satunya adalah mengondisikan keluarganya agar sudi menerima keputusannya untuk berpindah keyakinan dan ini sejatinya adalah syarat utama dari Abah yang tak akan bisa dibantah oleh langit dan bumi.

Koh Danish, begitu aku biasa memanggilnya. Dia dan keluarganya baru pindah ke rumah di sebelah kediaman kami saat aku berusia lima tahun. Aku masih ingat ketika mereka tiba dengan beberapa truk, membawa perabotan rumah dan lainnya dari luar kota.

Aku yang sehari-hari ditinggal Ummi mengajar, sangat senang ketika mendapat seorang teman baru. Aku tahu Ummi tak pernah berniat meninggalkanku, pasti berat baginya menitipkan aku pada pengasuh. Sedari kecil aku memang sudah terbiasa mandiri tanpa Ummi hingga tak ada alasan bagi Ummi untuk mengelak dari amanah mengajar yang diberikan oleh ayahnya, pemilik pesantren modern di kota kami.

Abah dan Ummi lebih memilih tinggal di luar lingkungan pesantren, di rumah peninggalan orang tua Abah yang diwariskan untuknya. Aku sendiri baru masuk pesantren saat menjelang usia remaja, berbeda dengan Kak Wildan yang sudah mondok sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Keluargaku dikenal cukup baik oleh para tetangga. Hubungan orang tua Koh Danish dan orang tuaku pun berjalan dengan harmonis sebagai tetangga sebelah rumah. Tiada hari tanpa bermain bersama. Kedekatan antara aku dan dia pun terjalin dengan indah. Beberapa kali Abah dan Ummi menasihatiku agar tidak terlalu manja pada Koh Danish. Mereka tidak ingin aku jadi bergantung pada anak laki-laki itu.

Tak jarang Ummi dengan tegas mengajakku untuk ikut saat dia mengajar. Aku sadar Ummi sedang berusaha menciptakan jarak di antara aku dan Koh Danish. Sebagai anak kecil yang polos, tentu saja bermain bersama Koh Danish jauh lebih menyenangkan daripada ikut Ummi ke pesantren dan berakhir di perpustakaan pondok yang sebagian besar kitabnya menggunakan tulisan arab gundul.

“Aysha kesepian ya di rumah?” suatu hari Ummi bertanya. Aku menggeleng cepat seraya menghadiahkan ummi sebentuk senyuman.

“Nggak kok, Mi … Kan ada Koh Danish yang nemenin Aysha main dan belajar setiap hari. Koh Danish itu baik banget deh, Mi … sabaaaaar banget saat ngajarin aku yang kadang memang rada bebal, hehehe.” jawabku dengan keceriaan yang tak dapat kututup-tutupi.

Aku memang merasa begitu bahagia sejak Koh Danish hadir mengisi hari-hariku. Kontras dengan apa yang aku rasakan sebelumnya. Kesepian, kesedihan, dan bermacam bentuk kesuraman lain yang kurasakan manakala Ummi dan Abah melaksanakan panggilan mulia, mengajar di pesantren sebagaimana biasanya. Di rumah aku hanya ditemani Mbak Wuri yang terkadang sibuk sendiri. Aku jarang meminta perhatian darinya karena dia terlalu pendiam dan kaku. Kami bahkan jarang mengobrol dan aku lebih memilih main sendiri di bawah pohon dengan para boneka.

Aku tahu Ummi menjagaku lewat doa-doanya. Ummi sangat menyayangiku bahkan sudi merelakan apa saja agar aku bahagia. Kak El bukanlah pria pertama yang coba ia jodohkan denganku, sebelumnya telah ada sederetan nama yang dia ajukan untuk menjadi pendamping hidupku, yang telah memasuki seperempat abad usia. Ummi ingin aku melupakan kokoh yang notabene berbeda keyakinan denganku.

“Kamu masih berhubungan dengan dia?” tanya Ummi penuh selidik.

“Sangat jarang Ummi, kecuali ada sesuatu yang Kokoh rasa penting untuk diklarifikasi atau hal-hal yang menurutnya penting untuk ditanyakan. Kami sudah sama-sama mengerti tentang pentingnya menjaga sikap sebagai lawan jenis, Ummi. Koh Danish tahu hukumnya berhubungan dengan Aysh, Koh Danish juga sudah pernah dinasehati Abah. Ummi tenang saja, ya …,” pintaku agar ia tidak berpikiran yang bukan-bukan terkait hubunganku saat ini dengan Koh Danish.

Kuakui hubungan ini memang tanpa status. Tidak dapat dibenarkan, mengalir begitu saja tanpa aku bisa melerainya. Namun, kupastikan untuk berhati-hati menjaga sikap agar tidak terjadi kesalahpahaman. Aku dan Danish, sama-sama individu bebas tanpa ikatan selain pertemanan.

“Maafkan, Ummi … seharusnya Ummi bisa lebih banyak waktu membersamaimu sejak dulu. Ummi selalu berdoa agar kamu menemukan pasangan hidup yang akan menuntunmu dan keluarga kalian menuju Jannah-Nya. Ummi percaya padamu … jika Danish memang jodohmu, maka akan Allah berikan jalan agar kalian bisa bersatu dengan cara yang diridai-Nya. Ummi selalu mendoakan yang terbaik bagimu, Sayang.” Ummi memelukku erat . Kurasakan bahunya berguncang, betapa ia menginginkan aku bahagia dalam ketaatan pada-Mu, yaa Robb.
***

“Saya terima nikahnya Rumaysha Zahrawein binti Shalih dengan Mas kawin sebentuk cincin berlian dibayar tunai.” Lantang suara Koh Danish mengucap ijab kabul di saksikan para jamaah sesudah salat Magrib di masjid perumahan kami beberapa waktu yang lalu.

Jantungku masih berdegup kencang sembari meremas tangan Ummi yang tak kalah gugupnya petang tadi. Ummi memelukku cukup lama, air mata kami berderai membasahi pipi. Aku bisa merasakan cintanya yang sempurna berbalut doa-doa indah yang selalu ia panjatkan demi keselamatanku dunia akhirat. Teruslah mendoakan Aysha, Ummi … doa Ummi mengetuk pintu langit, menyibak tabir terbaik dalam kehidupan Aysha hingga akhir masa.

Eka Damayanti
Eka Damayanti

Latest posts by Eka Damayanti (see all)

Related posts

Leave a Comment