Bukan Dia

Vika tersenyum lega. Acara workshop telah berjalan lancar sesuai rencana. Hanya waktunya saja yang mundur satu jam karena menunggu narasumber yang belum hadir. Namun, secara umum sukses.

Kali ini tim registrasi terlihat lebih kompak dari sebelumnya. Meskipun belum terjalin kedekatan yang baik layaknya sebuah tim, minimal setiap anggotanya mampu melaksanakan tugas masing-masing dengan tanggung jawab. Vika mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota timnya.

Pengalaman memberinya pelajaran bahwa membangun tim kerja yang solid tidak segampang yang dibayangkan. Apalagi jika anggotanya belum saling mengenal satu sama lain. Diperlukan adanya proses interaksi yang intens untuk menjalin kebersamaan atas dasar kepercayaan.

***

Ada kegelisahan yang tersimpan di mata Vika. Sebagai koordinator tim registrasi ia merasa dipecundangi. Sudah dua kali kejadian serupa menimpanya. Tapi perbuatan siapa?

Vika menatap tumpukan kertas di meja registrasi, dan sebuah map folder warna merah yang seolah mengejeknya.

“Gimana, Vik? Apakah name tag dan paper bagnya sudah dicek lagi?” tanya Rio seraya duduk di sebelah kirinya.

“Eh, kamu. Ngagetin aja. Alhamdulillah, sudah. Yang di karung ini, untuk cadangan, lho. Antisipasi kalau ada peserta tambahan,” papar Vika sambil menunjuk dua buah karung kecil seukuran karung beras 25 kg di samping kanannya.

“Oke, Syantiiik. Sekarang tugas aku apa?” tanya Rio yang disambut senyum manis Vika.

“Tolong kamu cari Desi, ya. Tadi pamit sarapan tapi belum nongol sampai sekarang. Minta dia untuk segera standby di meja dua. Sebentar lagi registrasi peserta akan dibuka. Jangan sampai keduluan mereka,” pinta Vika selanjutnya.

“Baik, Mbak Koordinator,” jawab Rio sambil ngeloyor pergi.

Sebenarnya Vika merasa kurang sreg kepada Desi, anak baru yang ditugaskan membantunya di meja registrasi bersama Rio. Entah kenapa, sebagian hatinya menolak kehadiran gadis tersebut. Apakah mungkin Desi pelakunya? Bagaimana cara Desi mencuri data? Impossible.

Vika menghela napas panjang untuk mengurangi sesak yang menghimpit dada. Dibuangnya jauh-jauh perasaan negatif dan prasangka buruk yang mulai meneror kepalanya.

***

Rapat belum dimulai. Vika masih duduk di kantin sambil menikmati secangkir kopi susu kesukaannya dengan raut gelisah. Di benaknya masih terpampang jelas bagaimana ia dipermalukan. Berkas laporan yang disusunnya hilang. Tetapi anehnya pihak manajemen memberikan reward kepada tim registrasi karena telah menyelesaikan laporan tepat waktu dan lengkap. Belakangan Vika baru tahu kalau Desi yang telah membuat laporan atas nama tim.

Tampak dari kejauhan Rio melambaikan tangan mengajaknya segera bergabung. Artinya rapat evaluasi akan segera diawali. Semua kru ternyata telah hadir di ruang rapat yang berukuran 8 x 6 meter itu. Mereka sudah siap dengan bahan laporan masing-masing.

Kali ini Vika telah menyiapkan bahan presentasi yang berbeda dari biasanya. Dia tidak mau terulang pengalaman kelabu yang terjadi sepekan lalu. Bagaimanapun caranya ia bertekad menemukan sang pengacau dunianya.

Sementara itu, di ruang kerja Vika tampak seseorang tengah menutup notebook merah muda yang tersimpan di atas meja dengan hati-hati. Ditatanya semua benda yang ada di ruang itu seperti sediakala. Lalu, ia kembali ke dapur menyiapkan snack dan minuman untuk semua kru yang sedang rapat.

Bandung, 11 April 2019

titik jeha
titik jeha

Latest posts by titik jeha (see all)

Related posts

Leave a Comment