CINCIN BERLIAN

Ruang tamu berukuran 5×5 meter itu tampak meriah. Beberapa hiasan tertempel di dinding dan langit-langit.

Sarah tersenyum puas. Hari ini, adalah hari pertunangan dirinya dengan Andre. Laki-laki, temannya semasa SMA yang menjadi kekasihnya selama satu tahun ini.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Sarah memutuskan untuk menikah muda. Ketika Andre mengajaknya bertunangan, tanpa berpikir dua kali, Sarah langsung mengiyakan.

“Semua sudah siap, Mbak,” suara Tia. 
Adik Sarah yang masih duduk di bangku SMA.

“Oke, aku ke kamar sebentar.” 

Sarah beranjak meninggalkan Tia menuju kamar. Dia melihat kembali riasan wajahnya. Senyum simpul tersungging manis.

“Sarah! Ayo cepat, sebentar lagi keluarga Andre datang!” suara mama terdengar dari luar.

“Iya, Ma, sebentar!”

Sarah segera keluar menuju ruang tamu. Di sana sudah berkumpul papa, mama, Tia. Ada juga Tante Widya dan Om Handi, Tante Lia dan Om Yan. Mereka adalah adik-adik mama yang tinggal satu kota.

“Kamu sudah menghubungi Andre lagi, kan Sar?” tanya mama terdengar cemas.

“Sudah Ma, semalam, Sarah meneleponnya.” Dia menjawab tenang.

Jam di dinding menunjukkan pukul 08.45. Lima belas menit lagi acara pertunangan akan di mulai. Mama berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Wajahnya tampak cemas.

“Kok, mereka belum datang, ya?” Mama bergumam sendiri.

Jam di dinding terus berdetak. Pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Belum ada tanda-tanda kedatangan keluarga Andre.

Sarah merogoh saku bajunya, mengeluarkan telepon seluler miliknya, mencoba menghubungi Andre.

“HP-nya enggak aktif,” ucap Sarah. 

Sarah pun mulai gelisah. Dia melirik ke dinding, pukul sembilan lebih lima puluh menit. Molor dari waktu yang mereka sepakati, yaitu jam sembilan. Semua yang ada di dalam ruangan itu kelihatan resah.

“Coba Mbak, telepon lagi.”

Kali ini, Tia yang bersuara. Sarah kembali menghubungi Andre.

“Masih belum bisa di hubungi, aduh, kenapa, ya?” kata Sarah terdengar cemas.

Di saat semua sedang sibuk berpikir. Tiba-tiba, terdengar suara mobil memasuki halaman.

Tia segera berlari ke pintu, melihat keluar.

“Mereka datang!” ucapnya riang.

“Alhamdulillah, akhirnya datang juga.”

Kali ini papa yang bersuara, setelah sejak tadi diam, menahan rasa khawatir.

“Assalammualaikum,” suara orang memberi salam di teras.

“Waalaikumsalam.” Serentak semua yang ada di dalam ruangan menjawab salam itu.

Tetapi, tiba-tiba, wajah-wajah yang ada di sana terpaku. Ternyata yang datang bukan Andre, melainkan adiknya, Roni.

“Kami mohon maaf karena hari ini Mas Andre tidak bisa datang memenuhi janjinya untuk bertunangan dengan Mbak Sarah.”

Kalimat itu keluar dari mulut Roni dengan terbata-bata.

“Pagi tadi, sebelum berangkat ke sini. Kami tidak menemuķan Mas Andre di mana pun. Namun, kami menemukan ini di atas meja kamarnya,” suara Roni bergetar.

Dia menyerahkan kotak kecil berwarna merah dan sebuah amplop warna cokelat bertuliskan nama Sarah.

“Ini, buat Mbak Sarah.”

Diulurkannya kedua benda itu.

Sarah menerima dengan tangan gemetar. Membuka isinya. Kotak merah kecil berisi sebuah cincin berlian yang cantik. Kemudian, matanya beralih kepada amplop warna cokelat. Dia buka amplop itu, membaca isinya.

‘Sarah sayang, maafkan aku, tidak bisa melanjutkan pertunangan ini karena aku harus bertanggung jawab kepada seorang perempuan yang telah kuhamili. Cincin berlian ini, sebagai hadiah untukmu,
terimalah. Semoga kelak, kamu bertemu dengan orang yang lebih tepat menjadi suamimu.’

Salam, 
Andre.

Sarah merasakan darahnya mendidih membaca surat itu. Dia melihat kembali cincin berlian yang ada di tangannya. Tiba-tiba, dia melemparkan cincin itu dan menjerit keras.

“Dasar! Laki-laki penipuuu!”

Semua yang ada di dalam ruangan terkejut dan saling pandang tak mengerti.

Ulfah Wahyu

Latest posts by Ulfah Wahyu (see all)

Related posts

Leave a Comment