Pelatih Baru Ratih

Seorang pemuda berhelm hitam tampak berjalan dari gerbang sekolah menuju ruang kesenian. Pemuda itu menghampiri Ratih dan teman-temannya yang sedang bergerombol.

“Apakah ini anak-anak yang ikut ekstrakurikuler baca puisi?” tanyanya.

“Iya, benar. Maaf, Kakak siapa? Ada apa, ya?” ucap Ratih balik bertanya.

“Kenalkan saya Ardi, pelatih baru. Saya minta maaf, hari ini jadwal latihannya di-cancel dulu dan dimulai minggu depan. Ada keperluan penting yang tidak dapat saya tinggalkan,” papar cowok bernama Ardi itu dengan gamblang.

“Yaaahhh,” keluh Ratih dan teman-temannya hampir bersamaan. Mereka terlihat sangat kecewa.

“Maaf, saya langsung pamit, ya. Sampai jumpa Selasa depan. Terima kasih,” kata Kak Ardi cepat-cepat pergi, sebelum Ratih dan lainnya bertanya lagi.

Ratih enggan beranjak dari tempat duduknya. Wajahnya ditekuk tujuh lipatan karena kesal. Latihan baca puisi hari ini mendadak dibatalkan oleh pelatih baru. Ia merasa dirugikan sebab demi latihan sudah membatalkan acara nonton film bareng papa dan mamanya.

Gadis tanggung itu terus saja menggerutu sambil melempari kolam di taman depan ruang kesenian dengan kerikil.

Mendadak Ratih berdiri lalu berlari mengejar Kak Ardi seraya berteriak,”Kak Ardi, tunggu!”

Kak Ardi yang mendengar namanya dipanggil segera menghentikan langkahnya.

“Ini kunci motor Kakak tertinggal,” kata Ratih menyodorkan kunci itu.

“Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Dek …,” ucap Kak Ardi sambil tersenyum menatap gadis itu.

“Sama-sama, Kak. Nama saya Ratih,” timpal Ratih menyambut senyum Kak Ardi dengan tersipu malu. Entah mengapa hatinya sekonyong-konyong diliputi rasa malu yang sangat.

Gadis itu baru menyadari kalau senyum Kak Ardi sangat menawan. Dan tatapan matanya membuat hati Ratih kebat-kebit.

“Pulang, yuk! Tinggal kita berdua, Rat. Yang lain sudah pada pulang, loh,” seru Fitri dari kejauhan, mengingatkan Ratih.

Ratih tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya.

Senyum dan tatapan Kak Ardi tersemat indah di angan Ratih.

***

Minggu pagi yang cerah membawa keberuntungan bagi Ratih dan Fitri. Hari ini Kak Nunik akan mengajak mereka menonton acara musikalisasi puisi di kampusnya. Betapa senangnya mereka.

Kak Nunik adalah pelatih baca puisi yang telah mengundurkan diri. Ia tidak bisa melatih lagi karena harus menyelesaikan skripsinya yang sempat tertunda.

Kak Ardi sebagai pelatih pengganti, siang ini akan mengadakan pentas musikalisasi puisi bersama teman kelompoknya di kampus. Ratih dan Fitri diundang khusus oleh Kak Nunik dan Kak Ardi.

Ratih dalam hatinya merasa bingung harus bersikap bagaimana jika nanti bertemu dengan Kak Ardi. Ia tidak mau tertangkap basah oleh Fitri dan Kak Nunik sedang grogi dan salah tingkah.

Gadis itu mencoba menepis rasa bimbang yang menyerang batinnya. Dia akan bersikap seolah-olah semua biasa saja. Meskipun, sebenarnya memperhatikan pelatih baru itu dengan segenap perasaan. Di dasar hatinya, diam-diam Ratih berdoa semoga Kak Ardi pun menyukainya.

Beginikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?

Bandung, 18 April 2019

***



titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment