Menunggumu di Masa Depan

“Retha, kapan datang?“ tanya Martin sedikit terkejut karena seminggu yang lalu dia meninggalkan Retha di tahun 1999.

“Tak usah basa-basi Martin! Kenapa kau tinggalkan aku di tahun 1999?“ tanya Retha emosi. Kalau bukan karena Putrajaya dirinya pasti masih berada di masa lalu.

“Siapa yang membawamu kembali?“ tanya Martin tanpa merasa bersalah sedikit pun.

“Itu bukan urusanmu, sekarang jawab aku! Kenapa kau tinggalkan aku?“ bentak Retha.

“Kamu yang memintaku, kemarin kamu bilang, ingin mengetahui seperti apa kehidupan keluargamu di masa lalu,“ jawab Martin, masih tanpa rasa bersalah.

Retha terdiam. Memang benar dia berkata seperti itu, tapi bukan berarti dia mau kembali ke masa primitif itu dan tinggal di sana. Benar-benar tidak masuk akal baginya bila ada orang yang ingin kembali ke masa lalu. Baginya perjalanan ke masa depan lebih menyenangkan.

“Jangan pernah lakukan itu lagi Martin, atau kamu bisa lupakan bea siswa yang ayahku janjikan!” ancam Retha dan berhasil menghilangkan senyum di wajah Martin.

Retha tersenyum puas, Martin pasti tidak menyangka kalau dia mengetahui tentang bea siswa itu.

Ayah memang tidak pernah memberitahunya tentang itu, tapi mesin waktu yang dibuat sang ayah, telah berhasil membawa Retha ke masa depan.

Termasuk hari di mana Martin berhasil memodifikasi mesin waktu yang dibuat ayah Retha menjadi lebih spesifik. Mesin itu bisa membawa kita tidak hanya tahun, bulan, dan tanggal tetapi juga jam yang diinginkan. Hari itu Martin memberitahu dunia bahwa tanpa bea siswa dari ayahnya dia tidak akan berhasil seperti sekarang.

***

Retha kemudian menemui Putrajaya, pria yang berasal dari masa lalu itu, benar-benar takjub melihat teknologi di tahun 2299. Putrajaya tanpa sengaja menemukan pintu ke masa depan.

Pintu itu sengaja ditinggalkan Martin untuk Retha, tanpa memberitahunya.
Sebelum Putrajaya menemukan pintu itu, dia telah menjaga Retha dan mengizinkannya tinggal di rumah orang tuanya. Retha sangat berterima kasih pada pria itu, bahkan mungkin dia jatuh cinta padanya, pada kepolosannya. Tanpanya, Retha tak akan mampu bertahan satu minggu di zaman primitif itu.

“Bolehkah saya pulang sekarang?“ tanya Putrajaya, menyadarkan Retha dari lamunannya.

“Kamu yakin tidak ingin tinggal di sini?“ tanya Retha.

“Ini bukan tempat saya,“ jawab Putrajaya.

“Baiklah, bila itu keinginanmu, akan saya antar kamu pulang, tapi ingatlah, kapan pun kamu ingin ke masa depan, hubungi saya,“ ujar Retha sambil memberikan sebuah kotak pada Putrajaya,
“Dengan kotak ini, kamu bisa menghubungi saya, kapan saja di mana saja.“

Putrajaya mengangguk.

Setelah Putrajaya memasuki mesin waktu, dia masih mendengar Retha mengatakan, “Saya tunggu dirimu di masa depan, Putrajaya.“

***selesai***

 

 

Natasha Panjaitan-Karg

Latest posts by Natasha Panjaitan-Karg (see all)

Related posts

Leave a Comment