MY SACRIFICE

19 Maret 2219

Laboratorium Flatiron Health, Silicon Valley. USA

 “Selamat datang di kehidupan abadi, Rachel!”  Bill menjabat tangan perempuan berkulit coklat yang terbangun dari sebuah ranjang berselimut kain putih.

“Ayo, kemari, lihatlah dirimu sekarang!” pinta Bill seraya menuntun gadis itu ke arah cermin.

“Rachel Kemala Hayati, welcome to the 23rd century, You look so gorgeous!” puji Bill dengan senyum puas atas hasil proyek spektakularnya terhadap Rachel.

Gadis muda bernama Rachel itu tampak masih bingung dan heran atas apa yang terjadi.  Di hadapan cermin besar ia mendapatkan kembali ingatannya perlahan-lahan, sambil mengamati dengan seksama setiap detail bagian tubuhnya sekarang.

Pada tahun 2019, Rachel adalah seorang janda berusia 40 tahun yang hidup sebatangkara dan tergolek lemah di rumah sakit karena penyakit kanker darah yang menggrogoti.  Ia hidup dalam keputusasaan hingga meminta kepada Dokter Andrew yang merawatnya untuk disuntik mati. 

Beruntung Dokter Andrew memberikan tawaran menarik bagi Rachel, menjadi relawan sebuah proyek rahasia dari Flatiron Health. Proyek ujicoba teknologi panjang umur dengan metode reseverse-engineering sel induk. Bergabung dalam proyek ini merupakan pengorbanan terbesar Rachel untuk mewujudkan impian yang selama hidupnya tidak pernah tercapai.

Rachel dibekukan selama 200 tahun dalam suhu minus 40 derajat celcius. Setelah sebelumnya plasma sel darah Rachel diganti dengan plasma sel imitasi yang tidak dapat rusak.  Organ dalam dan seluruh tubuh Rachel di reset ulang hingga berada pada usia biologis 20 tahun, sesuai keinginannya.   

Thank you Bill, Anda telah mewujudkan impianku, tinggal satu impian yang harus kuperjuangkan …” perkataan Rachel terputus, karena Bill memotongnya.

What next? Kamu telah mendapatkan semuanya, kecantikan, hidup abadi dan juga kekayaan. Rachel kamu sekarang adalah pemilik saham di Google, Inc!” terang Bill menggebu-gebu mengingatkan imbalan yang diperoleh Rachel berdasarkan kesepakatan kontrak dalam proyek itu.

“Oke Bill, sekali lagi terima kasih, tapi ada yang harus ku urus sekarang di Jenewa!” pungkas Rachel.

Virtual travel assistant-ku telah memberi tahu, daun pertama pohon Kastange di samping gedung parlemen Jenewa sudah tumbuh. Musim semi telah tiba, LHC segera dibuka, aku harus bergegas mewujudkan impianku” terang Rachel kemudian.

“Ok, Rachel, I wishing you happy for the trip,” tutup Bill sambil menekan tombol ‘going to office’ pada bayangan virtual travel di hadapannya dan seketika juga ia menghilang.

Rachel pun bergegas menekan tombol ‘going to Jenewa’ pada virtual travel assistant-nya.

Dalam beberapa detik Rachel telah berada di Jenewa, tepat di pintu masuk ke  LHC (Large Hadron Collinder) mesin raksasa yang bekerja menembakkan proton dalam kecepatan yang lebih cepat dari kecepatan cahaya.  Mesin yang dapat membawa seseorang ke masa depan atau masa lalu sesuai permintaan.

“Tolong bawa aku ke tahun 2015, ruang kuliah kriminologi, Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ada seseorang yang harus kujemput di sana” pinta Rachel pada petugas LHC.

“Setelah itu, kembalikan aku pada tahun 2219, kamar 203 hotel Null Stren, Jenewa!” tambah Rachel.  Ia lalu masuk dan duduk dalam LHC, matanya terpejam dengan senyum manis tersungging. Dalam hitungan ketiga petugas LHC menekan tuas ‘on’ dan mesin pun bekerja.

***

Tiga puluh lima menit kemudian

Hotel Null Stern, Jenewa Swiss

Null Stern, hotel tanpa dinding dan tanpa langit-langit.  Hotel yang berdiri di atas ketinggian empat ribu kaki dari permukaan laut itu tampak lengang. Rachel duduk tenang dengan senyuman manis khas tersungging di bibir.  Di hadapannya, duduk kebingungan seorang lelaki yang datang dari masa lalu.

“Rachel Saputra, kau kah ini?” Lelaki itu bertanya seolah tak percaya.

“Iya Fery Kemala Hayati, ini aku, sahabatmu semasa SMU. Kebaikan kamu dan keluargamu mengadopsiku selalu aku kenang.” Rachel berkata dengan rasa haru menyeruak dalam kalbunya.

“ Mengabdi padamu menjadi impian terbesarku sekarang. Ternyata kamu masih sama seperti dahulu. Memanggilku dengan nama belakangmu!” jawab Rachel dengan rona bahagia terpancar dari wajahnya.

“Di mana aku sekarang, Rachel? Aku harus segera ke kampus, masih ada jam ngajar di kelas kriminologi hari ini,” kata lelaki itu dengan cemas.

“Tenanglah sahabat, jangan buru-buru! Mari kita rayakan pertemuan ini dengan menikmati lagu favorit kita,” pinta Rachel.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar lagu my sacrifice dari Creed mengiringi pertemuan mereka.

Hello my Friend we meet again

It’s been a while, where should we begin

Feels like forever

Within my heart are memories

Of perfect love that you gave to me

Oh, I remember

When you are with me, I’m free

I’m careless, I believe

Above all the others we’ll fly

This brings tears to my eyes

My sacrifice

….

(My Sacrifice-Creed)

_END_

#OSOFFday9

#TimeTravel

#Sci-FiGenre

#714kata

 

AnnisaNoorman

simple person with simple life, not perfect but uniq.
Raisha Noorman

Related posts

Leave a Comment